Papan Baca Tumbuhkan Minat Baca Warga Sragen

Foto: Diskominfo Sragen

Sragen – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sragen menyediakan papan baca yang telah tersebar di empat titik, yaitu di Stadion Taruna, Masjid Raya Al-Falah, Taman Tirtasari Sukowati, dan Taman Krido Anggo. Disediakannya papan baca bertujuan untuk memfasilitasi akses informasi serta menumbuhkan minat baca masyarakat .

Selain itu, papan baca tersebut juga bisa dijadikan sebagai media bagi Pemkab dalam mensosialisasikan program-program dan pencapaian pembangunan kepada masyarakat. Dari keterangan tertulis di website resmi Pemkab Sragen, titik yang paling banyak pembacanya yaitu di Masjid Raya Al-Falah. Hal tersebut karena dipengaruhi banyaknya jamaah masjid yang menyempatkan untuk membaca.

Titik selanjutnya yaitu di Taman Tirtasari Sukowati. Hal ini disebabkan selain banyaknya jumlah pengunjung taman yang datang, minat baca di sana juga tinggi. “Saya sangat terbantu dengan adanya papan baca ini, karena berita tiap harinya selalu update,” ujar Kasrun, Tukang Parkir Taman Tirtasari Sukowati.

Meningkatkan Gairah Membaca

Berdasarkan daftar World’s Most Literate Nations Ranked pada 2016, Indonesia menempati posisi 60 dari 62 negara. Dari daftar hasil penelitian President Central Connecticut State University John W. Miller ini bisa disimpulkan bahwa tingkat literasi di Indonesia masih rendah.

Di kota-kota besar, fenomena ini mungkin jarang terlihat. Namun di daerah, minat baca masyarakat masih sangat kurang. Pengamat literasi Anisa Anggi Dinda menilai hal ini bisa diubahm yaitu dengan melakukan integrasi terstruktur dari pusat ke daerah, serta memaksimalkan fasilitas yang ada. Termasuk berkolaborasi dengan aktivis, baik badan maupun perseorangan, untuk bisa meningkatkan minat baca di Indonesia, terutama di daerah-daerah.

Anisa menyebutkan setidaknya ada empat hal yang bisa dilakukan agar minat baca masyarakat di semua kalangan bisa lebih tinggi. Pertama, mengintegrasikan perpustakaan di setiap tingkat daerah. Masalah yang dialami oleh orang yang tinggal di pedesaan adalah minimnya fasilitas dan koleksi buku di perpustakaan yang ada di dekat mereka.

Integrasi yang diamksud adalah dengan adanya alur khusus di mana masyarakat yang tinggal di pelosok bisa memesan buku yang ada di perpustakaan tanpa harus jauh-jauh datang ke sana. Nantinya buku tersebut bisa diantarkan ke perpustakaan desa (jika ada) atau ke badan terkait di tingkat kelurahan.

Kedua, bekerja sama dengan posyandu untuk meningkatkan literasi anak usia dini. Pemerintah bisa membuat program mendongeng 1-2 kali dalam setahun di posyandu-posyandu di setiap daerah. Pemerintah bisa menggandeng pendongeng lokal untuk bercerita bersama dengan ibu-ibu dan balita di posyandu. Tujuannya adalah untuk mengenalkan buku pada balita sejak dini.

Keempat, memanfaatkan teknologi untuk mengakses bahan bacaan elektronik. Peningkatan minat baca tidak selau bermasalah di masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah. Tingkat ekonomi menengah pun masih belum bisa memprioritaskan buku sebagai kebutuhan. Harga buku berkualitas yang mahal biasanya menjadi alasan atas masalah tersebut.

Namun, akses buku bacaan sebenarnya bisa didapatkan versi elektroniknya (ebook). E-book biasanya lebih murah karena produsen tidak mengeluarkan biaya cetak. Yang lebih menarik lagi, saat ini Perpustakaan Nasional, melalui aplikasi IPUSNAS memfasilitasi seluruh masyarakat Indonesia agar dapat meminjam buku elektronik secara gratis. Dengan hal-hal tersebut, Anisa meyakini meningkatnya minat baca di Indonesia suatu hari nanti merupakan suatu keniscayaan.

Add Comment