Bukan Hanya Komoditas Bisnis, Batik Kauman Merepresentasi Regenerasi Budaya Kota Solo

Tokoh muda Kota Solo, Zulmi Tafrichan, dalam sebuah sesi kunjungan ke sekolah dasar. (Arif Giyanto)

KAUMAN, Pasar Kliwon — Budaya tidak dapat dilepaskan dari sejarah. Budaya Kota Solo lahir dari sumbangsih kreativitas warganya, dari generasi ke generasi. Batik Kauman, salah satunya. Politisi muda dari Kauman, Zulmi Tafrichan, memaparkan pandangannya tentang kekuatan Batik Kauman bagi regenerasi budaya di Kota Bengawan.

“Batik Kauman tidak lahir, tiba-tiba. Di tempat lain, Anda belum tentu dapat menikmati bangunan tua dengan gaya arsitektur Jawa-Belanda, berikut rumah joglo dan limasan, bahkan dengan berjalan kaki. Semua ini hasil panjang kreativitas leluhur-leluhur saya yang harus dipertahankan sampai kapan pun, dan tentu saja, bersumbangsih besar pada tumbuh-berkembangnya Kota Solo,” ujar Zulmi penuh optimisme kepada Surakarta Daily.

Menurutnya, lebih dari 30 industri batik yang ada di Kampung Wisata Batik Kauman memanjakan para pengunjung, karena banyaknya pilihan. Varian batik yang begitu banyak menandakan semangat dan energi luar biasa yang terus ditempa dan dilestarikan dari para pembatik, turun-temurun.

“Tidak mudah nguri-uri Batik Kauman. Kemanunggalan menjadi kata kuncinya. Warga Kauman telah menyatu dengan batik, bukan hanya sebagai komoditas bisnis, tapi juga ekspresi budaya yang berimplikasi pada bermartabat tidaknya Kauman, terlebih Kota Solo,” papar Caleg DPRD Kota Surakarta Dapil 1 tersebut.

Ia menapak tilas, Batik Kauman bermula dari inisiatif Sri Susuhunan Pakubuwana III untuk membangun Masjid Agung pada 1757. Para abdi dalem dan santri di sekitaran masjid yang suka membatik lantas ketiban untung karena kemudian dapat menjual hasil karya tersebut kepada banyak pengunjung masjid. Ditambah berdirinya Pasar Klewer, pangsa pasar batik pun semakin membesar dan bertambah banyak.

Dalam rentang waktu selanjutnya, sambung tokoh kelahiran 8 Oktober 1992 ini, bermunculanlah para saudagar batik yang semakin memberi warna pada Kauman. Dibangunnya berbagai rumah besar dengan arsitektur Jawa, Art Deco, Timur Tengah, dan Tionghoa semakin memberikan kesan ke dunia luar bahwa Batik Kauman telah memiliki ikon tersendiri.

“Siapa sangka, upaya para abdi dalem pada awal kisah yang hanya mendedikasikan diri untuk membatik bagi kalangan kraton, pada hari ini mampu berbuah, bahkan museum khusus batik di Kauman. Batik Kauman terkenal hingga mancanegara dan memberikan pendapatan yang sangat baik bagi warganya,” ucap Zulmi.

Regenerasi Budaya

Memotret Kota Solo dari sudut pandang Batik Kauman memiliki arti tersendiri. Kota Solo sebagai rujukan batik nasional, sangat dipengaruhi oleh eksis-tidaknya Kauman sebagai produsen batik berkarakter khas. Selain itu, Kota Solo yang dibangun dengan identitas Jawa, tak pelak menjadikan batik sebagai unggulan.

“Regenerasi budaya ini isu penting. Budaya yang tidak digarap dengan perhatian khusus dan penuh keilmuan akan membentuk generasi yang kurang berkualitas. Saling sengkuyung pada komitmen tersebut mengharuskan setiap pihak, baik itu pemerintah, swasta, warga, sekolah, hingga kalangan agamawan benar-benar memberi pengaruh positif. Nah, Batik Kauman akan terus berpengaruh positif bagi regenerasi budaya di Kota Solo,” tutur Ketua Paguyuban Putra-Putri Solo ini.

Aspirasi berkualitas lahir dari masyarakat yang berkualitas. Zulmi menandaskan, pengaruh baik budaya dapat memunculkan dinamika Kota Solo yang juga berkualitas. Perhatian besar pada terus sinambungnya semangat dan kreativitas Batik Kauman akan mengantarkan sebuah ‘barikade’ kebudayaan, tentang Kota Solo yang tetap njawani.