Pelibatan Warga dalam Pembangunan Desa di Klaten Digalakkan

Bupati Sri Mulyani meminta agar satu desa memiliki satu inovasi, sehingga para pendamping desa harus benar-benar mengawal proses perencanaan pembangunan desa. (Foto: Pemkab Klaten)

Klaten – Upaya pelibatan warga dalam pembangunan desa di Kabupaten Klaten semakin digalakkan. Upaya tersebut dilakukan untuk mewujudkan desa maju mandiri berdaya saing sesuai dengan visi misi Kabupaten Klaten.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Jaka Purwanto. Jaka menerangkan, upaya tersebut dimulai dengan melibatkan warga, mulai dari kelompok maupun dusun saat musyawarah penggalian gagasan dalam rangka penyusunan RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Desa maupun RKP (Rencana Kerja Pemerintah) Desa. Menurutnya, semakin banyak warga yang hadir dan beragamnya kelompok peserta musyawarah akan melahirkan banyak kebutuhan untuk dirangkum dalam perencanaan desa.

Dalam laporannya, Kadis menyampaikan, saat ini Kabupaten Klaten telah memiliki Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) guna mendampingi pembangunan desa. Tugas utama P3MD adalah mendampingi desa dalam proses percepatan pembangunan desa, sehingga bisa terwujud desa yang maju mandiri berdaya saing sesuai dengan visi misi Kabupaten Klaten.

“P3MD terdiri dari tenaga ahli, pendamping desa tingkat kecamatan yang berjumlah 71 orang, serta pendamping lokal desa sebanyak 97 orang dengan pembagian satu orang mendampingi 2-3 desa,” tuturnya.

Jaka menilai adanya peran pendamping lokal desa maupun kader pemberdayaan desa ini sangat penting, karena bisa mendorong terlaksananya proses perencanaan partisipatif. Beragamnya latar belakang menjadi ukuran awal keberhasilan proses tersebut. Oleh sebab itu, pendamping dituntut kreatif dalam memediasi dan memfasilitasi proses perencanaan.

“Diharapkan beragamnya cara pendampingan warga ini menjadi cikal bakal lahirnya dokumen perencanaan desa berdasarkan kebutuhan, karena digali dari potensi maupun aset desa,” imbuhnya.

Menurut Jaka, perencanaan desa berbasis aset akan mendorong lahirnya karya inovasi desa yang diharapkan dapat menjadi kegiatan bernilai ekonomi. Pada akhirnya hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Satu Desa Satu Inovasi

Sementara itu, Bupati Sri Mulyani berpesan supaya dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang jumlahnya sekitar 400 triliun benar-benar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Bupati pun meminta agar satu desa memiliki satu inovasi, sehingga para pendamping harus benar-benar mengawal proses perencanaan pembangunan tersebut.

“Saya minta betul-betul dikawal dengan baik dan seksama, dan saya minta satu desa satu inovasi. Jika terwujud, saya berjanji akan menambahkan insentif untuk pendamping desa dari APBD Klaten di tahun 2020,” kata Bupati dalam acara halalbihalal dan Rakor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa di Pendopo Pemkab, Senin (17/6/2019).

Pendampingan harus dilakukan secara serius lantaran menurutnya mengajak desa untuk berinovasi dalam pembangunan desa merupakan problem utama. Ia kemudian membeberkan data, dari 391 desa, sejumlah 280 sudah memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan sekitar 20 desa sudah mempunyai omset yang tinggi.

“Sehingga yang dulunya desa merah, sekarang statusnya sudah membaik,” terangnya.

Lebih lanjut, Sri Mulyani menambahkan bahwa pada program anggaran perubahan nantinya akan ada pengadaan stiker yang ditempel di setiap rumah warga kurang mampu. Upaya itu dimaksudkan untuk memudahkan Badan Pusat Statistik (BPS) saat melakukan verifikasi.

“Cara itu juga untuk menumbuhkan rasa malu di kalangan warga yang sebenarnya mampu tapi masih mengaku miskin,” tegas Bupati.

Add Comment