Mendoakan Surakarta Institute

Logo Surakarta Institute

Kamis (20/12/2018), dengan prosesi sangat sederhana, Surakarta Institute diluncurkan. Entah berbentuk apa, makhluk baru tersebut. Ditilik dari nama, tampaknya para pendiri sangat bersemangat berkontribusi pada daerah, terutama Surakarta. Diksi yang sangat lokal tapi sedikit kemenggres (keinggris-inggrisan) menyiratkan pesan tentang organ yang memang didesain luwes untuk juga, menginternasional.

Berbincang dengan Direktur Eksekutif-nya, Andre Albicia Hamzah, di Kedai Rumah Syukur atau biasa disebut Kedai RR, Jalan Parikesit Timur, Karangturi, Pajang, Laweyan, Kota Solo, saya sedikit mendapatkan jawaban. Menurutnya, kata ‘Surakarta’ dipilih karena dimaksudkan untuk merepresentasi eks-Karesidenan Surakarta.

Sang Direktur Eksekutif berkepentingan menjelaskan hal ini lebih awal, karena sekian waktu, sebagian kalangan lebih prefer dengan istilah ‘Solo Raya’ untuk menyebut eks-Karesidenan Surakarta. Bagi tokoh yang konsisten pada program-program promosi daerah ini, memunculkan Surakarta sebagai entitas budaya dan bisnis terasa lebih ringkas dan branded.

Bisa jadi, sambungnya, Kota Solo memang lebih senior dibanding kabupaten lain di eks-Karesidenan Surakarta. Ditambah secara administratif, Pemerintah Kota Solo menyebut diri dengan Pemerintah Kota Surakarta. Namun, Surakarta tetap saja terasa lebih mewakili eks-Karesidenan Surakarta, atau sebagian kalangan lebih nyaman menyebutnya dengan Subosukowonosraten sebagai akronim dari Surakarta-Boyolali-Sukoharjo-Wonogiri-Sragen-Karanganyar-Klaten.

On top of everything, soal nama tidak satu-satunya poin yang layak dibahas. Surakarta Institute dirancang untuk menjawab semua persoalan kedaerahan, terutama pengambilan keputusan kepala daerah. Isu tentang tata kota berbasis energi alternatif, maintenance ekonomi kreatif menyambut era Revolusi Industri 4.0 yang tidak melekangkan identitas kedaerahan, hingga smart village untuk mengoptimalkan potensi desa adalah sedikit agenda prioritas Surakarta Institute.

Ditekadkan untuk menjawab ‘semua persoalan kedaerahan’ bukan ukara jumawa, tapi lebih berupa semangat tak surut meski masalah terasa sangatlah berat. Karena tidak mudah melakukannya, optimisme harus terus dibangun agar semua tak lagi sulit.

Meski secara spasial diimplementasikan secara lokal, tapi bila ditilik lebih dalam, semua agenda yang direncanakan Surakarta Institute ternyata juga menjadi concern semua stakeholder nasional. Secara strategis, Surakarta Institute dapat berkolaborasi dengan organ mana pun, tidak hanya eks-Karesidenan Surakarta, tapi juga dunia.

Surakarta Institute menawarkan kajian lokal bulanan, riset mendalam tentang potensi daerah, rilis rutin ke media massa, hingga inisiasi program ekonomi di sektor riil. Relasi akan dibangun, mulai dari kampus, pemerintah, komunitas, hingga pebisnis. Upaya membangun daerah diharapkan terasa renyah, karena dilakukan dengan gembira.

Tapi sudahlah. Apa pun itu, prinsipnya, hidup harus bermanfaat untuk orang lain. Surakarta Institute hanya sebentuk makhluk yang tak akan banyak gunanya bila tidak diperankan dengan baik oleh orang-orang yang terhubung dengannya. Mari berdoa untuk kebaikannya dan apa pun yang terdampak olehnya.