Perpustakaan UNS dan Internasional Office Satukan Generasi Muslim dalam Bingkai Literasi Religi

Dua mahasiswa asing asal Libya menjadi pengisi acara dalam kegiatan literasi religi bertajuk Libyan Day. (Foto: uns.ac.id)

Surakarta – Memasuki pekan kedua Ramadan, Perpustakaan UNS bekerjasama dengan Internasional Ofiice UNS menggelar kegiatan Literasi Religi bertajuk Libyan Day. Kegiatan yang berlangsung di lobi perpustakaan tersebut bertujuan untuk memberikan wawasan global perihal literasi kepada generasi muslim di bulan puasa.

Ketua UPT Perpustakaan UNS Muhammad Rohmadi menjelaskan, kegiatan diskusi tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional pada 17 Mei 2019. Dirinya berharap kegatan ini bisa memberikan motivasi bagi para pemustaka untuk terus berliterasi dengan rajin menulis dan membaca (ratulisa).

“Semoga memberikan motivasi yang baik untuk menyibak jendela dunia, demi kemajuan dan kejayaan NKRI,” tutur Rohamdi.

Rohmadi melanjutkan, kegiatan ini merupakan bentuk komitmen untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI sebagai wujud pengembangan literasi budaya bagi seluruh generasi muda Indonesia. Sikap toleransi dalam bingkai kebhinekaan bisa ditanamkan melalui sikap menghargai, peduli, dan kasih sayang melalui literasi religi.

Libyan Day

Sementara itu, Kepala UPT Internasional Office UNS M. Taufik Al Makmun memaparkan, program sharing day di kesempatan Ramadan ini menghadirkan dua mahasiswa asing asal Libya yang sedang menempuh studi di UNS sebagai pengisi acara untuk berbagi cerita dan pengalaman muslim dari luar negeri.

Ia berharap, hadirnya dua mahasiswa asing bernama Ayoub dan Ibrahin tersebut banyak memberikan motivasi dan inspirasi untuk saling bertoleransi antarnegara.

“Semoga dapat menyatukan semua generasi muslim dalam dan luar negeri dalam satu bingkai cerita literasi religi,” harapnya.

Pada kesempatan tersebut, Ayoub dan Ibrahim membagikan pengalaman mereka selama tinggal di Indonesia, terutama saat menjalankan ibadah puasa. Bagi mereka, menjalankan puasa di Indonesia tidak mudah lantaran cuaca dan makanan yang mereka temui jauh berbeda dengan tempat asal mereka.

Rindu kepada orang tua dan sanak saudara pun harus mereka tahan untuk sementara waktu. Mereka berdua harus terbiasa menikmati menu sahur dan buka puasa tanpa keluarga. Hal ini menjadi salah satu tantangan dalam menjalankan ibadah di bulan suci.