Operasional Tol Solo-Ngawi Tak Matikan Eksistensi Sentra Ekonomi

Infografis arus lalu lintas di Kota Solo. (surakarta.go.id)

Pasar Kliwon – Kekhawatiran akan matinya sentra ekonomi di Kota Solo usai beroperasinya Tol Solo-Ngawi bisa dibantahkan. Hal ini dibuktikan dengan terjadinya kepadatan kendaraan pemudik di pusat kuliner selama libur lebaran.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Ari Wibowo memaklumi hak ini, sebab menurutnya, bagaimanapun juga Solo merupakan pusat aktivitas keplek ilat dengan sederet menu kuliner andalannya. Kekhawatiran akan matinya pelaku usaha pada akhirnya mulai terkikis.

“Di dekat kawasan kuliner Kotabarat, kendaraan banyak menumpuk di ujung selatan overpass Manahan pada malam hari. Untungnya lebaran kali ini overpass sudah dioperasikan,” ujarnya.

Menurutnya, fakta ini disebabkan adanya kerja sama yang bagus antara pemerintah kota dengan berbagai instansi terkait, sehingga bisa mendatangkan kenyamanan bagi pemudik maupun wisatawan selama libur lebaran. Dari data traffic counting, jumlah kendaraan yang meintas di Solo maulai H-7 hingga H+3 lebaran mengalami kenaikan sekitar 234.000 unit dibandingkan libur lebaran tahun 2018.

“Meski demikian, belum ada laporan kecelakaan fatal yang kami terima. Pemasangan barikade dan manajemen rekayasa lalu lintas di berbagai ruas jalan cukup mampu mengurai kepadatan kendaraan,” tambah Ari.

Wali Kota F.X. Hadi Rudyatmo pun membenarkan bahwa adanya Tol Solo-Ngawi ini tidak mematikan sentra ekonomi di Kota Solo. Okupansi hotel tetap tinggi, dan jarang sekali ditemukan tempat makan yang sepi selama libur lebaran, semuanya dalam keadaan ramai. Saking ramainya, pembersihan pusat kuliner baru efektif dilakukan usai libur lebaran.

“Dulu banyak yang khawatir Solo nggak dihampiri orang karena mereka bablas dari Jakarta ke Jawa Timur tanpa berhenti di Solo. Buktinya kan enggak. Cari tempat makan sepi juga susah, karena ramainya luar biasa,” tandas Rudy.

Mengurai Kemacetan Kota Solo

Ari melanjutkan, operasional jalan Tol Solo-Ngawi merupakan solusi ampuh dalam menekan kepadatan kendaraan pemudik di berbagai ruas jalan Kota Bengawan selama arus mudik dan balik lebaran. Secara umum, kepadatan justru terjadi di berbagai kawasan di dalam kota, terutama pusat perbelanjaan, pusat kuliner, jalur keluar masuk pasar tradisional dan modern, serta central bussiness district (CBD) lainnya.

Hal lain yang mengindikasikan efektifnya Tol Solo-Ngawi sebagai jalur pengurai kendaraan pemudik tersebut adalah menumpuknya kendaraan menuju pintu masuk dan keluar tol selama berlangsungnya arus mudik dan balik. Pintu keluar tol tedekat dengan Solo yakni Jalan Adisumarmo yang berada di kawasan Klodran, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar.

“Mulai tahun ini, kami juga menempatkan petugas dan perangkat traffic counting di exit tol Jalan Adisumarmo. Dari perangkat ini bisa diketahui pengaruh jalan tol sangat besar terhadap kelancaran arus di Kota Solo selama arus mudik dan balik,” tuturnya.

Koridor Jenderal Sudirman juga menjadi titik kepadatan baru, lanjut Ari, terutama di depan Balai Kota Surakarta. Di tempat tersebut terdapat ruang publik terbuka yang dimanfaatkan warga dan wisatawan selama libur lebaran tahun ini. Kepadatan kendaraan bahkan terpantau hingga kawasan Sangkrah dan simpang Ketandan. Beruntung, pihaknya telah mengantisipasi potensi kemacetan tersebut jauh-jauh hari.

“Di depan Balai Kota telah diterapkan manajemen rekayasa lalu lintas. Kendaraan yang melintas di Jalan Jenderal Sudirman dari selatan diluruskan terus, karena jalur crossing dari arah timur dan utara dihilangkan,” terang Ari.