Benteng Terakhir Perekonomian, Budhi Hartanto: UMKM Dapat Semakin Eksis dengan Ok Oce

Seorang pembatik tengah menyelesaikan pekerjaannya di Kampung Batik Laweyan. (Pemkot Surakarta)

KARANGASEM, Laweyan — Pada Krisis Moneter 1998, bersama petani, kalangan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) terbukti menjadi benteng terakhir perekonomian bangsa. Walhasil, krisis yang terjadi lantaran kehancuran konglomerasi bank tersebut tidak benar-benar berhasil menggoyahkan fondasi perekonomian nasional.

Penguatan UMKM kemudian menjadi agenda utama setiap pemerintahan, bila tidak menginginkan rusaknya fondasi perekonomian nasional. Salah satu caranya adalah dengan menjalankan Program One Kecamatan One Centre of Entrepreneurship (Ok Oce).

Hal ini disampaikan Caleg PKS Solo Dapil II Laweyan, Budhi Hartanto. UMKM, juga menjadi tulang punggung perekonomian Laweyan, khususnya, dan Kota Solo, pada umumnya.

“UMKM tidak dapat diabaikan. Sejumlah 3.200 UMKM di sektor produktif dan 43.700 UMKM yang masih potensial berpengaruh besar pada kesejahteraan warga Kota Solo. Apabila kita mampu menjaga UMKM, sumbangsih ini akan sangat terasa pada level nasional,” ujar Budhi di Rumah Aspirasi Prabowo Sandi, Jalan Parangkesit No. 35 Sondakan, Laweyan, Solo, beberapa waktu lalu.

Program Ok Oce merupakan program unggulan Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota (Pemprov DKI) untuk melahirkan 200 ribu pengusaha baru dengan membangun 44 Pos Pengembangan Kewirausahaan Warga di setiap kecamatan.

Kini, dari total pendaftar 60 ribu UMKM, sebanyak 50 ribu UMKM turut Program Ok Oce. Sementara UMKM yang memiliki izin usaha mikro kecil sejumlah 15 ribu. Statistik dengan pencapaian yang tidak mudah.

Caleg PKS Solo Dapil II Laweyan, Budhi Hartanto. (Albicia Hamzah)

Para peserta program semakin bertambah dan terus disinergikan, untuk berinvestasi dan menggalang dana di pasar modal. Tujuannya, menghasilkan nilai tambah bagi keluarga dan usaha yang dibangun, dengan dukungan pelatihan intensif pengenalan investasi di pasar modal serta teknik permodalan lainnya dibimbing para pelatih investasi yang kredibel dan berpengalaman.

“Menurut saya, Program Ok Oce dapat diterapkan di Kota Solo. Laweyan, salah satu basis produktifnya. Batik Laweyan, selain branded karena kualitas yang dijaga, juga secara historis, merupakan tempat kelahiran Sarekat Dagang Islam (SDI). Dua hal penting yang layak diperjuangkan sungguh-sungguh dengan cara-cara peka zaman seperti Program Ok Oce,” papar Budhi.

Ekspor, sambungnya, menjadi konsekuensi positif penerapan Ok Oce. Pada saatnya nanti, setiap kecamatan di Kota Solo dapat tampil menjadi eksportir-eksportir yang mampu menjual produk unggulan yang dimiliki. Bukan hanya kualitas prima, jejaring bisnis ini mengharuskan kolaborasi banyak pihak, termasuk pemerintah dan perguruan tinggi.

Praktisi, lanjut Budhi, berperan penting menjaga ritme usaha tetap stabil. Sementara perguruan tinggi, dapat diandalkan untuk memproduksi inovasi bisnis. Pemerintah menjadi simpul semua pihak agar perekonomian terus tumbuh dan maju.

“UMKM punya daya tahan luar biasa. Artinya, mereka dari sananya berotot kuat. Kolaborasi, kata kuncinya. Dengan berjamaah, kita dapat semakin kuat dan memberi arti lebih baik kepada daerah. Saling tahu, kelebihan dan kelemahan masing-masing, bukannya membangun kompetisi negatif, tapi justru menemukan peluang lebih besar yang dapat dikejar bersama,” kata Ketua Majelis Pertimbangan Daerah DPD PKS Solo periode 2015-2020 itu.

Profil Usaha, Pertama-tama

Lebih dalam, Budhi Hartanto menandaskan pentingnya profil usaha untuk membangun Program Ok Oce. Profil usaha sebagai identitas diperlukan untuk membangun kesan kuat serta memungkinkan konsumen dan mitra untuk lebih mengenal brand.

“Usaha rakyat membutuhkan reputasi bisnis. Brand image yang kuat, konsisten akan lebih memudahkankan konsumen untuk mengenali, mengingat, lalu membuat rekomendasi,” tutur Budhi.

Ia berpandangan, profil usaha, khususnya usaha berbasis daerah, terkadang kurang membutuhkan ekspose yang lebih, lantaran telah settled selama puluhan tahun. Pertumbuhan usaha tahap per tahap biasanya terbangun dari mulut ke mulut.

“Profil tidak berdiri sendiri. Pengemasan brand tidak harus melulu tentang barang atau jasa. Profil usaha yang saya maksud adalah representasi kemasyarakatan berisi semangat, budaya, bahkan cita-cita. Batik Laweyan, ketika tampil, mewarisi kekuatan turun-temurun jerih payah para pendahulu yang tidak pernah menyerah, membangun Kota Solo,” paparnya.

Oleh karena itu, Budhi mendorong lahirnya budaya pemilihan konten positif dan strategis bagi usaha daerah. Mengapa disebut ‘budaya’? Karena sekarang, tidak mudah menemukan konten serupa itu yang diproduksi sistematis, terukur, dan konsisten.

“Baik-buruk Kota Solo, salah satunya bersumber dari cara kita memberi tahu publik tentang siapa kita dan apa usaha yang kita lakukan. Dengan terbiasa berpikir dan berbicara positif, selanjutnya dapat berdampak pada aksi positif. Profil usaha pun mewakili semua itu,” pungkasnya.