Baru Dilaunching, Desa Wisata Sumberbulu Diharapkan Dorong Perekonomian Masyarakat

Plh Kadisparpora Agus Cipto Waluyo saat menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara Launching Desa Wisata Berbasis Edukasi di Dusun Sumberbulu Desa Pendem Kecamatan Mojogedang, Jumat (26/7/19). (Foto: Pemkab Karanganyar)

Mojogedang – Desa wisata Sumberbulu yang terletak di Dusun Sumberbulu RT 1/5 Desa Pendem Kecamatan Mojogedang Kabupaten Karanganyar menawarkan wisata edukatif berbasis kearifan lokal. Desa wisata yang dirintis pada 2016 itu, secara resmi di-launching pada Kamis (25/7/2019) malam.

Plh Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disaparpora) Kabupaten Karanganyar Agus Cipto Waluyo mengatakan, dengan adanya desa wisata harapannya dapat mendukung serta mengembangkan perekonomian masyarakat Desa Pendem. “Menumbuhkan ekonomi perlu adanya ekonomi kreatif. Bagaimana mengidentifikasi potensi wilayah masing-masing,” katanya, seperti dilansir dari situs Pemkab Karanganyar.

Menurutnya, demi kemajuan ekonomi kreatif perlu memperhatikan dua hal, yakni mempertahankan mutu dan pemasaran produk. Pihaknya berharap upaya tersebut dapat digarap sebaik-baiknya, dan jangan sampai mengecewakan pengunjung. “Pemasaran produk tidak cukup pada tingkat desa atau kecamatan dan kabupaten saja. Tapi juga harus mendunia,” terangnya.

Kades Pendem Heru Murwanto menyampaikan, Desa Pendem sudah memenuhi tiga kriteria desa wisata, seperti wisata alam, budaya dan buatan. Dengan adanya desa wisata ini juga sesuai dengan visi misi Kabupaten Karanganyar, menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. “Kalau wisata desa orang hanya berkunjung, tapi kalau desa wisata orang bisa menginap. Di sini ada 21 homestay dengan daya tampung 70 pengunjung. Sekali menginap biayanya Rp 85 ribu. Ada tipe dua kamar dan tiga kamar. Kapasitas 4-5 orang,” katanya.

Perlu Pemberdayaan Masyarakat dan Kolaborasi

Desa wisata hadir menjadi napas baru dari desa untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah. Tidak hanya itu, pengembangan desa wisata mendorong adanya keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat yang lebih masif karena membutuhkan banyak ide segar serta kreativitas dari setiap pemangku kepentingan terkait.

Adviso Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi Aviliani membeberkan salah satu kunci kesuksesan dari pengembangan desa wisata, yaitu dengan pemberdayaan masyarakat setempat. Masyarakat desa harus turut aktif dalam menjaga nilai budaya dan kearifan lokal yang dipercaya sampai saat ini. Dalam pemberdayaan masyarakat, pemerintah setempat harus mendukung dengan mewujudkan regulasi prorakyat.

“Misalnya yang terjadi di Banyuwangi. Bupati Banyuwangi tidak mengizinkan pembangunan hotel kelas melati, melainkan memperbanyak penginapan rumah singgah milik rakyat kecil (homestay),” katanya.

Selain akan berdam pak terhadap experience wisatawan yang mengunjungi Banyuwangi, lanjut Aviliani, regulasi Kabupaten Banyuwangi berusaha untuk menolong rakyat kecil agar mendapat kesempatan yang sama dalam memperoleh penghasilan. Maka tidak hanya kelompok yang memiliki modal besar saja yang dapat meraup keuntungan besar atas semakin maraknya destinasi wisata di sana, melainkan juga rakyat kecil.

“Untuk lebih menarik perhatian anak muda di Kabupaten Banyuwangi agar tetap terlibat aktif dalam menyukseskan promosi desa wisata serta menjaga warisan budaya diberikan pelatihan menari tari gandrung sewu. Tarian tradisional Banyuwangi ini juga menjadi salah satu event Wonderful Indonesia yang memanjakan wisatawan dengan performa 1.000 penari di pinggir pantai,” imbuhnya.

Memiliki 99 event dalam setahun (2019), Kabupaten Banyuwangi dinobatkan sebagai kota festival terbaik di Indonesia. Hal ini menggambarkan bahwa desa tidak harus berdiri sendiri dalam mengembangkan potensi wisata dan keunikan yang dimiliki, melainkan dapat membentuk kawasan yang terdiri atas beberapa desa sekitar atau memiliki potensi yang sejenis dan dapat dikolaborasikan.

Menurutnya, perlu dilakukan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Pendidikan dasar dan vokasi adalah jalan keluar untuk melahirkan kualitas SDM unggul di desa. Selain itu pemanfaatan teknologi secara maksimal juga harus ditularkan hingga ke desa agar mereka dapat terbantu dalam mempromosikan keunikan desa yang dimiliki. Terakhir, kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, sektor swasta, dan social entrepreneurs sangat diperlukan dalam merancang keberlanjutan siklus bisnis di desa.