Adakan Workshop Awal Pelajaran, SDIT Nur Hidayah Terus Berupaya Tingkatkan Mutu

Para guru dan karyawan SDIT Nur Hidayah Surakarta hadir dalam workshop awal tahun pelajaran 2019/2020. (Foto: SDIT Nur Hidayah)

Laweyan – Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Hidayah Surakarta pada Senin (8/7/2019) mengadakan workshop awal tahun pelajaran 2019/2020 yang dihadiri oleh para guru dan karyawan. Workshop yang diadakan selama sepekan ini mengusung tema “Bergerak, Berdaya, dan Bersatu Padu Wujudkan Sekolah Bermutu”.

Kepala Sekolah Ustaz Waskito saat memberikan materi pertama workshop mengingatkan tentang penguatan ruhiyah. Ustaz Waskito juga memberikan pembinaan tentang penguatan visi, misi, dan renstra untuk meningkatkan mutu sekolah. Visi SDIT Nur Hidayah adalah menjadi sekolah bermutu, berkarakter, dan berbudaya lingkungan.

“Visi sekolah ini diharapkan menjadi penyemangat untuk semakin meningkatkan kemajuan sekolah. Beberapa penghargaan yang diraih SDIT Nur Hidayah menjadi Sekolah Sahabat Keluarga dan Lomba Budaya Mutu Sekolah juga menjadikan cambuk untuk terus berkarya dan berprestasi sebagaimana slogannya ‘Terdepan dalam Kebaikan’,” terang kepala sekolah, seperti dilansir dari portal SDIT Nur Hidayah.

Setelah pembinaan dari kepala sekolah, materi workshop selanjutnya diisi oleh Ustaz Anis Tanwir Hadi tentang arah kebijakan BPH Bidang Pendidikan Yayasan Nur Hidayah tahun 2019/2020, selanjutnya materi tentang kebijakan keuangan SDIT Nur Hidayah yang disampaikan oleh Ustazah Ariyanti.

Analisa SWOT Strategi Peningkatan Mutu Sekolah

Menurut Saifulloh, Muhibbin, dan Hermanto (2012), pada akhir dekade ini banyak institusi pendidikan yang mengadopsi teori manajemen mutu terpadu atau yang lebih dikenal dengan total quality management (TQM), karena teori ini dianggap sangat tepat dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. TQM didefinisikan sebagai sebuah pendekatan dalam menjalankan usaha yang berupaya memaksimalkan daya saing melalui penyempurnaan secara terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan organisasi.

Zamroni (2007) juga menyebutkan bahwa menurut teori ini ada tiga variabel yang menentukan mutu sekolah, yakni kultur sekolah, proses belajar mengajar, dan realitas sekolah. Kultur sekolah merupakan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, upacara-upacara, slogan-slogan, dan berbagai perilaku yang telah lama terbentuk di sekolah dan diteruskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya, baik secara sadar maupun tidak.

Kultur ini diyakini memengaruhi perilaku seluruh komponen sekolah, yaitu guru, kepala sekolah, staf administrasi, siswa, dan juga orang tua siswa. Kultur yang kondusif bagi peningkatan mutu akan mendorong perilaku warga ke arah peningkatan mutu sekolah. Sebaliknya, kultur yang tidak kondusif akan menghambat upaya menuju peningkatan mutu sekolah.

Pendekatan TQM ini pernah dianalisis menggunakan analisa SWOT oleh Purnama dan Prajoko (2017) untuk mengetahui strategi yang layak untuk diterapkan dalam rangka meningkatkan mutu sekolah. Dari hasil analisis tersebut, maka diketahui ada beberapa strategi peningkatan mutu yang layak diterapan di sekolah.

Pertama, Memanfaatkan pencapaian akreditasi A, Sekolah Standar Nasional (SSN), input siswa yang bagus, banyaknya peserta didik yang berprestasi di bidang non akademik dan jumlah lulusan yang sudahn 100 persen untuk meningkatkan opini masyarakat bahwa sekolah ini memiliki keunggulan dan bermutu. Kedua, mendayagunakan banyaknya guru yang sudah S1 dan S2 untuk memenuhi tuntutan guru profesional. Ketiga, memanfaatkan ketersediaan perpustakaan untuk meningkatkan minat baca siswa dan menambah koleksi buku melalui kerja sama dengan pihak lain. Keempat, menggunakan fasilitas internet untuk mencari dan menambah bahan ajar sehingga pembelajaran yang dilakukan guru lebih menarik.