Dukung Rumah Baca Karangasem, Budhi Hartanto Bertekad Bangun Masyarakat Sadar Literasi

Perpustakaan Keliling Pemkot Solo di area Car Free Day. (Pemkot Surakarta)

KARANGASEM, Laweyan — Informasi dan kualitas masyarakat ibarat telur dan ayam. Informasi yang benar berimplikasi pada masyarakat berkualitas. Sementara hanya masyarakat berkualitaslah yang mampu mermproduksi informasi yang benar. Telur dulu, atau ayam dulu? Lantas mana yang perlu didahulukan; produksi informasi yang benar atau masyarakat yang berkualitas?

“Salah satu problem serius yang dilahirkan era informasi adalah maraknya informasi yang destruktif. Kita membutuhkan skema kontinu tentang kemampuan literasi masyarakat. Kita membutuhkan budaya membaca serta beranggapan bahwa buku adalah jendela ilmu,” ujar politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Solo, Budhi Hartanto, di rumahnya, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, masyarakat yang tidak gemar membaca cenderung gegabah menerima informasi, dengan tanpa melakukan cek dan ricek terlebih dahulu. Bagi Budhi, masyarakat yang berkualitas menentukan banyak hal konstruktif selanjutnya, termasuk informasi yang benar.

Belum lama, Calon Legislatif (Caleg) PKS Solo Daerah Pemilihan (Dapil) II Laweyan ini intens mendukung pendirian rumah baca Kelurahan Karangasem, Kecamatan Laweyan. Program ini sedang diinisiasi dan dimatangkan konsepnya oleh Remaja Masjid Nur Muhammad Karangasem.

“Rumah baca bukan sekadar tempat koleksi buku seperti perpustakaan. Rumah baca sedianya dapat memfasilitasi proses penemuan minat dan bakat anggotanya, selanjutnya menyediakan bacaan yang sesuai untuk mengembangkan minat bakat tersebut,” terangnya.

Membangun kesadaran literasi warga, sambungnya, bukanlah hal mudah. Selain tradisi membaca masyarakat yang kurang kuat, kini gempuran budaya visual yang didukung teknologi informasi sungguh sulit dibendung.

“Warga kita lebih memilih televisi, browsing, dan You Tube. Video bagi sebagian kalangan sudah merepresentasi informasi yang dicari. Padahal, bila ditilik lebih dalam, video juga memiliki kelemahan, yakni kurang dapat mewakili referensi literasi yang sesungguhnya. Misal sederhana, film yang diproduksi based on novel, bisa jadi tidak lebih menarik dari novel aslinya,” papar Budhi.

Ia berkeyakinan, sadar literasi lebih mirip investasi jangka panjang. Karena, budaya membaca yang terinternalisasi dalam diri setiap warga, kemudian berdampak positif pada masyarakat, haruslah dipupuk, hari per hari, disertai keteladanan yang tidak boleh kendur sedikit pun. Tanpa itu, alangkah sulitnya mengharapkan informasi yang benar dan berkualitas.

“Kalau fondasinya sudah ada, yakni rumah baca berikut sadar literasi, secara bertahap, masyarakat kita dengan sendirinya akan membentuk miliu yang lebih baik. Mulai dari membiasakan diri membaca buku hingga menjadikan buku sebagai referensi penting setiap aktivitas kemasyarakatan. Puncaknya, kita nanti akan lazim dengan pemandangan, orang membaca di setiap sudut kota,” ucapnya optimis.

Periksa Mata dan Subsidi Kacamata

Pada spektrum yang lebih luas, Budhi berpandangan, program bakti sosial (baksos) berupa periksa mata dan subsidi kacamata menjadi relevan. Hal itu merupakan bentuk layanan tambahan bagi warga yang suka membaca tapi memiliki gangguan penglihatan, karena mata minus atau plus. Baksos tidak lagi sebatas pemenuhan sembako, tapi sudah bergeser ke urgensi lebih tinggi, yakni dukungan pada masyarakat pro-literasi.

“Ide ini sekilas aneh. Tapi menurut saya, penting diketengahkan. Pada kasus-kasus sederhana, banyak ditemukan para lansia yang sebenarnya tertarik pada surat kabar, tapi kurang bisa maksimal serapan informasinya, karena tidak berkaca mata atau memiliki persoalan pada kesehatan mata,” ungkap Budhi.

Caleg PKS Solo Dapil II Laweyan, Budhi Hartanto. (Albicia Hamzah)

Faktanya, meski internet sudah begitu membudaya dalam masyarakat, generasi ‘lawas’ masih mempertahankan budaya baca dengan membaca surat kabar atau buku. Budhi melihat, pada masanya nanti, setiap orang akan menemukan titik jenuhnya dalam mengkonsumsi video dan berkebutuhan pada referensi autentik, yakni buku.

“Katakanlah sekarang para senior ini tampak seperti kurang update atau terlambat mengolah informasi. Suatu saat nanti, generasi digital akan membutuhkan kolaborasi dengan generasi lawas, karena para senior memiliki autentisitas yang terjaga. Autentisitas yang tidak dimiliki oleh era overload informasi,” kata Budhi.

Literasi Informasi

Secara teoretis, Budhi Hartanto sesungguhnya tengah fokus pada literasi informasi. Ia tengah mengupayakan titik kompromi antara era digital yang masif di satu sisi dan urgensi literasi di sisi lainnya.

“Kemampuan seseorang untuk mengartikulasikan kebutuhan informasinya, mengidentifikasi, menemukan, dan mengevaluasi sumber-sumber informasi yang ditemukan serta kemampuan untuk menggunakan informasi tersebut, dapat menjadi kekuatan utama, baik buruknya bangsa dan negara,” jelasnya.

Lembaga pendidikan berperan penting untuk menyukseskan program literasi informasi. Secara teknis, diperlukan kerja sama antara staf pengajar dan pustakawan.

“Pustakawan memiliki tanggung jawab untuk mengenali dan menyediakan sumber-sumber informasi yang dibutuhkan oleh peserta didik dalam proses pembelajarannya sekaligus mengajarkan literasi informasi. Kemandirian mengelola informasi, tujuannya,” tutup Budhi.