Menuju Penerapan Kurikulum 4.0, Dosen FMIPA UNS Kenalkan Edupaudi

Serah terima penggunaan media belajar online secara simbolik dari Perwakilan UNS, Fendi Aji Purnomo, S.Si., M.Eng kepada Pimpinan HIMPAUDI kec. Colomadu dan KB Ayah Bunda Colomadu, Minggu (27/10/2019). (Foto: Humas UNS)

Colomadu – Memasuki era inovasi pembelajaran 4.0, penggiat IT dari Prodi Diploma III Teknik Informatika Universitas Sebelas Maret menciptakan sumber belajar terbuka bagi guru-guru dan masyarakat berupa edupaudi.id. Sosialisasi dan diskusi penggunaan aplikasi media online edupaudi.id muncul untuk menjawab tantangan pengembangan media ajar digital khususnya bagi para pendidik. Pelatihan yang diikuti lebih dari 55 guru yang tergabung dalam HIMPAUDI Kec. Colomadu, serta perwakilan dosen dari Prodi Diploma III Teknik Informatika FMIPA UNS Bp. Agus Purbayu, M.Kom tersebut dilakukan di KB Ayah Bunda Colomadu Kab. Karanganyar, Minggu (27/10/2019).

Hambatan bagi para guru dalam mencari referensi sumber belajar untuk diimplementasikan dalam keseharian, dijawab oleh edupaudi.id yang muncul sebagai wadah untuk mempublikasikan proses pembelajaran yang telah dilakukan guru-guru terhadap anak didik. Dikutip dari situs resmi Universitas Sebelas Maret, fitur yang disediakan edupaudi.id berisikan video edukasi, artikel edukasi, audio edukasi, dan gambar edukasi. Diawali dari guru-guru yang tergabung dalam HIMPAUDI Kec. Colomadu media ini digunakan untuk mempublikasikan hasil proses belajar di masing-masing sekolah.

Harapan dari hadirnya media ini dapat dijadikan sumber belajar serta sumber motivasi bagi guru-guru atau masyarakat untuk menggunakan IT dalam menerapkan pembelajaran karakter bagi anak didik. Member yang dapat menjadi kontributor dalam edupaudi.id tidak terbatas guru dari HIMAPUDI kec. Colomadu saja, tetapi juga semua guru secara nasional dengan motivasinya untuk mengembangkan pendidikan dapat menjadi member dan menggunakan media ini untuk mempublikasikan hasil belajarnya.

Perbaikan Sumber Daya

Revolusi industri 4.0 merupakan konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh ekonom asal Jerman, Profesor Klaus Schwab dalam bukunya yang bertajuk “The Fourth Industrial Revolution”, Klaus mengungkap empat tahap revolusi industri yang setiap tahapannya dapat mengubah hidup dan cara kerja manusia. Revolusi industri 4.0 sendiri merupakan tahap terakhir dalam konsep ini setelah tahapan pada abad ke-18, ke-20, dan awal 1970.

Setelah melalui tiga tahap evolusi industri tersebut, tahun 2018 disebut sebagai awal zaman revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan sistem cyber-physical. Kini berbagai industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin, dan data yang lebih dikenal dengan nama Internet of Things (IoT). Untuk menghadapi revolusi industri 4.0, diperlukan berbagai persiapan, termasuk metode pembelajaran pendidikan yang tepat. Seiring dengan hal tersebut, kemampuan untuk mengintegrasikan antara teori dan praktek, belajar untuk bekerja secara independen, serta berkomunikasi secara lisan dan tulisan amat diperlukan dalam menghadapi tantangan global/era industri 4.0.

Kurikulum program studi selayaknya ditinjau secara periodik guna menyesuaikan tuntutan dan perubahan sosial yang ada di era masyarakat digital. Era 4.0 mengantar pembelajar tidak lagi dapat belajar dengan ego keilmuan bidang ilmu masing-maing tetapi harus menggandeng dengan bidang ilmu-ilmu lain untuk melihat eksistensi dari sebuah kerja-kerja kolaboratif keilmuan. Diperlukan pula upaya dalam mendalami bagaimana cara bersikap, dan berperilaku sosial  para generasi mileneal  yang tidak bisa dipaksakan keinginannya sesuai dengan kondisi saat ini  tapi diperlukan ruang-ruang publik  yang lebih luas dibandingkan dengan pembelajaran di ruang-ruang kelas. Selain itu juga diperlukan bekerja dengan berbagai disiplin ilmu merupakan bagian dari pengembangan ilmu sehingga  ilmu-ilmu tertentu saling berhubungan atau bersinggungan bahkan merger dengan mata kuliah sebagai salah satu skill para lulusan nantinya.