Lima Ijazah

Beruntung saya bisa mengikut safari Ramadhan Syeikh Ali Jaber dan Syeikh Thaha al Junayd beberapa hari lalu di Masjid Raya Fatimah Solo. Salat tarawih dengan imam Syeikh Thaha al Junayd yang sudah amat dikenal oleh masyarakat Indonesia sejak beliau masih anak-anak ini amatlah berkesan. Bacaan al Qur’annya begitu lembut. Salat jadi terasa nikmat dan khusyu’.

Setelah salat tarawih dan witir, tibalah saatnya ceramah dari Syeikh Ali Jaber. Saya sudah beberapa kali mengikuti ceramah beliau di TV. Namun baru kali ini secara langsung. Mantab, powerfull.

Di awal ceramah, beliau banyak bercerita tentang latar belakang keluarga beliau hingga bisa tinggal di Indonesia hingga akhirnya mendapatkan kewarganegaraan Indonesia. Insya Allah soal ini akan saya tulis di lain kesempatan.

Lebih baik saat ini saya tulis dulu lima ijazah dari beliau di bagian akhir ceramahnya. Saya anggap ini penting, mengingat Ramadan sudah berjalan separo.

Ijazah yang pertama, mulai saat ini harus mulai berlomba-lomba untuk bisa berada di shaf pertama saat salat berjama’ah di masjid. Jangan suka berada di shaf kedua, ketiga dan selanjutnya.

Kebiasaan yang berjalan di masjid-masjid kita, banyak orang suka memilih untuk berada di shaf belakang. Padahal, siapa saja yang berada di shaf pertama 3 kali didoakan Kanjeng Nabi SAW. Doa beliau, “Yaa Allah, rahmati yang salat di shaf pertama.

Para sahabat bertanya, “Yaa Rasulullah, bagaimana yang shaf kedua? Tetap saja beliau berdoa, “Yaa Allah, rahmati yang salat di shaf pertama. Kembali para sahabat bertanya, “Yaa Rasulullah, bagaimana yang di shaf kedua? Kanjeng Nabi kembali berdoa, “Yaa Allah rahmati yang salat di shaf pertama. Jadi 3x. Baru yang keempat beliau berdoa, “Yaa Allah rahmati yang sholat di shaf kedua dan selanjutnya”.

Siapa yang tidak ingin didoakan oleh Rasulullah? Siapa yang tidak ingin hidupnya dirahmati Allah?

Para sahabat saking cintanya dengan shaf pertama, semua berlomba memperebutkannya. Karena semua berebut, maka akhirnya dibuat undian. Siapa yang mendapatkan undian, dia yang berhak maju di shaf pertama.

Kedua, kalau selama ini sering tertidur saat salat Subuh, mulai sekarang jangan sampai terlewat salat Subuh berjamaah di masjid. Terlebih lagi di bulan Ramadan seperti saat ini.

Sabda Kanjeng Nabi, “Telah datang bulan yang mulia. Tunjukkanlah yang terbaik darimu”. Apa yang terbaik? Yang terbaik dari salat kita. Termasuk salat dengan posisi di shaf pertama tadi. Terbaik tilawah Qur’an, terbaik dengan sedekah kita, menuntut ilmu dan masih banyak lagi lainnya.

Mumpung di bulan mulia perbanyakkah sholat malam kita. Boleh tahajud setelah kita tidur dan sebelum adzan Subuh. Kalau witir cukup hanya sekali saja dalam 1 malam. Rasulullah melarang ada 2 witir dalam 1 malam.

Ketiga, jangan sampai terlewat 1 haripun tanpa membaca al Qur’an. Kalau bisa rutin 1 halaman sebelum dan sesudah salat. Maka tidak akan terasa berat untuk bisa selesai 1 juz dalam sehari sehingga bisa 1 kali khatam di bulan Ramadhan ini.

Mengkhatam al Qur’an tidak harus 1 kali duduk 1 juz. Bisa dicicil. Bertahap sedikit demi sedikit. Sedikit namun istiqomah lebih baik daripada banyak namun hanya sekali saja lantas berhenti lama.

Keempat, sedekah Shubuh. Rasulullah terkenal kedermawanannya. Namun lebih terlihat kedermawanannya di bulan Ramadan. Memang sedekah bisa kapan saja. Itu baik. Namun ada yang lebih bagus yakni sedekah di waktu Subuh.

Setiap waktu Subuh, Allah turunkan malaikat khusus. Untuk apa? Hanya 1 tugasnya. Mendoakan orang yang bersedekah di waktu Subuh. Maukah didoakan malaikat?

Caranya bisa diatur sendiri. Ke mana harus sedekah. Tidak perlu repot-repot mencari anak yatim di waktu Subuh. Bisa membuat kotak infaq sendiri di rumah. Setiap selesai salat Subuh isilah kotak infaq tersebut.

Jangan lupa berdoa setelah bersedekah. Termasuk sebaik-baik pengantar doa adalah sedekah dan membaca al Qur’an.

“Ya Allah dengan berkah sedekah Shubuh ini, sembuhkan penyakitku, lunasi hutangku, mudahkan rejekiku, lindungi anak-anak kami, beri kami keturunan, jadikan anak-anak kami penghafa al Qur’an”. Silakan berdoa sesuai dengan hajat masing-masing.

Akan lebih baik sesuaikan sedekahnya dengan hajatnya. Jangan sedekah recehan namun hajatnya luar biasa hebatnya. Bukannya tidak boleh, namun mestinya kita malu dengan Allah.

Boleh juga bersedekah diatasnamakan untuk orangtua kita yang sudah wafat. “Yaa Allah demgan berkah sedekah Subuh ini, kami mohon berikan pahalanya untuk orangtua kami yang telah wafat”.

Jaga agar bisa istiqomah. bisa jadi pilihan juga dipilih sedekah dengan memakai aplikasi sedekah yang bisa secara otomatis terkirim sedekah kita dengan waktu yang bisa kita pilih juga. Ini pasti lebih terjaga kerutinannya.

Kelima, berdoa menjelang berbuka puasa. Sayang sekali di banyak acara berbuka puasa kurang dimanfaatkan untuk berdoa dengan sungguh-sungguh. Namun lebih sibuk mengurusi makanan dan minuman untuk berbuka. Ngobrol. Bersenda gurau.

Padahal berdoa saat berbuka sangat diijabah oleh Allah. Sabda Nabi, “Doanya orang yang berbuka puasa tidak akan ditolak oleh Allah”.

Mulai saat ini sangat patut diperhatikan oleh para pengurus ta’mir masjid untuk lebih memperhatikan hal ini jika mengadakan acara berbuka puasa bersama. Demikian juga saat berbuka di rumah atau sedang di luar rumah dengan keluarga.

*Suwantik. Akrab disapa Mas Wantik, merupakan penulis buku Wong Kang Soleh Kumpulana.