Pelaku UMKM Karanganyar Ikuti Pelatihan Bisnis Online

Bagian Perekonomian Pemkab Karanganyar menggelar pembinaan UMKM untuk mendorong geliat perekonomian di daerah. (Foto: Diskominfo Karanganyar)

Tasikmadu – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar menggelar pelatihan bisnis online bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Aula Kantor PD BKK Tasikmadu, Senin (7/10/2019). Pelatihan ini diselenggarakan untuk mendorong pelaku UMKM agar mampu mengembangkan usahanya, terutama di era digital.

Kabag Perekonomian Kabupaten Karanganyar Nur Aini mengatakan, era digital memberikan tuntutan yang berbeda terhadap para pelaku UMKM masa kini. Sekarang semuanya sudah serba go online, sehingga siapapun yang tidak bisa mengikuti perkembangan yang ada, akan tertinggal. “Kami ingin mendorong geliat perekonomian masing-masing pelaku bisnis atau UMKM agar bisa lebih berkembang lagi usahanya,” terang Nur Aini, dikutip dari laman resmi Pemkab Karanganyar.

Menurutnya, yang menjadi penghambat saat ini adalah, tidak sedikit pelaku UMKM yang terbiasa dengan kecanggihan teknologi, sehingga mereka gagap dalam mengoperasikan internet. Padahal, teknologi bisa membantu meringankan pekerjaan, serta membantu mengembangkan bisnis para pelaku UMKM tersebut.

“Meningkatkan keterampilan dengan sistem digital secara online memang menuntut para pelaku UMKM cerdas dan mahir, serta paham betul peran digital bagi bisnisnya. Ketika usaha sudah go online, maka tidak dipungkiri bisa menuju go nasional bahkan go Internasional,” imbuhnya.

Pelatihan tersebut diikuti sebanyak 100 pelaku UMKM yang ada di Kabupaten Karanganyar. Dengan mengundang pemateri dari tim Google Indonesia yang tergabung dalam Gapuro Digital Solo, para pelaku UMKM yang hadir diberikan banyak materi mengenai bisnis e-commerce secara gamblang, untuk memudahkan pelaku UMKM dalam memasarkan usahanya.

Go Online Saja tidak Cukup

Hingga saat ini, masih banyak UMKM yang belum bergabung dengan e-commerce. Dari 58 juta UMKM yang ada di Indonesia, UMKM yang bergabung dengan e-commerce baru sebanyak 8 juta. Angka ini setara dengan 14%. Data ini sempat disampaikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) kepada publik saat penandatanganan perjanjian kerja sama fasilitasi UMKM go online dengan Shopee pada Juli lalu.

“Targetnya kan sudah tercapai 8 juta kemarin. Di platform itu sudah melebihi. Tapi kan jumlah UMKM kita banyak. Data dari BPS 58 juta. Tapi kita baru 8 jutaan lebih sekarang ini,” terang Direktur Jenderal (Dirjen) Aplikasi dan Informatika (Aptika) Kominfo Samuel Abrijani Pangarepan.

Kominfo sejatinya sudah menginisiasi program UMKM go online sejak setahun lalu. Adapun market place yang sudah digandeng di antaranya, Tokopedia, Bukalapak, Blibli.com, Blanja.com, dan Shopee. Kerja sama ini dilakukan guna menambah banyak jumlah UMKM yang menjual dagangannya via e-commerce. “Mereka (e-commerce) punya program yang terkait UMKM go online. Kami beri bantuan memperkenalkan dengan pemda-pemda, misalnya,” ujar Samuel.

Namun demikian, Samuel menjabarkan go online saja tidak cukup. E-commerce harus mampu membuat produk-produk lokal meningkatkan penjualannya. Salah satu caranya, menurut Samuel, ialah dengan membagikan data tren produk apa yang dicari pembeli, sehingga produk tersebut bisa disediakan oleh pelaku usaha.

“Yang namanya platform kan punya data base (big data), bagaimana sih karakteristik tren kali ini. Jangan produk yang tidak disukai terus diproduksi akhirnya tidak bisa dijual,” terang Samuel dalam rilis Kominfo.

Tren penjualan di e-commerce saat ini dari waktu ke waktu semakin mudah. Bahkan, seorang kurator/agregator bisa menjual barang tanpa memproduksi barangnya. Kesulitan yang ada di industri e-commerce saat ini adalah persaingan. “Makanya perlu data-data tambahan kepada UMKM supaya mereka bisa bersaing lebih bagus di dalam marketnya. Itu harus ada feedback dari platform. Platform memberikan,” jelas Samuel.

Samuel mengakui hingga saat ini belum ada platform e-commerce yang memberikan data kepada pelaku usaha terdaftar. Padahal, platform juga memiliki kepentingan. Hal itu sudah dilakukan market place di negara-negara lain. Menurut Samuel, Indonesia harus mampu menjadi seperti negara-negara tersebut.

“Sales terjadinya di platformnya, untuk sales bisa terjadi harus ada produk-produk yang disukai oleh komunitasnya. Yang tahu belanja di komunitas ini kan mereka (platform) seleranya bagaimana,” tambahnya.