Pemkab Sragen Dorong Anak-anak Difabel Tetap Sekolah Agar Mandiri

Kampanye positif pemenuhan hak difabel di bidang pendidikan bertajuk
“We Ring The Bell” di Pendapa Rumah Dinas Bupati Sragen, Rabu (13/3/2019). (Pemkab Sragen)

SRAGEN—Semua anak berhak untuk mendapatkan pendidikan atau bersekolah, termasuk anak-anak difabel. Sikap optimisme dan percaya diri juga perlu dibangun agar mereka berani tampil dan mandiri.

Hal itu diungkapkan oleh Wakil Bupati Sragen, Dedy Endriyatno saat menghadiri acara “We Ring The Bell” kampanye positif dan talk show pemenuhan hak difabel di bidang pendidikan di Pendapa Rumah Dinas Bupati Sragen, Rabu (13/3/2019).

“Kita akan terus berupaya semaksimal mungkin untuk memenuhi hak pendidikan kaum difabel di Kabupaten Sragen ini,” kata Dedy seperti dikutip di Sragenkab.go.id. Ia juga mengapresiasi kegiatan kampanye positif itu demi terwujudnya Sragen sebagai Kota Inklusi.

Turut hadir di acara tersebut puluhan anak difabel usia sekolah asal SLB Negeri Sragen. Kemudian perwakilan dari Kementerian Pendidian dan Kebudayaan Tita Srihayati, Kepala Dinas Sosial Sragen Supriyanto, Koordinator Lapangan Pusat Pengembangan dan Pelatihan Rehabilitasi Bersumber Daya Masyarakat (PPRBM) Solo Christian Pramudya, perwakilan dari Netherlands Leprosy Relief (NLR) Indonesia Widya Prasetyawati, serta perwakilan Dinas Pendidikan Jateng.

Dalam laporannya, Koordinator Lapangan PPRBM Solo, Christian Pramudya mengapresiasi upaya Pemkab Sragen dalam mendorong penyandang disabilitas untuk berani tampil.

“Melalui dukungan dari NLR Indonesia, kita mencoba untuk bersama-sama membangun sebuah komitmen pendidikan bagi anak anak berkebutuhan khusus. Mereka punya bakat dan potensi luar biasa yang bisa dikembangkan,” ujar Christian.

Ia pun menekankan pentingnya pendidikan bagi anak disabilitas untuk meningkatkan kemampuan mereka. Kemudian, dukungan dari keluarga, mental positif dari diri sendiri, dan dukungan lingkungan juga sangat membantu tumbuh kembang anak disabilitas.

“Jumlah anak disabilitas terdata ada 555 anak dengan rentang usia 0-18 tahun. Dari jumlah itu 50 persen di antaranya telah menempuh pendidikan, sedangkan sisanya belum menempuh pendidikan dan tidak menempuh pendidikan,” jelas Christian.

Berhak Sekolah Dimanapun

Perwakilan NLR Indonesia, Widya Prasetyawati menambahkan, kegiatan tersebut juga dalam rangka mengingatkan semua orang bahwa semua anak Indonesia berhak untuk mendapatkan pendidikan, termasuk anak-anak difabel.

“Jadi semua anak difabel juga berhak untuk diterima di sekolah manapun dari mulai PAUD hingga perguruan tinggi,” ujar Widya. Selain acara talk show juga dimeriahkan dengan pertunjukan pentas musik angklung oleh anak-anak SLB Negeri Sragen. Sebelum acara dimulai puluhan anak-anak difabel itu juga membunyikan bel bersama-sama. Acara kemudian diakhiri dengan penandatanganan pernyataan sikap untuk mendukung anak-anak difabel tetap sekolah yang dipimpin oleh Wakil Bupati Sragen, Dedy Endriyatno.