Menyulap Sampah Jadi Pundi Rupiah bersama Gema Pesam Delanggu

Berbagai hasil kerajinan tangan dari sampah di Bank Sampah Gema Pesam Desa Delanggu. (Foto: Humas Klaten)

Delanggu – Saat di kebanyakan daerah sampah menjadi masalah, hal itu tidak berlaku di Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten. Di Desa ini, sampah bisa diolah menjadi kerajinan tangan bernilai jual tinggi.

Bersama Bank Sampah Gerakan Masyarakat Peduli Sampah (Gema Pesam) Desa Delanggu, warga mampu menyulap sampah menjadi hasil kreasi yang indah. Tak heran, jika hasil kerajinan tangan tersebut sampai menghasilkan pundi-pundi rupiah yang bisa digunakan untuk membayar biaya sekolah. Bank Sampah Gema Pesam yang didirikan pada 2014 dan digawangi oleh Sugiarti, Christina, dan Novi ini menjadi rujukan masyarakat sekitar untuk belajar mengelola sampah.

“Di sini sampah tidak saja dikumpulkan terus dijual, tapi juga dikreasi menjadi barang bermanfaat seperti bunga plastik, tempat tisu, dompet, tas dan sebagainya. Sedangkan untuk sampah organik diolah menjadi pupuk buat menyuburkan tanah pemanfaatan lingkungan rumah tangga,” jelas Sugiarti.

Ditambahkan, selain kegiatan pengumpulan sampah, Gema Pesam juga aktif dalam kegiatan sosialisasi. Untuk memasyarakatkan peduli sampah, para ibu posyandu Siwi Asih 3 dan anak-anak sekolah dibuatkan buku tabungan sampah.

“Saat ini kami mempunyai nasabah penabung sampah sebanyak 198 orang. Macam- macam peruntukannya. Ada yang buat beli cincin emas, beli sepatu sekolah, atau membayar biaya LKS (Lembar Kerja Siswa). Saking semangat ada ibu-ibu yang memarahi anaknya,karena pulang sekolah mengumpulkan sampah di kebun-kebun untuk ditabung. Takut dikira pemulung mungkin,” kata Sugiarti.

Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

Edukasi masyarakat mengenai permasalahan lingkungan yang bersifat kompleks akibat timbulan sampah diperlukan untuk membentuk kesadaran masyarakat. Faktor penyebab kepedulian lingkungan didasari cara berpikir dan perilaku manusia. Partisipasi aktif warga menjadi hal yang penting untuk diidentifikasikan dalam aksi pengelolaan sampah.

Asteria dan Heruman (2016) menyebutkan perubahan paradigma masyarakat mengenai sampah perlu dilakukan secara berkelanjutan. Edukasi kesadaran dan keterampilan warga untuk pengelolaan sampah dengan penerapan prinsip reduce, reuse, recycle, dan replant (4R) penting dalam penyelesaian masalah sampah melalui pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Bank sampah yang berbasiskan partisipasi warga perempuan merupakan modal sosial dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Melalui bank sampah, pemberdayaan warga bisa dilakukan melalui kegiatan penyuluhan, edukasi, pelatihan dengan metode partisipasi emansipatoris (interaksi dan komunikasi), serta dialog dengan warga di komunitas. Selain itu, diperlukan dukungan kemitraan dengan membangun jejaring dan mekanisme kerja sama kelembagaan antara warga pengelola bank sampah dengan stakeholder terkait.

Add Comment