Warni-warni Syawalan di Klaten, dari Pelestarian Budaya hingga Ajang Promosi Wisata

Sebanyak 21 gunungan ketupat dikirab dari Alun-alun Klaten menuju Bukit Sidoguro dalam puncak Grebek Syawalan, Rabu (12/6/2019). (Foto: Pemprov Jateng)

Bayat – Kabupaten Klaten menyajikan beragam kegiatan menarik dalam perayaan pekan syawalan tahun ini. Beragam kegiatan itu dirangkai menjadi satu tujuan, yaitu untuk meningkatkan destinasi wisata dan sebagai ajang pelestarian budaya.

Lomba gethek salah satu yang tak luput dari tujuan itu. Lomba ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan Pekan Syawalan 2019 yang diagendakan oleh Pemerintah Kabupaten Klaten untuk meningkatkan daya tarik wisata melalui Pemerintah Kecamatan Bayat sebagai panitia.

Camat Bayat Edy Purnomo menjelaskan, lomba gethek tahun ini merupakan ajang keempat yang pernah digelar. Selain wujud pelestarian budaya, selenggaraan lomba gethek juga dimaksudkan untuk meningkatkan destinasi obyek wisata Rowo Jombor, Desa Krakita, Kecamatan Bayat. Edy berharap, ajang ini bisa melestarikan gethek sebagai moda transportasi sekaligus menambah daya tarik wisata.

“Tujuan diselenggarakannya lomba gethek ini untuk melestarikan gethek sebagai moda transportasi air yang merupakan tradisi nenek moyang,” terangnya.

Lomba yang digelar pada 11 Juni ini diikuti sebanyak 73 peserta yang meliputi 43 kelompok umum, 16 peserta putri, 8 peserta pelajar putra, dan 6 peserta pelajar putri. Jarak yang harus ditempuh peserta sekira 80 meter dari start hingga garis finish. Pemenang ditentukan dari kecepatan dan kekompakan peserta.

“Panitia telah menyediakan trofi dan uang pembinaan bagi para peserta yang berhasil meraih juara I, II, dan III,” lanjut Edy.

Puncak Grebeg Syawalan

Selain lomba gethek, ada pula acara sebaran ketupak sebagai puncak grebeg syawalan yang berlangsung pada 12 Juni di Bukit Sidoguro. Ribuan pengunjung baik masyarakat sekitar maupun yang datang dari daerah lain memadati sekitaran 21 gunungan ketupat yang disediakan oleh panitia. Maka tak heran, ketupat yang sedianya bertengger di sejumlah 21 gunungan ludes diperebutkan hanya dalam waktu 10 menit.

Ketupat di tangan dan siap dibawa pulang. Tak hanya itu, warga yang hadir juga bisa menikmati ratusan paket lontong lengkap dengan lauk pauk yang telah disuguhkan panitia sembari mendengarkan alunan musik campursari yang dibawakan oleh sederet penyanyi.

Bupati Klaten Sri Mulyani dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada PDAM Klaten, Bank Klaten, Bank Jateng cabang Klaten, Perusda Aneka Usaha, Amigo, BPJS Ketenagakerjaan, Hotel Grand Cokro, serta beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) yang telah membantu menyemarakkan grebeg syawalan tahun ini.

“Pemkab Klaten akan terus menyelenggaraka tradisi syawalan sebagai sarana silaturahmi antarwarga dan silaturahmi warga dengan jajaran pejabat Pemkab Klaten,” tutur Bupati.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Pantoro menerangkan, sebanyak 21 gunungan ketupat pada grebeg syawalan tahun ini dikirab dari Alun-alun Klaten menuju Bukit Sidoguro. Gelaran ini selain wujud pelestarian tradisi budaya daerah juga untuk mengembangkan pariwisata, meningkatkan ekonomi warga, dan mendukung peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).