Kampung Batik Laweyan Kini Miliki Toilet Wisata

Toilet wisata di Kampung Batik Laweyan. (Foto: Humas Surakarta)

Laweyan – Kampung Batik Laweyan kini memiliki toilet wisata untuk memenuhi kebutuhan sanitasi para wisatawan. Bertepatan dengan perinagatn Hari Batik Nasional pada Rabu (2/10/2019), toilet wisata tersebut diresmikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Hasta Gunawan di Jembatan Wulung Kecamatan Laweyan, Surakarta.

Melalui keterangan tertulis di laman Pemkot Surakarta, Hasta menjelaskan, penyediaan fasilitas publik termasuk toilet merupakan suatu hal yang wajib ada dalam mewujudkan masyarakat yang waras. Toilet merupakan fasilitas kesehatan yang mendasar bagi manusia karena tidak setiap rumah tangga memiliki toilet sendiri. Penyediaan fasilitas publik ini dibuktikan dengan adanya toilet komunal di wilayah yang padat penduduknya.

Sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kota Solo, imbuh Hasta, Kampung Batik Laweyan perlu meningkatkan amunitas pariwisata seperti tempat makan, kuliner, fasilits umum lainnya seperti tempat ibadah, taman, dan penyediaan toilet untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Kampung Batik Laweyan.

Ia pun mengajak masyarakat setempat untuk terus melestarikan lima budaya masyarakat Solo, yaitu budaya gotong-royong, budaya memiliki, budaya merawat, budaya menjaga, dan budaya mengamankan Kota Solo beserta isinya. “Marilah kita jaga dan rawat bersama toilet yang telah dibangun ini. Jangan sampai hanya membangun saja setelah itu dibiarkan begitu saja,” imbau Hasta.

Toilet Bersih adalah Kebutuhan Dunia Pariwisata

Toilet memiliki peran yang sangat penting di dunia pariwisata. Bahkan toilet merupakan kebutuhan bagi majunya pariwisata di suatu negara. “Tanpa disengaja, toilet memengaruhi tingkat penjualan sebuah tempat,” terang Sekretaris Jenderal Asosiasi Toilet Indonesia (ATI) Enny Herawati.

Setidaknya, kata Enny, ada tiga macam tempat dunia pariwisata yang penting untuk diperhatikan toiletnya, yakni bandara, tujuan wisata, dan toilet umum atau public toilet. Menurut pantauan ATI, ketiganya mencapai perbaikan yang signifikan sejak kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

Namun, lanjut Enny, masih ada tempat-tempat bagian dunia pariwisata yang masih perlu banyak perbaikan, yaitu kapal laut, pelabuhan, bus, dan terminal bus. “Untuk on board toilet, kereta api yang sudah bagus,” imbuh Enny.

Toilet sendiri adalah bagian dari sanitasi. Toilet seharusnya bukan hanya dipandang sebagai tempat buang hajat semata. Toilet adalah bagian dari kebersihan dan pelayanan. “Masalah toilet adalah perawatan,” kata Enny. Menurutnya, minimal untuk perawatan toilet adalah dibersihkan. Tidak perlu ada kimiawi, asal ada air.

Selain komitmen dari pengelola, budaya lokal juga harus dibangun. Pengguna juga harus bertanggung jawab. Jangan sampai meninggalkan jejak dalam toilet. “Bagaimana dengan biaya perawatan? Asal bersih, disuruh bayar pun kita mau kan? Bisa juga pakai iklan dalam toilet. Banyak pengelola toilet yang belum sadar bahwa ini (iklan) bisa dilakukan,” pungkasnya.

Selain kualitas, jumlah toilet juga harus diperhitungkan, termasuk posisi tempa toilet berada. Toilet, lanjut Enny, adalah sapta pesona. Jika toilet bersih dan bagus, destinasi wisata maupun tempat lain punakan memiliki kesan yang baik pula.