Wahyu Haryanto: Kreativitas Acara dapat Tingkatkan Perekonomian Kota Solo

Akuntan dan politisi PDI Perjuangan, Wahyu Haryanto. (Surakarta Daily/Arif Giyanto)

PAJANG, Laweyan — Daya tarik lokalitas Kota Solo ada pada kekayaan budaya serta kreativitas acara (event) yang digelar, bahkan hingga dua kali dalam seminggu. Bukan semata hiburan, masifnya acara dapat meningkatkan perekonomian Kota Solo.

“Daya tarik lokalitas menjadi hal yang sangat penting di tengah kebosanan terhadap budaya massa yang dibawa oleh kapitalisme global melalui era informasi dan teknologi yang semakin pesat dan pemberitaan yang semakin tidak terarah,” ujar tokoh Kota Solo, Wahyu Haryanto, mengawali obrolan bersama Surakarta Daily, Minggu (13/1/2019), di kantornya, PT Kana Javas Aryasatya Consultants, Jalan KH Agus Salim No. 27 C, Sondakan, Laweyan.

Ia menjelaskan, kini, pariwisata Indonesia menjadi salah satu sektor perekonomian penting. Selain peningkatan pendapatan warga dan menjadi mesin penggerak perekonomian, pariwisata merupakan sektor potensial dalam upaya pengurangan jumlah pengangguran.

“Berbagai jenis wisata dapat ditempatkan di mana saja. Oleh sebab itu, pembangunan kepariwisataan dapat dilakukan di daerah yang pengaruh penciptaan lapangan kerjanya paling menguntungkan. Industri pariwisata dapat membentuk mata-rantai usaha jasa pelayanan yang cukup panjang dan mampu menyerap ratusan tenaga kerja, baik formal maupun informal. Meningkatnya jumlah wisatawan memicu tumbuhnya destinasi baru dan berbagai bentuk atraksi wisata yang tidak dikenal sebelumnya,” papar Wahyu bersemangat.

Menurutnya, Kota Solo memiliki kekayaan budaya dan kreativitas. Hal tersebut dapat dilihat dari Kalender Acara Kota Solo 2018 yang berhasil menyajikan, setidaknya 62 acara pariwisata dan budaya.

Wahyu Haryanto menekankan pentingnya Pokdarwis dalam meningkatkan peluang wisata lokal. (Surakarta Daily/Arif Giyanto)

“Ini kan luar biasa. Hampir tiap minggu atau bahkan seminggu dua kali, ada kegiatan. Nah, jika banyaknya event budaya maupun pariwisata di Kota Solo ini, jika tidak benar-benar di-manage atau pun dikelola impact-nya atau orientasinya maka eman-eman (disayangkan—red) banget,” ucap politisi PDI Perjuangan itu.

Impact (dampak) atau orientasi yang ia maksud adalah peningkatan ekonomi warga.

“Kalau kreativitas sudah tentu. PR kita bersama adalah para penggerak pariwisata. Bahwa dengan banyaknya kegiatan yang diselenggarakan Kota Solo harus diorientasikan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, mulai dari para pelaku kegiatan, pendukung kegiatan, dan masyarakat. Jadi event ini bukan hanya semata-mata untuk hiburan dan citra Kota Solo semata,” kata Wahyu.

Pokdarwis sebagai Representasi Manajemen Wisata Lokal

Lebih dalam, Wahyu menandaskan, pengembangan pariwisata dan budaya di Kota Solo harus menjadi bagian integral dari perencanaan pembangunan kota, hingga regional bahkan nasional.

“Peran pemerintah, dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Dinas Kebudayaan, sangat penting dalam menentukan dan mengarahkan pengembangan pariwisata dan kebudayaan. Dinas terkait juga berkewajiban meningkat pengetahuan dan keterampilan masyarakat lokal, melalui kegiatan sosialisasi, pelatihan, dan kegiatan lainnya,” terang tokoh yang berprofesi sebagai akuntan tersebut.

Fasilitasi yang penting, misalnya, pelatihan pembuatan cinderamata, pemanduan wisata, dan kegiatan lain yang mengarah pada penguatan potensi lokal, sehingga dapat menguatkan kreativitas masyarakat dalam menangkap peluang dari banyaknya acara di Kota Solo.

“Sebagai langkah strategis sekaligus memperkuat manajemen lokal guna percepatan pengembangan wisata dan kebudayaan yang ada di Solo maka optimalisasi kerja sama dari semua stakeholder penggerak pariwisata dan budaya, tentunya harus mulai diarahkan dan difokuskan untuk memperhatikan potensi-potensi kampung yang mulai berkembang, dengan peran dan dukungan lembaga Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata—red),” urai Wahyu lebih taktis.

Pokdarwis, lanjutnya, telah ada di tiap-tiap kelurahan sebagai sumber database potensi kampung.“(Dengan melibatkan Pokdarwis), tentunya akan lebih mudah memetakan potensi yang ada guna membuat skala prioritas pengembangan dari waktu ke waktu. Ini yang dinamakan sinergisitas bersama yang sering kita sebut ‘kekuatan sinergi, menghasilkan solusi’,” pungkasnya renyah.