Pentingnya Cagar Budaya Laweyan Bagi Generasi Muda Kota Solo Berkarakter Autentik

Generasi muda Kota Solo berkarakter autentik dapat bermula dari Laweyan yang terus terjaga kecagar-budayaannya. Caleg DPRD Kota Solo dari PKS, Budhi Hartanto. (Arif Giyanto)

LAWEYAN, Kota Solo – Jejak sejarah Laweyan yang khas, apabila dipandang pada spektrum yang lebih luas, berkontribusi besar pada generasi muda Kota Solo yang berkarakter. Sejarah Kerajaan Pajang, Kiai Ageng Hanis atau Kiai Ageng Laweyan, serta Kampung Batik Laweyan mewakili upaya pembangunan identitas untuk kemasyarakatan warga Kota Solo yang semakin berbudaya.

“Pada zaman ini, ketika semua identitas justru dikaburkan oleh banjirnya informasi, Laweyan justru menemukan momentum penting. Terutama dalam mempertahankan budaya Jawa yang adiluhung di Kota Solo, juga masyarakat sekitar,” ujar Budhi Hartanto, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), kepada Surakarta Daily, beberapa waktu lalu, di rumahnya.

Budhi adalah calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surakarta untuk daerah pemilihan (Dapil) Surakarta II, yakni Kecamatan Laweyan. Salah satu komitmennya, pembangunan generasi muda yang berkarakter autentik.

Berpijak pada identitas lokal, baginya, bukan hanya manunggal dengan realitas, tapi juga jawaban atas porak-porandanya identitas generasi muda lantaran pengaruh buruk era informasi. Masyarakat bahkan terjebak pada upaya ‘menyembuhkan’ daripada ‘mencegah’ saking banyaknya persoalan yang telanjur menggejala masif.

“Generasi yang lebih tua telah semestinya menyayangi generasi yang lebih muda. Meski semakin banyak pilihan, generasi muda bukan lantas kita biarkan berjalan sendirian. Mereka bisa jadi sangat inovatif, tapi identitas itu lekat dengan autentisitas. Sementara autentisitas direkam lebih baik oleh para orang tua, yang telah menjalani hidup lebih senior,” katanya.

Menurutnya, Laweyan sebagai cagar budaya, selayaknya terus diperjuangkan agar terus demikian, bahkan lebih baik. Bukan hanya berpengaruh pada perekonomian, Laweyan dapat diperankan sebagai saka guru kebudayaan Kota Solo.

Setiap generasi, sambung Budhi, membutuhkan asal-usul yang harus disajikan generasi sebelumnya. Asal-usul bukan hanya tentang penulisan sejarah, tapi juga produk budaya yang berpengaruh pada kemartabatan masyarakat, bahkan dapat bertahan hingga sekarang.

“Batik, misalnya, bukan hanya milik Kota Solo. Namun, Batik Laweyan sebagai asal-usul kreativitas kebudayaan di zamannya dan masih bertahan sampai sekarang, merupakan representasi dari ketekunan, kejujuran, kerja keras generasi lama yang harus terus dipertahankan,” jelasnya penuh apresiasi.

Generasi Emas

Lebih dalam, Budhi Hartanto membidik bonus demografi, menyongsong Indonesia Emas 2045. Generasi Emas sangat dibutuhkan saat nanti, sejumlah 70 persen penduduk Indonesia dalam usia produktif, yakni 15-64 tahun. Sementara sisanya, yakni 30 persen-nya, tidak produktif. Mereka berusia di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun.

“Bonus demografi akan berpengaruh baik apabila asal-usul kedaerahan terjaga. Sebab, gerak dunia yang mengarah pada olah potensi lokal dapat dijawab dengan konsolidasi generasi emas yang juga mengerti daerahnya,” paparnya.

Ia berpandangan, media sosial yang begitu masif sekarang, dapat berbuah generasi berkarakter, apabila, pertama-tama berkonten kebudayaan lokal. Laweyan, bukan hanya branding daerah, tapi juga identitas para generasi muda Kota Solo.

“Masa euforia informasi kita anggap segera usai. Dan setiap aktivitas positif dapat lahir dari peranti informasi yang concern pada daerah dengan generasi muda sebagai subyek utamanya. Dengan begitu, ketika kompetisi tercipta, secara sosial, tidak ada gesekan yang berarti. Jangan lupa, Kota Solo tidak pernah berkompromi pada kesenjangan sosial yang terlalu kentara,” tandas Budhi.

Politisi yang beralamat di Jalan Melon 7 No. 7 Karangasem, Laweyan, ini berkesimpulan, keautentikan Laweyan harus terus dijaga sebagai produk budaya luhur yang berkelanjutan. Selanjutnya, pengelolaan bonus demografi akan mampu memberi jalan pada tumbuhnya generasi yang juga autentik, atau bertumpu pada kekuatannya sendiri.

“Intinya, Laweyan ke depan tetap autentik sesuai ciri khasnya. Generasi mudanya juga tumbuh sebagai generasi muda yang autentik, menjadi dirinya sendiri, sesuai potensi kekuatan yang dimilikinya; bukan generasi yang latah dan mengekor secara instan,” pungkasnya.

Add Comment