Cita-cita Ekonomi Inklusif dalam Potensi Wisata Laweyan

Kawasan Laweyan memang terbilang kecil, namun kontribusi historisnya cukup besar. Di era kolonial, Laweyan menggebrak jagad pergerakan dengan organisasi Sarikat Dagang Islam (SDI) yang diidirkan oleh Haji Samanhudi. Di masa itu pula, Surakarta, kota di mana eksistensi Laweyan tercakup, menjadi salah satu kota yang sangat diperhitungkan, karena menjadi melting plot ideologi-ideologi besar yang ada di Indonesia.

Lantas, sekarang ini, sejalan dengan industrialisasi kota, Laweyan beradaptasi. Kelas-kelas sosial yang dahulu bergerak, memang masih berdiri tegak. Namun, perbedaannya terletak pada mobilitas masyarakatnya. Jika di masa awal-awal pergerakan nasional, masyarakat sekitar mampu menginisiasi salah satu organisasi pergerakan modern, maka sekarang ini, mobilitas masyarakat ditentukan dengan respon perkembangan zaman.

Beberapa tahun yang lalu Laweyan berhasil menjadikan salah satu areanya, yakni kampung batik, sebagai kampung wisata. Upaya untuk menciptakan ini, dihadirkan dengan komitmen bersama yang terus dirawat oleh pelbagai komponen masyarakatnya, terutama di kawasan sekitarnya, seperti Sondakan, Bumi, dan Pajang. Hasilnya, fasilitas-fasilitas penunjang wisata itu terpenuhi, terutama di daerah kampung batiknya. Alhasil, dinamisasi masyarakat terus terjaga karena keberhasilan program tersebut.

Sekarang, keberhasilan itu, tak hanya dinikmati oleh masyarakat setempat saja. Secara menyeluruh, kota Surakarta pun ikut menikmati buah dari kerja keras antara pemerintah, masyarakat, dan banyak stakeholder lainnya. Dampak positif ikut dirasakan sampai ke sumsum lapisan masyarakat. Hal-hal seperti ini yang hendaknya terus dijadikan sandaran perkembangan kota dan masyarakat. Tujuannya, agar masyarakat lebih berdaya, dan kualitas pemerintah lebih mumpuni untuk pemberdayaan.

Disadari atau tidak, mempertahankan lebih sulit ketimbang meraih sesuatu. Anggapan umum itu, sudah lama membenak dalam kesadaran kompetitif kita. Apa yang sudah diraih oleh kawasan wisata Laweyan, selama ini, perlu dipertahankan, atau lebih-lebih, dikembangkan. Namun, hal seperti itu, tidak semudah mencetuskan sesuatu. Implementasi dari wacana perkembangan, memerlukan banyak biaya sosial. Termasuk kerelaan untuk terus merekat dalam satu temali kesadaran.

Kawasan Laweyan dahulu terkenal karena perdagangan batik. Di tempat itu, kesadaran kolektif untuk lebih berdaya membuahkan organisasi bernama SDI (Sarikat Dagang Islam). Dari cita-cita agar lebih berdaya bersama di masa itu, disadari bahwa Laweyan dapat memekarkan cakupan roda dapur bagi lapisan masyarakat yang hidup dan menghidupi di daerah itu. Sehingga, tidak bisa dipungkiri, Laweyan mewarisi banyak peninggalan sejarah bagi kota Surakarta. Dan warisan tersebut, walaupun secara kasat mata kadang tak nampak, dalam kerja kultural mereka, konkret adanya.

Seperti yang sudah-sudah, warisan tinggal cerita apabila tidak ada desakan untuk berbuat sesuatu. Kesadaran bersama memerlukan realisasi konkret yang berdampak positif bagi masyarakat sekitar. Warisan sejarah Laweyan, tidak bisa hanya didiamkan begitu saja. Warisan ini tidak bisa hanya menjadi cerita dalam cerita belaka. Narasi sejarah yang sudah lama terkandung dalam mobilitas Laweyan, dapat menjadi sebuah produktivitas jika direalisasikan dengan strategi budaya yang intergratif.

Strategi budaya yang integratif ini, membuka peluang produktivitas yang merata. Sehingga warisan budaya yang ditingalkan pada masa dahulu dapat mengikat ekonomi masyarakat ke arah keberdayaan bersama. Maka dari itu, Laweyan, perlu ditopang dengan kawasan berikat yang terdiri dari kawasan seperti Laweyan, Sondakan, Bumi, dan Pajang. Dengan demikian, ada simbiosis positif antara potensi Laweyan dengan kawasan yang menjadi bagian darinya.

Peluang Media

Media punya peran penting dalam hal ini. Kesinambungan antara potensi daerah, ruang gerak masyarakat dan pemerintah bisa dijembatani dengan fungsi-fungsi media. Potensi kawasan berikat yang ada dalam Laweyan, bisa dieksplorasi lewat konten-konten yang disediakan oleh media. Pembangunan daerah bisa memicu pertumbuhan ekonomi dalam tataran mikro. Dan media, pada kasus ini, memiliki peran yang sebenarnya cukup vital guna mendayagunakan masyarakat sekitarnya.

Informasi-informasi yang bernilai tentang kawasan Laweyan akan sangat berguna untuk pemberdayaan masyarakat. Optimisme bisa dimulai dari informasi seputar Laweyan, terutama potensi daerahnya. Apalagi jika media juga mendampingi pembangunan kesadaran, tentu bukan tidak mungkin tercipta masyarakat sipil yang optimis dalam lingkup Laweyan ketika menghadapi tantangan bersama-sama. Ideal, memang, namun titik keberangkatan perlu dimulai dari cita-cita bersama yang positif.

Kearifan lokal kawasan wisata Laweyan, terutama yang berakar dari sejarahnya, memungkinkan terciptanya sebuah potensi ekonomi inklusif. Ruang gerak sendiri adalah potensi yang terselubung. Dalam setiap potensi yang tersedia, pastinya selalu ada peluang untuk menciptakan potensi ekonomi inklusif. Ekonomi inklusif, merupakan salah satu representasi bagaimana kombinasi antara masyarakat, pemerintah dan stakeholder dapat saling bahu-membahu mendirikan fondasi kesejahteraan.

Namun, membentuk semua hal itu, memerlukan kesediaan yang laten. Dan media dapat membantu mengawetkan hal tersebut bagi segenap elemen masyarakat Laweyan. Potensi ekonomi kawasan akan sangat terbantu akan hal tersebut. Tahap-tahap tantangan sosial, beserta stratifikasi yang sudah lama tertanam, bagi masyarakat Laweyan, tentunya bukan hal yang sulit. Apalagi kesediaan masyarakat dapat ditopang dengan banyak-banyak stimulus positif dari lembaga-lembaga sosial yang lain, termasuk media, tentunya.

*Prasetio Utomo. Penulis merupakan Lurah Sondakan.