Eksiskan Produk Lokal Unggulan, Sukoharjo Expo 2019 Raup Omzet Rp 2,7 Miliar

Penyerahan hadiah kepada salah satu pemenang lomba pada acara Gelar Potensi Sekoharjo Expo 2019. (Foto: Humas Sukoharjo)

Jetis, Sukoharjo – Gelar Potensi Sukoharjo Expo 2019 yang diadakan selama lima hari resmi ditutup pada Selasa (27/8/2019). Kegiatan yang diwarnai ratusan produk lokal andalan Sukoharjo ini sukses menarik perhatian lebih dari 22 ribu pengunjung dan meraup omzet hingga Rp 2,7 miliar.

Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disdagkop UKM) Sutarmo dari rilis Pemkab Sukoharjo menerangkan, Expo Sukoharjo tahun ini merupakan yang pertama kali bertaraf nasional. Sebanyak 200 stand yang disediakan panitia terisi penuh oleh produk-produk lokal andalan, dengan dua stand yang dijadikan tempat kesekretariatan.

Salah satu produk lokal yang masih menjadi primadona pengunjung adalah kerajinan tangan dan batik. Selain itu ada juga produk lain yang tak kalah menarik seperti goyor, gitar, tatak sungging, dan masih banyak lagi. “Produk unggulan olahan kami di bidang kuliner juga ramai pengunjung,” imbuh Sutarmo.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Sukoharjo Agus Santosa berharap, adanya gelaran expo seperti ini bisa membawa kontribusi positif bagi masyarakat, utamanya dengan mendorong geliat ekonomi kreatif. “Apalagi terdapat 19.840 UMKM di Sukoharjo yang diharapkan bisa memberikan konstribusi pada pertumbuhan ekonomi,” terang Agus.

Dengan pemberdayaan UMKM di Sukoharjo, pihaknya berharap angka pengangguran bisa dituntaskan. Sebab angkanya sudah mencapai 2,78 persen. Agus pun berharap pemuda di Sukoharjo termotivasi untuk berwirausaha.

“Dalam persaingan terbuka yang semakin sempit, kunci usaha sukses bukan hanya modal. Namun juga bertaruh pada usaha dan kecepatan menangkap peluang,” tambahnya.

UMKM Dituntut Inovatif dan Tidak Latah

Keberadaan UMKM tidak bisa dianggap sepele, karena terbukti mampu mendorong geliat ekonomi dan kemandirian masyarakat. Untuk itu, pemerintah memiliki kewajiban untuk memberdayakannya. Namun, pelaku UMKM juga harus bisa berinovasi agar usaha tetap berjalan seiringan dengan perkembangan zaman.

Pengamat ekonomi Fajar Billy Sandi menganalogikan keberadaan UMKM di tanah air bagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, geliat masyarakat Indonesia yang tinggi dalam membuat bisnis sendiri sangat baik dalam membantu mendorong perekonomian nasional. Di sisi lain, banyak juga yang mendirikan usaha hanya karena ikut-ikutan tren atau latah.

Alasan terakhir inilah yang membuat banyak pelaku UMKM jalan di tempat dalam mengembangkan usahanya lantaran minimnya inovasi. Akhirnya banyak usaha yang hanya bertahan selama 1-2 tahun, kemudian bangkrut karena produk atau jasa yang ditawarkan tidak kuat atau kalah saing. Menurut Fajar, banyak pelaku UMKM di Indonesia yang hanya menjalankan bisnis berdasarkan ikut-ikutan tanpa melihat potensi diri yang  dimilikinya.

Produk yang lahir dari latah atau ikut-ikutan tren ini tidak muncul dari konsep yang matang dan memiliki kemiripan satu sama lain dengan produk sejenis. Di awal, permintaan dan barang ditawarkan sama-sama banyak, namun lama-kelamaan permintaan menjadi turun karena konsumen yang sudah bosan dengan barang sejenis.

Untuk itu, kata Fajar, UMKM diharapkan mampu untuk berpikir kritis sekaligus inovatif dalam memproduksi barang dan jasa. Meski barang yang ditawarkan sejenis, tetapi jika masing-masing memiliki perbedaan yang signifikan membuat konsumen memiliki banyak pilihan. Pelaku UMKM menurutnya dapat melakukan riset terhadap perilaku konsumen sekaligus trial and error untuk mengetahui formula yang tepat bagi produk yang dihasilkan.

“Karena inovasi justru terlahir tidak dengan sendirinya, melainkan melalui sebuah proses panjang yang membuahkan hasil yang manis,” tandas Fajar.

Add Comment