Kopi Nangka, Kopi Unik Banyuanyar dan Potensi Ekonomi Masyarakat Boyolali

Seorang perempuan berjilbab tengah mencium bau harum Kopi Nangka yang telah diroasting. (Foto : Humas Pemkab Boyolali)

Banyuanyar, Boyolali – Berbicara Indonesia, maka kekayaan sumber daya alam yang menjadi topik umum pembahasan. Salah satunya adalah kopi, Indonesia dikenal sebagai surganya kopi di dunia. Indonesia yang saat ini merupakan negara produsen kopi keempat terbesar di dunia, memiliki potensi untuk meningkatkan ekspor kopinya ke mancanegara.

Kopi yang saat ini tidak hanya menjadi minuman penyegar, namun juga menjadi gaya hidup masyarakat. Kali ini di Banyuanyar, Boyolali terdapat beberapa jenis kopi endemik yang tumbuh subur disabuk lereng gunung merapi dan merbabu. Masyarakat sekitar banyuanyar, ampel menyebutnya sebagai Kopi Nangka. Disebutnya demikian, karena kopi peninggalan Belanda tersebut apabila diseduh dengan benar maka rasa unik akan muncul. Tanpa ditambahkan pemanis yang lain, kopi nangka memberikan cita rasa manis bagi penikmatnya.

Seperti dilansir dalam situs resmi Pemerintah Kabupaten Boyolali, masyarakat yang melihat potensi kopi nangka, kelompok tani yang disebut Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Banyuanyar mengolah biji kopi produksi mereka agar memiliki nilai tambah. Biji kopi produksi mereka diusahakan diolah menjadi minuman kopi penuh dengan cita rasa dan agar mampu bersaing dengan produk kopi lokal daerah lainnya.

Meri selaku ketua Gapoktan Banyuanyar berpendapat kopi unik khas banyuanyar patut untuk dilestarikan. “Sehingga kopi disini akan lestari sesuai dengan apa yang akan diharapkan. Ternyata kopinya lebih enak dan lebih menyenangkan, harumnya harum nangka, sehingga khasnya lebih enak lagi. Sehingga itu perlu dilestarikan petani, sekarang serentak untuk membudidayakan kopi,” ungkapnya dalam situs resmi Pemdes Banyuanyar.

Ia berharap kopi khas masyarakat desanya dapat dijadikan komoditas ekonomi sehingga dapat mensejahterakan seiring dengan bertambahnya nilai lebih dalam biji kopi tersebut.

“Yang menjadi keunikan lain, masyarakat semakin senang karena harganya semakin meningkat. Harganya kopi yang sudah roastingitu Rp 20.000. Sekarang sudah pemesanan rosting dari luar daerah,” tambahnya.

Penanaman kopi dihimbau oleh Meri agar memanfaatkan lahan sekitar 15 hektar dibanyuanyar secara organik. Mulai dari kotoran ternak dapat dipakai sebagai pupuk maupun limbah kulit kopi dapat digunakan sebagai pakan ternak.

Kopi dan Potensi Ekonomi

Perkebunan kopi di Boyolali tidak hanya dalam segi produksi kopi melaikan sektor pariwisata memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan. Sebagai diungkap oleh Bambang Jiyanto Kepala Dispertan Kabupaten Boyolali dalam acara peringatan Hari Perkebunan ke 61 (14/12/2018), menjelaskan selain kopi memiliki nilai jual yang tinggi, kopi juga memiliki potensi untuk mendatangkan wisatawan dan memiliki potensi ekonomi bagi petani. Sehingga menurutnya dalam situs resmi Pemkab Boyolali, kelompok tani perlu dibina secara serius dan diajari untuk mengolah kopi secara profesional.

Data BPS tahun 2015 menyebutkan produksi kopi di Jawa Tengah, Boyolali memproduksi secara agregat kopi robusta dan arabica sebesar 240,86 ton dari total 20.690,16 ton produksi Jawa Tengah, atau menyumbang produksi kopi di Jawa Tengah sebesar 1,16 persen.

Bambang Jiyanto dalam kesempatan yang sama menguraikan, hingga saat ini kopi telah dikembangkan ratusan ribu bibit kopi diwilayah boyolali. Ia berharap empat tahun kedepan permintaan kopi boyolali dari konsumen dapat terpenuhi mengingat banyaknya permintaan dari luar. Dilanjutkan olehnya, sampai saat ini di wilayah Boyolali sudah dikembangkan ratusan ribu bibit kopi. Pelestarian kopi tersebut tidak hanya bermanfaat secara ekonomi, namun juga untuk menjaga kelestarian alam dan kawasan hutan.

Menurut Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Boyolali, Sugiyarto menyatakan sumbangan pertanian terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar 22 persen. Melihat hal tersebut sektor pertanian masih menjadi andalan ekonomi masyarakat Boyolali, ia berharap Dispertan dapat meningkatkan pertanian di Boyolali dengan berbagai Inovasi.