Pendidikan ABK, Ketua RBM Sukoharjo Beri Saran Utamakan Peran Keluarga

Ketua Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) Kabupaten Sukoharjo Etik Suryani bersama peserta kegiatan Super Mom yang digelar di Carefour Mall, Solo Baru, Grogol, Sukoharjo, Rabu (23/10/2019). (Foto: Humas Sukoharjo)

Grogol – Ketua Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) Kabupaten Sukoharjo Etik Suryani mengimbau kepada orang tua agar memaksimalkan peran keluarga dalam implementasi pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Sebab, di rumah merupakan tempat meluangkan waktu sebagian besar waktu untuk memandirikan anak berkebutuhan khusus.

“Keluarga di rumah tempat penerapan pendidikan dan pengembangan kreativitas anak berkebutuhan khusus pertama dan utama bagi anak-anak berkebutuhan khusus,” terang Etik, dikutip dari laman resmi Pemkab Sukoharjo.

Imbauan tersebut disampaikannya dalam kegiatan Super Mom yang digelar di Carefour Mall, Solo Baru, Grogol, Sukoharjo, Rabu (23/10/2019). Dirinya berharap, kegiatan ini dapat meningkatkan kreativitas anak dalam menuangkan imajinasinya, serta melatih kepercayaan diri dengan memberikan apresiasi terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Emmy Dwi Hastuti, selain memberikan manfaat bagi anak berkebutuhan khusus, kegiatan ini juga memberkan pengetahuan bagi pihak orang tua tentang hak dan perlindungan, kesehatan, tumbuh kembang, maupun pendidikan bagi ABK.

“Dengan mengambil tema Super Mom, karena orang tua yang memiliki ABK itu super hebat. Tidak semua orang tua bisa menjalaninya. Kegiatan ini juga di-support oleh Bapak Bupati, Ketua RBM, dan instansi terkait lainnya,” kata Emmy.

Dukungan Sosial Juga Perlu

Memiliki anak yang berkebutuhan khusus mempengaruhi ibu, ayah, dan semua keluarga dengan cara yang bervariasi. Tidak ada yang lebih terkena dampak dari adanya seorang anak berkebutuhan khusus daripada keluaganya sendiri. Orang tua di samping harus menghadapi dinamika psikologis mereka sendiri juga harus menghadapi berbagai tuntutan eksternal, salah satunya adalah respon masyarakat. Kurangnya edukasi mengenai anak berkebutuhan khusus kadang membuat respon masyarakat menjadi tidak sepantasnya dan kejam terhadap keluarga ABK, atau bahkan terhadap anak berkebutuhan khusus itu sendiri. Reaksi demikian tidak jarang menjadi salah satu pemicu stressor atau tekanan terhadap keluarga anak berkebutuhan khusus.

Beberapa dimensi yang mempengaruhi ketahanan suatu keluarga dalam menghadapi stressor menurut McCubbin dkk (2001) di antaranya yakni dimensi terkait tuntutan yang dihadapi (stressor dan ketegangan), dimensi yang terkait dukungan sosial yang dimiliki keluarga (dukungan kerabat, teman dan komunitas), dimensi terkait ketangguhan keluarga, koherensi keluarga dan maladaptasi yang dialami keluarga. Dalam hal ini, dukungan sosial menjadi suatu hal yang vital. Dukungan sosial meliputi dukungan emosional, informasi, atau bisa juga alat bantu yang diberikan. Berbeda dari dukungan professional, dukungan sosial ini lebih bersifat informal dan dapat berasal dari keluarga besar, kelompok agama/spiritual, teman, tetangga, dan kelompok sosial lainnya.

Menurut Hidayati (2011) dalam penelitiannya yang berjudul Dukungan Sosial bagi Keluarga Anak Berkebutuhan Khusus, meskipun setiap keluarga mempunyai proses penyesuaian masing-masing terhadap peristiwa kehidupan yang dialaminya, anak berkebutuhan khusus dapat memperoleh keuntungan besar dari dukungan sosial yang diberikan oleh orang lain. Tersedianya dukungan sosial untuk mereka yang mengalami krisis secara umum juga akan meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kualitas kehidupan keluarga. Dukungan sosial untuk keluarga dengan anak berkebutuhan khusus menjadi hal yang bermakna dalam mendukung ketahanan keluarga dalam menghadapi beragam stressor dan tantangan kehidupan.