Respons Revolusi Industri 4.0, Dina Hidayana Bertekad Kawal Ekonomi Kreatif


Caleg DPR-RI Dapil Jateng V, Dina Hidayana. (Dinahidayana.com)

GATAK, Sukoharjo — Era Revolusi Industri 4.0 tidak dapat ditolak. Memilih optimis, politisi Partai Golkar, Dina Hidayana, merespons era robotic dengan bertekad mengawal tumbuh-kembang ekonomi kreatif. Di samping banyak melibatkan kalangan milenial, bagi Caleg DPR-RI Dapil Jateng V ini, ekonomi kreatif memang bisnis masa depan.

“Industri generasi ke-4 mengintegrasikan dunia fisik, digital, dan biologis yang mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri, dan pemerintah. Pada era ini, rasanya sulit menemukan orang yang tidak memiliki gadget. Mereka bahkan mengembangkan bisnisnya sedemikian rupa, di luar jalur-jalur kebanyakan,” tuturnya saat dijumpai di kediamannya, RT 03 RW 06 Wironanggan, Gatak, Sukoharjo.

Menurutnya, ruang-ruang baru dapat dimasuki kalangan milenial, karena Revolusi Industri 4.0 menjamin inovasi yang terus berkesinambungan, semisal robot kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic), teknologi nano, bioteknologi, teknologi komputer kuantum, blockchain (misalnya, Bitcoin), teknologi berbasis internet, dan printer 3D.

“Artificial Intelligence, big data, hingga Internet of Things yang original dapat menjadi titik tumpu penting kemajuan daerah, apabila dapat dikelola dengan tepat,” tutur Dina.

Ekonomi kreatif, sambungnya, benar-benar menemui pasar yang sangat potensial pada era ini. Kekuatan media sosial yang mampu diandalkan untuk mendongkrak brand apa pun, misalnya, dapat menjadi prioritas berkembangnya ekonomi kreatif berbasis industri generasi ke-4.

“Potensi daerah yang sebegitu besarnya, justru banyak diketahui, setelah kemarin, Era Informasi secara masif masuk ke sendi-sendi sosial dan budaya masyarakat. Dokumentasi potensi daerah, hingga tingkat kampung dan dusun, baik dalam bentuk visual maupun studi khusus, mulai membudaya dan diminati, tanpa ada rate khusus,” ucap alumnus Magister Resolusi Konflik UGM tersebut.

Ia berpandangan, industri film, misalnya, tidak lagi didominasi produk-produk pasar. Film-film dokumenter, atau film pendek sekalipun, juga memiliki pemirsa yang semakin banyak. Padahal, ungkap Dina, dahulu, sangat sulit menemukan apresiasi yang pantas bagi sineas-sineas kreatif seperti itu.

Bukan hanya itu film, Dina menilai, festival, konser musik, ajang pesta olahraga, atraksi hiburan, juga Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) semakin mudah ditemukan dan terus menginspirasi publik.

“Generasi milenial, yakni mereka yang sekarang berusia 20-35 tahun mencapai 63 juta orang. Nah, mereka inilah pelaku dan konsumen terbanyak ekonomi kreatif. Sebuah potensi yang luar biasa untuk meningkatkan perekonomian daerah dan nasional,” tandas Pengurus DPP Partai Golkar Departemen Pemenangan Pemilu Jawa II tersebut.

‘Booming’ Bisnis Kuliner

Tidak dapat dipungkiri pula, era ini berhasil melahirkan keberlimpahan informasi tentang bisnis rintisan. Semua dinamika terasa berkembang sangat cepat dibanding era sebelumnya. Dina memproyeksikan, ekonomi kreatiflah yang dapat mengkover semua itu.

“Saya ambil contoh, bisnis kuliner. Belum juga saya datangi satu tempat, tempat lain sudah banyak mengantre, dengan penawaran yang tak kurang menariknya. Bisa jadi saya kurang suka dengan satu tujuan, tempat lainnya dapat melengkapi keinginan saya dalam berkuliner. Bahkan saya bisa menemukannya di gang-gang kecil atau di desa-desa yang dahulu, sangat sulit mendapatkan informasinya,” papar Dina.

Ia berharap, semua potensi besar tersebut dapat diolah dan dikembangkan lebih baik. Untuk membangun ekonomi kreatif, tentu saja dibutuhkan kreativitas dan ketekunan khusus. Nah, Dina berkomitmen untuk itu.

Add Comment