Suyudi, Tukang Kayu yang Peduli dengan Pendidikan dan Kini Memiliki Sekolah

Suyudi Sastro Mulyono, penggagas sekaligus pendiri Sekolah Alam Bengawan Solo. (Widi Purwanto)

JUWIRING, Klaten — Suara riuh anak-anak bermain langsung menyapa saat pertama menginjakkan kaki di kompleks Sekolah Alam Bengawan Solo (SABS). Berlokasi di bantaran Sungai Bengawan Solo, atau tepatnya di Dukuh Panjangan RT 1 RW I, Desa Gondangsari, Kecamatan Juwiring, Klaten, SABS, terlihat mirip rumah panggung.

Hampir semua desain bangunannya terbuat dari kayu. Beberapa lokal kelas yang dibikin mirip gazebo sengaja dibuat bertingkat dengan dinding-dinding dari papan. Gazebo-gazebo juga dibuat terbuka agar para siswa nyaman belajar. Sarana bermain yang ada, hampir semua terbuat dari kayu dan merupakan buah karya sendiri.

Adalah Suyudi Sastro Mulyono, penggagas sekaligus pendiri dari SABS. Keprihatinannya terhadap dunia pendidikan Tanah Air menjadi titik tolak lahirnya SABS. Baginya, sistem pendidikan kita yang sekarang sangatlah mengerikan dan masih warisan kolonial Belanda.

“Konsep pendidikan kita itu kan masih warisan kolonial Belanda. Dari kita tidak banyak yang tahu apa tujuan dari sekolah, bahkan orangtua dan gurunya sekalipun. Kalau menurut saya, sekolah itu untuk kehidupan. Bagaimana menjadi manusia yang berkarakter dan punya budi pekerti. Seperti sistem pendidikan yang diajarkan Ki Hajar Dewantoro melalui Sekolah Taman Siswa-nya,” jelas Suyudi atau akrab disapa Pak Yudi mengawali pembicaraan belum lama ini.

Ia menjelaskan, Sekolah Taman Siswa kala itu adalah bentuk perlawanan dari sistem pendidikan yang didirikan oleh Belanda. Salah satu ciri sistem pendidikan yang dikembangkan Belanda adalah hanya berorientasi pada materi dan menciptakan manusia-manusia yang mementingkan dirinya sendiri. Tak peduli dengan kondisi masyarakat dan lingkungan sosial.

SABS kini memiliki siswa lebih dari 100, dari jenjang PAUD/TK, SD, hingga Sekolah Lanjutan (SL) atau setara SMP. (SABS)

Suyudi mengatakan, pendidikan pada siswa harusnya tidak hanya tanggung jawab dari sekolah, tapi juga keluarga dan masyarakat.

“Inilah yang disebut sebagai tiga pilar pendidikan. Artinya pendidikan tidak hanya tanggung jawab sekolah, tapi juga keluarga dan masyarakat,” ungkapnya.

Melalui SABS, Suyudi ingin merealisasikan gagasannya yakni mencetak manusia-manusia yang memiliki mental sebagai pemimpin, berakhlak mulia, berwawasan, punya kemampuan wirausaha, serta peduli terhadap sesama dan lingkungan.

“Kurikulum yang kita terapkan meliputi akhlak, pengetahuan, kepemimpinan, wirausaha, dan lingkungan,” ujarnya.

Dimusuhi Tetangga

Suyudi memang tidak memiliki latar belakang profesi pendidikan. Ia adalah seorang perajin mebel alias tukang kayu yang ulet. Sebagai seorang pengusaha, ia memiliki jaringan yang cukup luas karena hasil kerajinannya sudah diekspor ke beberapa negara. Bahkan di era jayanya mebel, ia sempat memiliki pekerja hingga 40 orang.

Perkenalannya dengan seorang buyer dari Jerman yang akhirnya memantapkan dirinya untuk mendirikan SABS. Awal berdiri pada tahun 2004, SABS hanya membuka sekolah untuk jenjang PAUD dan TK. Ia menempati pekarangannya sendiri untuk lokasi bangunan sekolah. Untuk fasilitas, tempat, dan segala macamnya, Suyudi merogoh kocek dari kantongnya sendiri.

Tahun-tahun awal berdiri memang tidak banyak masyarakat yang berminat untuk menyekolahkan anaknya di SABS. Bahkan sebagian besar tetangganya malah memusuhi dan menganggapnya orang aneh.

Tak peduli dengan omongan orang, Suyudi terus berbenah untuk sekolahnya. Pada tahun 2011 ia mulai membuka sekolah untuk tingkatan SD. Area sekolah pun diperluas tidak hanya di pekarangannya saja, tapi juga di lahan bantaran Sungai Bengawan Solo milik Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS).

Kenekatannya ini tidak jarang berujung pada sengketa yang nyaris berakhir pidana. Suyudi juga berulang kali berurusan dengan pihak pemerintah desa, pemerintah kabupaten, hingga kepolisian. Bahkan rumahnya sampai didatangi kawanan preman karena seringnya ia berselisih dengan aparatur desa dan masyarakat sekitar.

Demi fokus dengan sekolah yang dicita-citakannya, Suyudi sampai meninggalkan pekerjaannya sebagai pengusaha mebel. Ia memilih hidup sederhana dan menggunakan semua harta bendanya untuk kepentingan SABS.

“Tabungan saya sampai habis tak tersisa,” tutur Suyudi yang dulunya aktif di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) ini.

Masih Tombok

Kini SABS sudah berusia 14 tahun dan berada di bawah naungan Yayasan Taruna Bengawan Solo. Jumlah siswanya sudah mencapai 100-an, dari jenjang PAUD/TK, SD, hingga Sekolah Lanjutan (SL) atau setara SMP. Jumlah guru yang mengampu para siswa ada sekitar 15 orang.

“Kalau PAUD/TK dan SD kurikulumnya ikut pemerintah, meskipun pelajarannya tetap kita modifikasi. Sedangkan untuk SL nonformal atau Paket B dengan jumlah siswa saat ini 12 orang di kelas 7. Ke depan kita akan buka kelas setingkat SMA,” terang Suyudi.

Di usianya yang telah menginjak 14 tahun, SABS memiliki guru pengampu sebanyak 15 orang. (SABS)

Meski sudah 14 tahun berjalan, Suyudi mengaku dirinya belum pernah mendapatkan gaji dari SABS. Karena memang bukan cita-citanya mencari makan dari sekolah yang ia dirikan. Bahkan ia sering tombok dengan uang pribadinya untuk membayar gaji guru dan keperluan lainnya.

“Dalam kurun 3-4 tahun terakhir ini ada teman yang memberikan donasi, akhirnya masih bisa untuk menggaji para guru. Kebetulan juga saya lagi sedang tidak bekerja,” ucapnya sedikit bercanda.

Biaya masuk ke SABS tidaklah mahal. Untuk tahun kemarin, SD hanya sekitar Rp300 ribu sampai Rp400 ribu, ditambah uang bulanan sekitar Rp170 ribu. Sedangkan untuk PAUD/TK antara Rp75 ribu sampai Rp150 ribu. Itu pun masih diberikan keringanan jika orangtua siswa mengajukan. Setiap harinya para siswa masih mendapatkan jatah makan siang.

“Untuk kesepakatan biaya, kita musyarawarah dengan Komite Sekolah yang terdiri dari para guru dan orangtua murid,” pungkasnya.