Mahasiswa UNS dan Politeknik Semarang Kenalkan Konsep Green Village di Desa Mlokomanis Wetan

Konsep Green Village merupakan jawaban atas kepedulian lingkungan dalam program pengembangan Desa Mitra Mlokomanis Wetan. (Foto: Desa Mlokomanis Wetan)

Ngadirojo – Di Desa Mlokomanis Wetan, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri terdapat industri tahu yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Adanya industri tahu ini telah membawa masyarakat Desa Mlokomanis Wetan, terutama Dusun Bakalan memiliki ekonomi yang lebih baik. Kini, potensi industri ini pun tidak hanya ada di Dusun Bakalan, tetapi telah merambah ke dusun-dusun lainnya.

Industri tahu ini merupakan salah satu klaster industri rumah tangga yang banyak mendapat sorotan dari segi lingkungan. Semakin pesat perkembangan industri tahu, akan berdampak positif bagi kemajuan pendapatan ekonomi masyarakat desa. Namun demikian, limbah yang dihasilkan dari proses produksi akan berdampak negatif bagi lingkungan desa menjadi berbau dan kotor.

Melihat kekhawatiran akan dampak negatif tersebut, para mahasiswa tergerak untuk mengenalkan konsep Green Village atau Desa Hijau untuk memperbaiki kondisi lingkungan. Mereka adalah Sri Mulyati, Suparni Setyowati Rahayu, dan Totok Prasetyo dari Politeknik Negeri Semarang, serta Okid Parama Astirin dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Konsep ini merupakan jawaban atas kepedulian lingkungan, yang tertuang dalam Program Pengembangan Desa Mitra Mlokomanis Wetan.

Mereka melihat air limbah tahu dari industri kecil yang berada di pedesaan tersebut sangat berpotensi terhadap pencemaran lingkungan apabila dibuang langsung tanpa adanya pengolahan. Pencemaran tanah dapat terjadi apabila air limbah merembes ke dalam tanah dan dapat mengakibatkan air sumur penduduk yang dekat dengan rembesan air limbah tersebut tidak dapat dimanfaatkan lagi.

“Oleh karena itu diperlukan pengembangan teknologi untuk pengolahan air limbah yang dapat menghasilkan biogas sebagai energi terbarukan, yang dapat dikembangkan sehingga bermanfaat bagi penduduk pedesaan,” tulis mereka dalam sebuah laporan penelitian.

Memanfaatkan Air Limbah Industri Tahu

Dalam laporan penelitian tersebut dikatakan, penggunaan metode pengelolaan limbah ini tidak hanya bersifat penanganan, namun juga memiliki nilai guna sebagai energi terbarukan dan limbah cair yang keluar dari digester dimanfaatkan untuk pengairan lahan pertanian, serta lumpurnya dijadikan sebagai pupuk organik. Sehingga, teknologi ini dapat menurukan padatan pencemaran berkisar 75-90 persen.

“Teknologi yang digunakan sederhana, mudah dipraktikkan dengan peralatan yang relatif murah dan mudah didapat, sehingga para pelaku industri kecil dan menengah tidak lagi beranggapan bahwa pengolahan air limbah tahu merupakan beban yang sangat mahal,” tambah mereka.

Dari penerapan metode tersebut, teknologi yang dihasilkan berupa gas metana yang merupakan energi terbarukan dari hasil konsep recycle, yang diterapkan dalam proses pengolahan air limbah industri tahu. Hasil ini sangat menguntungkan bagi pelaku bisnis, karena selain limbahnya tertangani dengan baik, juga dapat dihasilkan sumber energi terbarukan.

“Dikarenakan limbah cair dapat tertangani, mengakibatkan desa menjadi bersih dan siap untuk melakukan penghijauan di sekitar rumah penduduk menuju green village,” kata mereka.

Dalam program ini, mereka melibatkan kelompok mitra, yaitu Gapoktan Rejo Tani dan Kawita Sakinah. Kedua kelompok tersebut bisa memanfaatkan air limbah yang keluar dari digester untuk saran pengairan serta lumpur dari digester yang bisa digunakan sebagai pupuk organik.

Selama ini, untuk keperluan pengairan dan pupuk, kedua kelompok ini masih menggunakan pupuk kimiawi yang menyebabkan ongkos produksi pertanian menjadi tinggi. Apabila pengairan disubtitusi menggunakan air limbah yang keluar dari digester, maka kelompok Gapoktan dan Kawita akan mendapatkan sumber pengairan yang kaya nutrien, sedangkan para pelaku usaha tahu akan mendapatkan sumber energi alternatif yang bermanfaat untuk proses produksi tahu.