Pemkab Karanganyar Lestarikan Budaya Wayang Kulit

Simbolis penyerahan tokoh wayang oleh Ki Begug Purnomo Sidi kepada Dalang Halintar Cokro saat gelaran wayang kulit malam rabu pon di Monumen Ibu Tien Suharto Jaten, Selasa (29/10/19). (Foto: Diskominfo Karanganyar)

Jaten – Pemerintah Kabupaten Karanganyar gelar acara wayangan dengan Lakon Ponco Driyo Lair yang dibawakan dalang muda Halintar Cokro, di Monumen Ibu Tien Suharto Jaten, Selasa (29/10/19). Nguri uri kabudayan jawi menjadi program kerja Pemerintah Kabupaten Karanganyar, khususnya budaya wayang kulit, dengan pagelaran wayangan rutin di Monumen Ibu Tien Suharto Jaten setiap malam Rabu Pon.

“Nguri uri kabudayan jawi lewat wayang kulit agar budaya wayangan tidak luntur,” jelas Ki Begug, dikutip dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Karanganyar. Mantan bupati Wonogiri, Ki Begug Purnomo Sidi turut hadir dan menyampaikan bahwa Monumen Ibu Tien Suharto di Jaten sudah menjadi kesepakatan antara Pemerintah Karanganyar dengan beliau untuk dijadikan ajang gelar budaya khususnya di Karanganyar. Bekerjasama dengan Institut Seni Indonesia Surakarta, kegiatan wayangan selalu dihadiri mahasiswa dari luar Indonesia yang ingin belajar wayang kulit.

Drs. Tarsa, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karanganyar yang mewakili Bupati Karanganyar membenarkan bahwa Monumen Jaten telah menjadi perhatian Pemkab Karanganyar untuk pelestarian budaya khususnya wayang kulit. “Setiap malam Rabu pon menjadi kesepakatan untuk digelar acara wayangan di monumen ini dengan harapan masyarakat makin mencintai budaya wayang kulit,” terangnya. Kadisdikbud Tarsa juga menyampaikan informasi kepada masyarakat yang hadir malam itu untuk ikut memeriahkan gelaran wayang kulit semalam suntuk dengan 17 dalang yang akan dihelat di pelataran alun-alun Karanganyar saat perayaan hari wayang dunia November kelak.

Potensi Wayang: Kearifan Lokal Sumber Pendidikan Budi Pekerti

Jawa, menyimpan segudang potensi berbasis kearifan lokal. Wayang sebagai salah satunya, berkembang dengan pesat sejak dulu dan tak mati hingga sekarang. Data yang diperoleh di Museum Ronggowarsito Semarang, menunjukkan betapa kayanya potensi tersebut. Secara umum, perkataan ”wayang” mengandung sejumlah pengertian. Pengertian pertama, ialah ’gambaran tentang suatu tokoh’, ’boneka’, lebih tegas lagi adalah boneka pertunjukan wayang. Pengertian ini kemudian meluas sehingga meliputi juga pertunjukan yang dimainkan dengan boneka-boneka tersebut, demikian pula, lebih luas lagi adalah bentuk-bentuk seni drama tertentu. Dengan demikian di samping wayang kulit, yaitu boneka-boneka kulit berpahat yang diproyeksikan di atas kelir dengan bantuan sebuah lampu, adalah wayang krucil yang menggunakan boneka-boneka kayu pipih bercat warna-warni (klithik), dan wayang golek yang menggunakan boneka kayu tiga dimensi yang berbusana dan tanpa menggunakan layar (kelir).

Perkataan wayang lainnya—sekalipun bukan dalam pengertian ini pembahasan dilakukan—adalah wayang beber (mbeber), yaitu suatu bentuk pertunjukan dengan seorang dhalang mengisahkan sebuah cerita berdasarkan adegan-adegan cerita yang dilukis pada kain atau kertas. Selain itu, juga ada wayang wong yang para pelakunya adalah orang (wong) bukan boneka, dan wayang topeng dengan pelaku-pelaku utama selalu memakai topeng (van Groenendael, 1987).

Dalam pengertian kebudayaan senantiasa terkandung tiga aspek penting, yaitu: (1) kebudayaan dialihkan dari satu generasi ke generasi lainnya, dalam hal ini kebudayaan dipandang sebagai suatu warisan atau tradisi sosial, (2) kebudayaan dipelajari, dalam hal ini bukanlah sesuatu yang diturunkan dari keadaan jasmani manusia yang bersifat genetik, dan (3) kebudayaan dihayati dan dimiliki bersama oleh warga masyarakat pemiliknya. Dalam pengertian tersebut tersirat bahwa proses pengalihan kebudayaan senantiasa terjadi melalui proses pendidikan (Rohidi, 2014).

Terdapat nilai-nilai yang terkandung di dalam wayang menurut Satorso & Murtiyoso (2008) dalam Shadow-Puppet Play As Source And Material For Local Culture-Based Ethics Learning, di antaranya adalah: a) nilai ketuhanan (religi) wayang banyak mengandung nilai-nilai ketuhanan. Misalnya dalam adegan “kondur angedaton” dalam jejer pertama, selalu digambarkan raja akan melakukan semedi di sanggar pamujan untuk memohon petunjuk dari Tuhan YME mohon keselamatan atau agar kehendaknya dapat dikabulkan, b) nilai kepribadian dan kemandirian, c) nilai kesetiaan: kisah ramayana, d) nilai kebenaran sebagaimana alur besar cerita dari kitab Mahabarata dan Ramayana menggambarkan kemenangan kebenaran atas keangkaramurkaan atau kebatilan, e) nilai kemandirian, dan f) nilai sosial atau kesusilaan yang dalam wayang, nilai sosial ini memiliki hubungan yang erat dengan nilai ketuhanan.