Separuh Kampung Surakarta Rawan Banjir, Mahasiswa Belanda Tawarkan Solusinya

Empat mahasiswa Belanda memberikan rekomendasi mengenai banjir yang terjadi di Kampung Sewu, Jebres, Surakarta. (Foto: Humas UNS)


UNS-Hampir separuh kelurahan di Kota Surakarta masuk dalam kategori daerah rawan banjir. Hasil pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta, 25 dari 51 Kelurahan di Kota Surakarta terlintasi daerah aliran Sungai. “Kelurahan rawan banjir tersebar di daerah aliran Sungai Bengawan Solo, Kali Pepe, Kali Anyar, Kali Jenes, dan Sungai Premulung,” kata Kepala BPBD Surakarta, Eko Prajudy, Rabu (25/10/2017) pada situs resmi Pemkot Surakarta.

Karakter Kali Anyar yang lurus bersumber langsung dari Gunung Merbabu menjadi penyebab banjir bandang perlu diwaspadai, dibandingkan dengan sungai bengawan solo yang berkelok-kelok. Ada tujuh kelurahan yang dilintasi Kali Anyar, yakni Sumber, Banyuanyar, Gilingan, Nusukan, Kadipiro, Mojosongo dan Jebres. “Warga di daerah rawan banjir Kali Anyar harus mewaspadai ancaman banjir bandang itu,” tambah Eko Prajudy.

Melihat kondisi tersebut, empat mahasiswa Rotterdam University Applied Science Department water yakni Charlotte Ros, Julia Van der Leer, Martijn Hereijgers dan Timon Jurisic bekerjasama dengan Universitas Sebelas Maret untuk menemukan solusi atas permasalahan banjir terutama yang terjadi di Kampung Sewu, Jebres.

Menurut Charlotte Ros, fenomena banjir di Kampung Sewu, Jebres berkaitan dengan kesiapsiagaan bencana, pengelolaan sampah, ketersediaan sanitasi, dan kualitas air sungai. Empat hal tersebut mereka ulas dalam penelitian dan merekomendasi solusinya, seperti diberitakan dalam laman resmi Universitas Sebelas Maret.

Dosen Kusumaningdyah N.H dari Prodi Arsitektur FT UNS dan Laboratorium Urban Rural Design and Conservation serta Rintis Hadiyani dari Prodi Teknik Sipil memberikan bimbingan dan pembelajaran rentang kehidupan kampung kota dan managemen air di Indonesia.

Penanggulangan Bencana

Selama empat bulan dalam bimbingan Kusumaningdyah N.H, Martijn Hereijgers yang memiliki ketertarikan mengenai manajemen kebencanaan ia merokemendasikan peningkatan kesiapsiagaan saat bencana terjadi dan pengurangan kerusakan ekonomi akibat banjir.

Sebagaimana dilansir dalam situs resmi Pemkot Surakarta, perihal penanggulangan bencana telah lama Eko Prajudy terus berkoordinasi dengan DPU, Balai Sungai dan Kelurahan bersama TNI/Polri sebagai langkah antisipasi jika banjir terjadi. Dalam langkah pencegahan pengecekan talud, sarana-prasarana tanggap darurat juga dilakukan olehnya.

Selain itu Kepala Seksi Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Surakarta, Sumarno menjelaskan hingga kini pihaknya terus melakukan pemetaan daerah rawan banjir untuk menemukan data penduduk, jalur evakuasi, lokasi pengungsian, dapur umum, dan lokasi penanganan medis yang tepat. Data-data tersebut menurutnya sangat penting apabila bencana tidak mampu dihindari.

Kebersihan dan Pengelolaan Sampah

Anggota lain, Charlotte Ros merekomendasikan sebuah kampanye hidup sehat lewat kartu sejahtera yang dijuluki Card Life. Kampanye Cardlife mengajak masyarakat dan anak-anak untuk menjaga kebersihan terutama toilet dan kamar mandi. Hal itu ia rekomendasikan dikarenakan ia menemukan 37 persen warga Kampung Sewu menggunakan toilet umum secara bersama-sama. Sistemnya kartu tersebut digunakan sebagai jadwal pembersihan dan harus digantung didekat toilet untuk penggnaan yang optimal.

Selanjutnya, Timon Jurisic yang berkecimpung dalam pengelolaan limbah sampah di Solo, ia memberikan rekomendasi prototype tong sampah berbahan dasar ecobrick. Ia menjelaskan,”Ecobrick adalah botol plastik yang dikemas padat dengan limbah nonbiologis yang dipenuhi hingga padat. Segala sampah yang tidak terurai siap menjadi bata bangunan yang dipakai ulang,” ujarnya dalam laman resmi UNS.

Kemudian Julia Van der Leer tidak jauh berbeda dengan Timon, ia juga mempersoalkan sampah yang telah mengurangi kualitas air di Kali Pepe. Baginya, penyebab kualitas air menjadi buruk disebabkan pengelolaan sampah yang tidak tepat. Lantas ia menawarkan prototype penyaring sampah berbahan dasar metal. Penyaring sampah tersebut ia sebut Jebakan Sampah.

Tawaran tentang hidup sehat dan pengelolaan sampah tersebut akan mendukung dari proyek Pemerintah Kota Surakarta yang telah menggaet investor untuk pengolahan sampah dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga sampah. PLTs tersebut akan beroperasi pada tahun 2019 depan. Seperti dilansir dalam situs resmi Pemkot Surakarta, produksi sampah di Solo sekitar 200an ton per hari, masih kurang untuk memenuhi kebutuhan pembangkit tenaga listrik yang membutuhkan 450 ton sampah per hari.