Susi dan Warga Klaten Kembangkan Wisata Agro dengan Pertanian Hidroponik

Sri Susilowati, warga Desa Panggang yang berhasil mengembangkan pola tanam hidroponik. (Foto: dokumen pribadi)

Kemalang – Lereng Merapi tak hanya dikenal dengan produk kopi dan keindahan alamnya, tetapi juga kreativitas dari para warga. Di balik keasrian Desa Panggang, Kecamatan Kemalang, Klaten yang menyimpan beragam potensi alam, ada sosok yang menjadi inspirasi warga sekitar.

Adalah Sri Susilowati, warga Desa Panggang yang berhasil mengembangkan pola tanam hidroponik. Kondisi desanya yang sering mengalami kekurangan air tak lantas mengurungkan niatnya untuk mendorong warga berinovasi dalam bertani. Untuk menyiasati kebutuhan air yang tidak mencukupi, Alumnus Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada ini mengajak warga memilih sistem pertanian hidroponik.

Menurutnya, pola tanam jenis ini memiliki keistimewaan, yaitu dengan memanfaatkan sarana limbah sampah seperti botol plastik, sekam, tisu, atau kapas bekas yang dijadikan sebagai media tanam. Nutrisi makanan bagi tanaman pun mudah dibeli, bahkan bisa dibuat sendiri.

“Yang terpenting adalah membangun sirkulasi air bernutrisi itu bisa merata bagi tanaman, maka pola hidroponik itu bisa diterapkan,” ujar istri dari mantan Kepala Desa Panggang ini.

Bagi ibu rumah tangga yang memiliki banyak waktu luang, lanjut Susi, sisa waktu sehari-hari akan lebih bermakna jika dimanfaatkan dengan mencoba praktik bertani secara hidroponik. Bahkan bagi warga yang memiliki pekarangan terbatas, bertanam dengan pola ini tetap bisa dilakukan. Dengan memanfaatkan barang-barang bekas rumah tangga, para ibu-ibu bisa menerapkan pola tanam bernilai ekonomi tinggi ini, sehingga bisa menambah penghasilan rumah tangga.

“Akan mengasyikan jika waktu sore bertanam hidroponik, terutama sayuran. Panen dari pekarangan sendiri, tidak harus beli, maka uang bisa dihemat dengan pemanfaatan pekarangan secara hidroponik,” terangnya.

Komunitas Hidroponik Klaten

Susi memang terbilang getol dalam menerapkan pola tanam ini. Saking getolnya, ia oleh warga sampai dinobatkan sebagai Ketua Komunitas Hidroponik Klaten (Hi-Kla) sejak komunitas ini pertama kali dibentuk pada 2016 silam. Maka tak heran jika warga setempat lebih mengenal sosok ini sebagai Susi Hidroponik asli lereng Merapi.

Dengan mengusung jargon “Ayo Nandur”, Susi dan anggota komunitas lainnya terus mengembangkan pertanian hidorponik. Dengan pertanian hidproponik, ia bersama warga lainnya tak lagi cemas jika kemarau panjang melanda daerahnya. Ia berharap, pertanian hidroponik yang tengah dikembangkan saat ini nantinya bisa berkembang menjadi wisata agro.

“Di Desa Panggang kami kembangkan pertanian hidroponik karena hanya sedikit membutuhkan air. Kami ingin mengembangkan pertanian ini untuk agronya,” ujarnya.