Bermula dari Bersih-bersih, Komunitas Anak Kali Pring Kuning Ubah Sungai Kotor Jadi Destinasi Wisata

Kehadiran destinasi wisata Kali Pring Kuning berawal dari kegiatan bersih-bersih sungai. Kegiatan itu merupakan bentuk keprihatinan karang taruna Dusun Sayuran atas kondisi sungai yang kotor. (Foto: Kali Pring Kuning)

Ngargoyoso – Baru dibuka dua tahun, namun obyek wisata Kali Pring Kuning di Dusun Sayuran, Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar ini hampir selalu ramai dikunjungi wisatawan yang ingin merasakan keseruan river tubing, terutama saban hari libur.

Destinasi wisata ini menyajikan wahana yang mampu memacu adrenalin, bertualang menyusuri sungai dengan cara river tubing. Jalur sungai yang memiliki sejumlah jeram mampu membuat siapa saja berteriak keras. Penampakan batu-batu besar di sungai juga bisa membuat peserta river tubing merasakan sensasi mendebarkan. Namun di samping itu, ada pemandu yang siap menjaga keamanan para wisatawan.

Arus deras sungai tak jarang membuat ban yang ditumpangi terbalik dan menambah keceriaan para wisatawan. Jalur Kali Pring Kuning yang digunakan untuk river tubing sepanjang 1,3 km dapat disusuri dalam waktu kurang lebih 25 menit dan mampu membuat pesertanya merasa cukup puas.

Kali Pring Kuning berarti sungai bambu kuning. Sumber mata air sungai ini berada di sekitar bambu kuning. Hal inilah yang menjadi asal muasal penamaan Kali Pring Kuning. Kehadiran obyek wisata ini sekaligus menambah destinasi wisata di Kecamatan Ngargoyoso selain Candi Sukuh, Kawasan Kebun Teh Kemuning, dan lainnya.

Menambah Pemasukan Desa

Namun siapa sangka, dibalik keseruan wisata tersebut, jauh sekitar empat tahun yang lalu Kali Pring Kuning ternyata hanyalah sungai kotor. Ketua Pengelola Kali Pring Kuning Budi Harnanto membenarkan sungai tersebut dulunya tampak memprihatinkan. River tubing pun tidak muncul begitu saja. Satu hal yang menurutnya menarik, destinasi tersebut berawal dari kegiatan bersih-bersih sungai. Kegiatan itu merupakan bentuk keprihatinan karang taruna Dusun Sayuran atas kondisi sungai yang kotor.

“Sekitar empat tahun yang lalu, karang taruna dusun kami sebenarnya tidak langsung membuat wahana river tubing, tetapi karena peduli dengan lingkungan sungai. Jadi mengadakan kegiatan bersih sungai dan menjaga habitat sungai,” terang Budi.

Pria yang akrab disapa Pak Bho itu menjelaskan bahwa dulunya sungai tersebut merupakan tempat pembuangan sampah. Usai dilakukan bersih-bersih, muncul ide untuk membuat destinasi wisata river tubing. Ide tersebut terinspirasi dari banyaknya destinasi wisata yang bermunculan di Kecamatan Ngargoyoso pada saat itu.

“Selain tubing, ada wisata selfie dan yang utama adalah agrowisata Kebun Teh Kemuning,” jelas Pak Bho.

Mengingat destinasi wisata bisa menambah pemasukan daerah, maka ide itu semakin yakin untuk direalisasikan. Di samping itu lingkungan juga terlihat semakin indah, bebas dari tumpukan sampah. Maka, jadilah 20 orang anggota Komunitas Anak Kali Pring Kuning mengumpulkan dana dengan cara patungan. Mereka mulai membeli perlengkapan standar seperti ban, helm, pelampung, pelindung lutut, dan lainnya.

“Memang awalnya kami patungan, jadi semua kami biayai sendiri. Tidak ada sama sekali semacam investor atau yang memberi dana,” kisahnya.

Selama masa persiapan, komunitas ini juga melakukan penataan jalur sungai selama sekitar satu tahun lamanya agar cocok untuk river tubing. Penataan tersebut dilakukan dengan hanya menggeser batu yang dirasa menghalangi jalur sungai, tidak dibuang, apalagi dijual, sehingga keasrian sungai tetap terjaga dengan adanya bebatuan tersebut. Anggota komunitas pun sempat mendapatkan pelatihan agar lebih siap mengelola destinasi wisata.

“Sebelum membuka wahana itu, kami ikut pelatihan. Kebetulan ada teman dari Klaten bernama Mas Reza yang memberi berbagai pelatihan tentang river tubing seperti water rescue. Jadi kita ada pelatihannya,” ujar Pak Bho.

Pengelolaan river tubing Kali Pring Kuning, lanjut Pak Bho, sudah menerapkan standar SOP. Selain ada pemetaan sungai, pengelola juga telah mengikuti bebagai seminar atau workshop tentang kepedulian lingkungan yang diadakan berbagai pihak. Selain river tubing, pengelola Kali Pring Kuning juga menyediakan pilihan lain untuk para wisatawan, yakni tracking dan fun game.

Kini keuntungan dari river tubing menjadi pemasukan desa. Selain itu, river tubing Kali Pring Kuning juga mampu memberdayakan karang taruna sebagai pengelolanya yang tergabung dalam Komunitas Anak Kali Pring Kuning.

“Di samping menjaga kebersihan sungai, bisa nambah income buat kita-kita, jadi warga juga punya penghasilan. Ini warung sekitar punya warga sini,” imbuhnya.

Terakhir, Pak Bho menambahkan, tidak semua komunitas berorientasi hura-hura. Ada juga yang melakukan upaya positif bagi lingkungannya, masyarakat, bahkan dunia pariwisata. Buktinya seperti yang sudah dilakukan oleh Komunitas Anak Kali Pring Kuning, di Dusun Sayuran, Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar ini.

Add Comment