Bupati Wonogiri Komitmen pada Program Modernisasi Sistem Pertanian

Bupati Wonogiri saat menyampaikan komitmen pada program modernisasi sistem pertanian di kediamannya. (Foto: Humas Wonogiri)

Selogiri – Bupati Wonogiri Joko Sutopo berkomitmen pada program modernisasi sistem pertanian sebagai salah satu prioritas dalam Panca Program Bupati Wonogiri. Dikatakannya, prioritas pada 2020 adalah memberdayakan kaum petani agar mampu bersaing di tengah iklim persaingan global yang tidak bisa diprediksi.

Komitmen tersebut disampaikan Bupati dalam acara Modernisasi Sistem Pertanian Melalui Sistem Resi Gudang (SRG) di kediamannya, Desa Jaten, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, Senin (2/9/2019). Ia meyakini, sistem resi gudang akan memberikan jaminan pasca panen kepada petani. “Dari 291 Gapoktan (gabungan kelompok tani), yang ikut SRG baru 27, dan baru bertambah satu. Yang menjadi pertanyaan besar, ke mana yang lain,” tutur Bupati dalam keterangan tertulis di laman resmi Pemkab Wonogiri.

Bupati menyayangkan kelompok tani hanya digunakan sebatas mencari bantuan alsintan. Kelompok tani menurutnya belum berfungsi sebagai lembaga yang secara riil memberdayakan anggotanya dengan program-program pemerintah. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Pangan, ada lebih dari 2025 kelompok tani di Kabupaten Wonogiri. Ditargetkan 50 persen dari Gapoktan bisa tergabung dalam SRG agar petani memiliki daya saing.

“Persoalan permodalan tidak akan menjadi masalah karena pemkab sudah bersinergi dengan perbankan. Hal ini untuk meminimalisir adanya rentenir yang merugikan petani dengan sistem ijonnya,” terangnya.

Dijelaskan Bupati, selain menggandeng perbankan, pihaknya juga telah menjalin kerja sama dengan jasa asuransi yang preminya disubsidi oleh pemerintah. Asuransi pertanian ini akan memberikan jaminan kepada para petani apabila terjadi gagal panen dengan nilai jaminan sebesar Rp 6 juta per hektare, atau bagi ternak sapi yang mati maupun hilang sebesar Rp 10 juta per ekor.

Kualitas SDM Kunci Modernisasi Pertanian

Revolusi industri 4.0 membawa dampak positif pada berbagai sektor, termasuk pertanian. Sayangnya, kontribusi inovasi teknologi dalam pembangunan sektor pertanian Indonesia masih sangat kecil. Data Asian Productivity Organization Report pada 2019 menunjukkan total faktor inovasi dalam produktivitas pertanian Indonesia baru mencapai satu persen.

Hal itu menggambarkan pembangunan pertanian masih bertumpu pada tenaga kerja dan modal yang kontribusinya mencapai 99 persen. Namun, upaya mengubah paradigm pembangunan pertanian dari bertumpu pada tenaga kerja manusia menjadi penggunaan teknologi berbasis inovasi bukanlah perkara mudah.

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gajah Mada (UGM) Lilik Sutarso menyebutkan bahwa kunci sukses percepatan transformasi pembangunan pertanian modern terletak pada kualitas sumber daya manusia pertanian alias human capital. Peningkatan kualits SDM akan mengungkit keunggulan komparatif menjadi kompetitif.

“Maka dari itu perlu adanya terobosan pengembangan teknologi pertanian cerdas yang bisa diimplementasikan secara tepat input, tepat jumlah, tepat waktu, dan tepat tempat,” urai Lilik.

Lilik menuturkan, dalam beberapa waktu terakhir, terlihat aplikasi berbagai model teknologi pertanian cerdas diterapkan. Hal ini mengindikasikan respon positif dalam mempersiapkan proses transisi menuju era pertanian modern. Pengembangan aplikasi teknologi pertanian cerdas dalam sistem pertanian terintegrasi juga dilakukan mulai dari optimasi sistem budi daya, penanggulangan hama dan penyakit, hingga peningkatan produktivitas dan kualitas hasil pertanian melalui penanganan pascapanen yang tepat.

Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM ini lebih lanjut mengatakan perlunya upaya standardisasi teknologi agar cocok dengan segala jenis peralatan yang ada. Selain itu, juga dibutuhkan pengembangan infrastruktur TIK di pedesaan dengan kemampuan untuk pertukaran dan analisis data.

Add Comment