Pendidikan Ketarunaan SMKN Ngargoyoso Siapkan Generasi Muda Berkualitas

Penyematan tanda peserta dan pemasangan atribut MPLS oleh Komandan Kodim 0727 Karanganyar Letkol Inf Andi Amin Latama kepada siswa baru SMKN Ngargoyoso. (Foto: Pemkab Karanganyar)

Ngargoyoso – Komandan Kodim 0727 Karanganyar Letkol Inf Andi Amin Latama membuka secara resmi upacara Pembukaan Program Unggulan Pendidikan Ketarunaan dan HUT SMK Negeri Ngargoyoso di lapangan olahraga kampus 2, Gadungan, Girimulyo, Senin (15/7/2019).

Dalam sambutannya, Dandim berpesan agar masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) SMKN Ngargoyoso tidak menjadi ajang balas dendam dari siswa senior pada juniornya. Ia juga berharap, dari pendidikan ketarunaan yang diterapkan pada siswa baru SMKN Ngargoyoso nantinya bisa lahir generasi muda yang berkarakter dan berkualitas.

“Saya pesan pada guru maupun senior di organisasi kesiswaan, MPLS ini bukan ajang perpeloncoan. Tapi untuk memberi gambaran pada siswa baru tentang lingkungan sekolah. Jangan dijadikan ajang balas dendam atau mengerjai siswa baru,” pesan Dandim.

Dalam kegiatan tersebut hadir pula Kepala Kesbangpol, Camat Ngargoyoso, Danramil, Lurah, dan para orang tua peserta. MPLS SMKN Ngargoyoso tahun 2019 diikuti oleh 324 siswa baru. Dalam upacara pembukaan, seluruh orang tua siswa diundang untuk menyaksikan anaknya dilantik sebagai taruna.

Pendidikan Ketarunaan untuk Mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional

Pendidikan berbasis ketarunaan saat ini tengah gencar diadopsi oleh banyak sekolah di Indonesia. Pendidikan ketarunaan ini dinilai dapat menjadi sarana dalam membentuk karakter siswa yang tangguh dan cinta bangsa untuk mendukung pendidikan nasional. Hal tersebut diamini oleh Nanik Sunarni sebagai pegiat literasi sekaligus Guru SMKN 2 Sragen. Dari observasinya yang dilakukan di sekolah, ia kerap mendapati anak didiknya kurang disiplin dalam mengerjakan tugas, tidak tertib saat upacara bendera, datang terlambat, berkelahi dengan teman, bahkan kurang hormat terhadap guru.

Menurutnya, faktor yang memengaruhi kebiasaan buruk siswa adalah lemahnya perhatian orang tua, adanya perkembangan teknologi yang tidak bisa dikelola dengan baik oleh anak, kurang demokratisnya pendekatan dai orang tua maupun guru, serta buruknya pergaulan di lingkungan sekitar anak. Jika kebiasaan buruk itu tidak menemukan pemecahan masalahnya, maka tujuan pendidikan nasional akan sulit terwujud.

Sebagai sebuah solusi, menurutnya pendidikan dan latihan dasar ketarunaan merupakan wahana untuk memebntuk mainset dan karakter siswa agar menjadi generasi muda yang sehat, kuat, disiplin, serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, tujuan kompetensi keahlian. Pendidikan, lanjutnya, merupakan suatu proses perkembangan pribadi yang banyak dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam maupun luar seseorang. Faktor luar salah satunya adalah pengaruh lingkungan terhadap siswa yang meliputi alat pendidikan, proses pembelajaran, metode pendidikan, media pendidikan, strategi pembelajaran, sarana dan prasarana. Alat pendidikan salah satu di antaranya dapat diwujudkan dengan ketarunaan.

Pendidikan ketarunaan diharapkan dapat mendorong siswa yang bertakwa, disiplin, bertanggung jawab, selalu gigih mencapai kompetensi, menghormati guru dan orang tua, hingga cinta bangsa dan negara. Nanik mengatakan nilai-nilai yang ditanamkan pada siswa selama mengikuti pendidikan ketarunaan harus terus diamalkan. Ia yakin pendidikan ketarunaan ini bisa memberi bekal pendidikan karakter yang berguna bagi siswa di sekolah maupun di dunia kerja nantinya.

Add Comment