Pemkot Siap Sambut Lebaran, Optimalkan Keramahan Bagi Pemudik dan Wisatawan

Infografis: surakarta.go.id

Surakarta – Ramadan segera pergi, Idulfitri tinggal menghitung hari. Solo yang dikenal sebagai kota ramah tak ingin ketinggalan dalam menyambut para pemudik dan wisatawan. Untuk itu, Pemerintah Kota senantiasa berbenah, menyediakan berbagai fasilitas dan layanan bagi para pemudik maupun warga Solo itu sendiri.

Berbagai jajaran seperti Dinas Perhuhbungan (Dishub), Dinas Pemadam Kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Satpol PP, Dinas Kesehatan Kota (DKK), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), dan Asosiasi Parkir Surakarta (Asparta) siap mewujudkan lingkungan ramah pemudik dan wisatawan.

Salah satu bentuk kesiapan itu selain melengkapi alat-alat kesehatan dan obat-obatan, juga melengkapi fasilitas tempat rehat bagi para pemudik dengan air wudhu dan alat pemadam api ringan (apar).

“Akan disediakan mobil tangki yang dimodifikasi untuk menyuplai air wudhu, sehingga rest area tidak hanya menjadi tempat istirahat tetapi juga lokasi ibadah,” ujar Wali Kota FX Hadi Rdyatmono dalam apel kesiapan lebaran di halaman Balai Kota Surakarta, Jumat (24/5/2019).

Rest area yang sedianya hanya didirikan di Jurug, Jalan Adi Sucipto, dan Palang Joglo, maka akan ditambah di sekitar Tanjung Anom oleh Dishub untuk mengakomodasi pemudik dari arah Sukoharjo dan Wonogiri.

Selain itu, Pemkot juga memberikan toleransi terhadap aktivitas pedagang kaki lima (PKL) pada periode lebaran selama mereka tidak berjualan di trotoar depan Balai Kota dan aktivitasnya tidak mengganggu arus lalu lintas. Begitu pula dengan pelanggar aturan parkir, Dishub tidak akan langsung menggembok kendaraan pelanggar.

“Diberikan teguran dulu atau ditunggu beberapa saat sampai pemiliknya memindahkan kendaraan. Kalau masih nekat, silakan digembok,” lanjut Rudy.

Menurutnya, toleransi atau dispensasi tersebut diberikan untuk memberi kenyamanan warga, pemudik, dan wisatawan. Pihaknya tidak ingin timbul persepsi buruk dari masyarakat. Namun demikian, aturan tetaplah aturan. Rudy berharap kelonggaran tersebut tidak dimanfaatkan semena-mena oleh pihak terkait.

“Yang terpenting tetap tertib, datang bersih pergi bersih, dan tidak kumuh. PKL tidak boleh sampai meluber ke bahu jalan karena membahayakan lalu lintas,” tegasnya.

Jangan Sembarang Naikkan Harga

Baru-baru ini jagad media sosial sempat digegerkan dengan fenomena harga makanan yang fantastis di suatu warung makan di daerah Jawa Tengah. Harga tersebut dinilai sangat tidak wajar, dan tentunya cukup berakibat buruk bagi citra daerah tersebut.

Tidak ingin menemui fenomena serupa di Kota Solo, Pemkot melalui Dinas Perdagangan (Disdag) mengimbau para pengusaha rumah makan dan restoran untuk memasang daftar harga menu agar terhindar dari praktik menaikkan harga seenaknya sendiri pada momen puasa dan lebaran.

Rudy mengatakan, kenaikan harga yang tidak wajar akan mencoreng Kota Bengawan sebagai salah satu destinasi kuliner populer di Indonesia. Pihaknya meminta agar para pelaku usaha kuliner tidak memanfaatkan momen lebaran dengan tindakan semena-mena.

“Jangan sampai ada istilah kalkulator rusah. Nanti muncul anggapan bahwa Kota Solo memang banyak kuliner, tapi harganya ngepruk,” tutur Rudy.

Add Comment