Dukung Pertumbuhan Koperasi dan UMKM, Bupati Sukoharjo Batasi Koperasi Bodong

Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya. (Pemkab Sukoharjo)

Bendosari – Dalam upaya mendukung pertumbuhan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya mengatakan telah melakukan berbagai program, salah satunya dengan membatasi koperasi bodong (tidak berizin).

Pengembangan ekonomi mikro melalui koperasi, UMKM, dan Program Keluarga Harapan (PKH) dilakukan melalui anggaran belanja langsung untuk Dinas Perdagangan, Koperasi UKM tahun 2018 sebesar Rp 19,071 miliar, serta sebanyak Rp 1,012 miliar diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sukoharjo.

“Khusus koperasi dari 378 unit koperasi, ada 73 unit (19,7%) tidak RAT dan tapi lebih banyak yang RAT yakni 305 buah (80,7%),” jelasnya di Kantor Bupati.

Selain itu, imbuh Bupati, upaya tersebut juga diwujudkan dengan adanya sejumlah bangunan yang menjadi komoditi ekonomi mikro di Sukoharjo seperti Gedung Pusat Promosi dan Potensi Daerah (GPPPD) Sukoharjo, Pasar Jamu Nguter, dan Pasar Ir. Soekarno, serta renovasi pasar.

“GPPPD merupakan bangunan satu-satunya di Jawa Tengah untuk UMKM, dan Pasar Jamu Nguter merupakan pasar jamu terbesar se-Indonesia,” imbuhnya.

Perlu Ikuti Perkembangan Zaman

Pemberdayaan UMKM dan koperasi merupakan langkah strategis dalam meningkatkan dan memperkuat dasar kehidupan perekonomian dari sebagian besar rakyat Indonesia, khususnya melalui penyediaan lapangan kerja dan mengurangi kesenjangan dan tingkat kemiskinan. Menurut Kementerian PPN/Bappenas, upaya untuk memberdayakan UMKM harus terencana, sistematis, dan menyeluruh baik pada tataran makro maupun mikro, yang meliputi:

Pertama, pencipataan iklim usaha dalam rangka membuka kesempatan berusaha seluas-luasnya, serta menjamin kepastian usaha disertai adanya efisiensi ekonomi. Kedua, pengembangan sistem pendukung usaha bagi UMKM untuk meningkatkan akses kepada sumber daya produktif sehingga dapat memanfaatkan kesempatan yang terbuka dan potensi sumber daya, terutama sumber daya lokal yang tersedia.

Ketiga, pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif usaha kecil dan menegah (UKM). Keempat, pemberdayaan usaha secara mikro untuk meningkatkan pendapatan masyarakat yang bergerak dalam kegiatan usaha ekonomi di sektor informal yang berskala usaha mikro, terutama yang masih berstatus keluarga miskin. Selain itu, peningkatan kualitas koperasi untuk berkembang secara sehat sesuai dengan jati dirinya dan membangun efisiensi kolektif, terutama bagi pengusaha mikro dan kecil.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Business Development Services Indonesia (ABDSI) Korda Bantul, Yogyakarta, Azfa Mutiara Ahmad Pabulo memandang perlu adanya pembentukan ruang-ruang kreatif yang berbasis pada penciptaan suasana kondusif bagi pelaku bisnis dan komunitas sehingga dapat mengakomodasi kreativitas. Menurutnya, sinergi antara ekonomi kreatif dengan UMKM merupakan sebuah model pengembangan peningkatan penjualan produk dan jasa yang cukup potensial untuk dikembangkan dengan melakukan tambahan kegiatan kreatif untuk mengembangkan UMKM.

“Untuk mengembangkan UMKM melalui ekonomi kreatif dibutuhkan konektivitas, yaitu dengan menciptakan outlet produk-prouk kreatif UMKM di lokasi yang strategis,” terangnya.

Berbagai platform dan program pengembangan juga penting untuk dilakukan. Seperti misalnya yang telah dilakukan di wilayahnya, yang mencakup: LUNAS (Layanan UMKM naik kelas) dengan 3 (Tiga) Go (UMKM Go Modern, UMKM Go Digital, dan UMKM Go Global); KEJAR UMKM (Kelompok Belajar UMKM) dan CKU (Cek Kesehatan Usaha); Sekolah Ekonomi Desa; Sekolah Manajemen BUMDES; Pelatihan SiApik dan Pencatatan Transaksi Keuangan ber basis android; serta beberapa program kegiatan lainnya telah mewarnai kegiatan pendampingan dan pengembangan UMKM di DIY dengan tujuan pengembangan kapasitas UMKM (UMKM naik kelas).

Presiden Joko Widodo pun menilai pentingnya pengembangan UMKM dengan mengikuti perkembangan teknologi. Memasuki era revolusi industri 4.0, Presiden berharap UMKM dapat berubah mengikuti perkembangan teknologi. Perkembangan digitalisasi, artificial intelligence, internet of things, advance roboting dan crypto currency adalah diantara perubahan yang harus diantisipasi dan dikuti.

“Kecepatan seperti ini yang pengusaha harus sadar bahwa ada perubahan yang begitu cepat yang juga harus diikuti,” pesannya.

Add Comment