Hadapi Persaingan Global, Usahid Teken Kerja Sama dengan UIN Walisongo Semarang

Rektor Usahid Dr Mohamad Harisudin, M.Si dan Rektor UIN Walisongo Prof. Dr. Imam Taufiq, M.Ag menandatangai MoU kerja sama bertempat di Kampus UIN Walisongo, Rabu (21/8/2019). (Foto: Usahid Surakarta)

Laweyan – Universitas Sahid Surakarta (Usahid) jalin kerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh Rektor Usahid Dr Mohamad Harisudin, M.Si dan Rektor UIN Walisongo Prof. Dr. Imam Taufiq, M.Ag, bertempat di Kampus UIN Walisongo Semarang, Rabu (21/8/2019).

Rektor Usahid menerangkan, penguatan antarlembaga perguruan tinggi sangat penting untuk dilakukan dalam menghadapi kompetisi global di era revolusi industri 4.0. Sehingga, imbuh Rektor, kerja sama dalam tri dharma perguruan tinggi harus terus ditingkatkan. “Harapannya ada tindak lanjut sebagai bentuk realisasi kerja sama,” ujar Rektor, dilansir dari laman resmi Usahid.

Sementara itu, Wakil Rektor III Usahid Ir. Dahlan Susilo, M.Kom memaparkan bahwa Usahid Surakarta memiliki dua fakultas, yakni Fakultas Saintek dan Fakultas Sosial Humaniora (Soshum) dan Seni. Masing-masing fakultas memiliki lima program studi, yaitu Ilmu Komunikasi, Desain Komunikasi Visual (DKV), Psikologi, Administrasi Bisnis, dan Desain Interior pada Fakultas Soshum dan Seni. Selanjutnya ada Teknik Informatika, Keperawatan, Profesi Ners, Farmasi, dan Teknik Industri pada Fakultas Saintek.

“Untuk selanjutnya MoU bisa ditindaklanjuti dengan Memorandum of Agreement (MoA) atau kerja sama antarfakultas. Di UIN Walisongo ini fakultasnya sangat banyak dan terbilang lengkap,” ujar WR III.

Tantangan Perguruan Tinggi dalam Era Persaingan Global

Era globalisasi dewasa ini adalah tantangan besar bagi dunia pendidikan, khususnya di Indonesia. Globalisasi dalam dunia pendidikan, adalah sebuah proses sejarah yang panjang. Terjadinya era globalisasi dalam dunia pendidikan memberi dampak ganda, yaitu dampak positif dan negatif. Dampak positifnya, adalah memberi kesempatan kerja sama seluas-luasnya di bidang pendidikan kepada negara-negara di dunia. Namun di sisi lain, jika Indonesia tidak mampu bersaing di bidang pendidikan dengan negara lain, karena kualitas SDM yang lemah misalnya, maka konsekuensinya akan merugikan bangsa Indonesia sendiri.

M. Kadarisman dalam jurnal penelitiannya memaparkan, tantangan perguruan tinggi di era global ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang penuh dengan persaingan. Cepat atau lambat, perguruan tinggi di Indonesia harus mampu menghasilkan SDM berkualitas dan memiliki keunggulan dalam berbagai aspek kehidupan. Perguruan tinggi merupakan salah satu subsistem pendidikan nasional yang tidak dapat dipisahkan dari subsistem lainnya, baik di dalam maupun di luar sistem pendidikan.

Dalam memasuki era baru di abad 21 ini, Kadarisman menggarisbawahi, sistem pendidikan tinggi di Indonesia harus terwujud sedemikian rupa dengan karakteristik sebagai berikut: pertama, terkait dengan kebutuhan mahasiswa, prioritas nasional dan pembangunan ekonomi; kedua, terstruktur secara efektif sehingga memberi peluang kepada seluruh warga negara untuk mengembangkan potensi pribadi sepanjang hayat dan berkontribusi kepada masyarakat; ketiga, didukung dengan pendanaan yang memadai sehingga memungkinkan untuk berinovasi dan mencapai keunggulan; keempat, melakukan penelitian yang dapat menunjang pembangunan nasional; kelima, memiliki akses dalam pengembangan dan penerapan teknologi; keenam, berperan sebagai kekuatan moral dalam mewujudkan masyarakat demokratis yang madani.

Pendidikan tinggi, menurutnya, setidaknya mampu mengembangkan lima bentuk kecerdasan, yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan praktikal, kecerdasan sosial, dan kecerdasan spiritual dan moral. Kelima bentuk kecerdasan itu harus dikembangkan secara simultan. Jika berhasil dilakukan dengan baik, akan menghasilkan mahasiswa dan lulusan yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas dalam hal lain. Dengan kata lain bahwa paradigma baru pendidikan nasional adalah pendidikan harus berpusat pada peserta didik.

Add Comment