TNI Manunggal Membangun Desa Adakan Sosialisasi Bahaya Narkoba

TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-106 tahun 2019 saat memberikan sosialisasi di Desa Sangup, Kecamatan Tamansari, Boyolali, Rabu (9/10/2019). (Foto: Humas Boyolali)

Tamansari – Gelaran TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-106 tahun 2019 di Desa Sangup, Kecamatan Tamansari, Boyolali diwarnai kegiatan sosialisasi dari Polres Boyolali dan Kodim 0724/Boyolali mengenai bela negara dan penyalahgunaan narkoba. Acara yang diikuti oleh seluruh siswa dari SMP Negeri 1 Tamansari Satu Atap tersebut digelar di Balai Desa setempat pada Rabu (9/10/2019).

Penyuluhan pertama yang mengangkat tema Pembinaan dan Penyuluhan Pencegahan Pemberantasan Penyalagunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) disampaikan oleh Kasatnarkoba Polres Boyolali, Iptu. Is Udroso Hargo Suseno, yang menjelaskan bahwa narkoba memiliki sifat kecanduan di mana setiap pengguna akan mengalami sakit dan lebih parahnya mengakibatkan kematian.

Hal tersebut membuat adanya sosialisasi tentang pencegahan dan penyalahgunaan narkoba menjadi hal yang vital. “Narkoba memiliki jenis-jenisnya tersendiri, sehingga generasi muda harus mengerti dan paham akan jenis narkoba serta seberapa bahaya terhadap diri kita sendiri dan lingkungan kita,” terang Iptu Is Udroso sebagaimana dilansir dari laman Pemerintah Kabupaten Boyolali. Pada kesempatan, disosialisasikan pula informasi terkait pendaftaran anggota Tentara Nasional Indonesia dan pengarahan kepada para siswa mengenai bagaimana alur penerimaan calon anggota TNI.

Indonesia Darurat Penyalahgunaan Narkoba

Narkoba adalah zat yang jika dimasukan dalam tubuh manusia, baik secara oral/diminum, dihirup, maupun disuntikan, dapat mengubah pikiran, suasana hati atau perasaan, dan perilaku seseorang. Narkoba dapat menimbulkan ketergantungan (adiksi) fisik dan psikologis. Narkoba merupakan obat-obatan yang sering disalahgunakan dan dapat mengakibatkan kematian. Permasalahan narkoba di Indonesia masih menjadi sesuatu yang bersifat urgent dan kompleks. Selama kurun waktu satu dekade terakhir, permasalahan ini menjadi marak terbukti dari bertambahnya jumlah penyalahguna atau pecandu narkoba secara signifikan, seiring meningkatnya pengungkapan kasus tindak kejahatan narkoba yang semakin beragam polanya dan semakin masif pula jaringan sindikatnya.

Masyarakat Indonesia saat ini sedang dihadapkan pada keadaan yang mengkhawatirkan akibat maraknya pemakaian bermacam-macam jenis narkoba secara ilegal. Kekhawatiran ini semakin meningkat akibat maraknya peredaran gelap narkotika yang telah merebak di segala lapisan masyarakat, termasuk di kalangan generasi muda, yang pasti akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan bangsa dan negara pada masa mendatang. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) 2,2% dari total populasi orang di Indonesia terjerat narkoba. Hal itu berdasarkan hasil penelitian terbaru BNN dan Universitas Indonesia (UI). Sementara itu di Provinsi Jawa Tengah, terdapat sekitar 500 ribu penduduk yang terlibat dalam penyalahgunaan obat-obatan terlarang tersebut.

Masalah penyalahgunaan narkoba di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Hal ini disebabkan beberapa hal antara lain karena Indonesia yang terletak pada posisi di antara tiga benua dan mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pengaruh globalisasi, arus transportasi yang sangat maju dan penggeseran nilai materialistis dengan dinamika sasaran opini peredaran gelap narkoba (Amanda, Humaedi, & Santoso, 2017). Adapun penyebab terjerumusnya seseorang dalam penyalahgunaan narkoba menurut Libertus Jehani dan Antoro (2006) disebabkan oleh banyak faktor, baik internal dan eksternal seperti faktor kepribadian, keluarga, ekonomi, pergaulan, dan sosial masyarakat.

Perlu Pencegahan Masif

Perilaku sebagian remaja yang telah jauh mengabaikan nilai-nilai kaidah dan norma serta hukum yang berlaku di tengah kehidupan masyarakat menjadi salah satu penyebab maraknya penggunaan narkoba di kalangan generasi muda. Harus disadari bahwa masalah penyalahgunaan narkoba adalah suatu problema yang sangat kompleks, oleh karena itu diperlukan upaya dan dukungan dari semua pihak agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

Dalam penelitian yang berjudul Penyalahgunaan Narkoba Di Kalangan Remaja (Adolescent Substance Abuse), Amanda, Humaedi, & Santoso (2017) menawarkan upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba untuk mencegah penggunaan dan membantu remaja yang sudah terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba. Penanggulangan penyalahgunaan narkoba sendiri sebenarnya bukan saja merupakan tanggung jawab pemerintah, namun upaya tersebut pun merupakan tanggung jawab masyarakat umum yang diawali dari kelompok terkecil yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat tempat para remaja mengaktualisasikan dirinya.

Ada tiga tingkat intervensi yang dapat dilakukan dalam menanggulangi masalah penyalahgunaan narkoba, yaitu primer, sebelum penyalahgunaan terjadi, atau disebut sebagai fungsi preventif. Biasanya dalam bentuk pendidikan, penyebaran informasi mengenai bahaya narkoba, pendekatan melalui keluarga, dll. Instansi pemerintah, seperti halnya BKKBN, lebih banyak berperan pada tahap intervensi ini. Sekunder, pada saat penggunaan sudah terjadi dan diperlukan upaya penyembuhan (treatment), dan tersier, yaitu upaya untuk merehabilitasi mereka yang sudah memakai dan dalam proses penyembuhan. Selain itu, permasalahan remaja tersebut juga dapat diupayakan dengan tiga pendekatan, yaitu pendekatan agama, psikologis, dan sosial.