Indonesia Lumbung Pangan Dunia, Praktisi Klaten: Masih Jauh dari Harapan

Kiai Susilo Eko Pramono tengah di persawahan organik, tempat ia konsisten ngrukti bumi. (Ponpes Sunan Kalijaga Wedi)

WEDI, Klaten — Mewujudkan Indonesia Lumbung Pangan Dunia tidak dapat dilepaskan dari ketahanan pangan. Praktisi pertanian asal Klaten, Susilo Eko Pramono, berpandangan, ketahanan pangan masihlah jauh dari harapan.

Isu ini menjadi penting setelah dibahas dalam Seminar Nasional dan Pra Lokakarya Nasional Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia untuk Badan Kerjasama (FKPTPI BKS) Wilayah Timur, Rabu (18/4/2018), di Aula Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret.

“Mengenai ketahanan pangan, saya kira masih jauh dari harapan. Presiden sebenarnya telah berupaya melalui kebijakannya. Sayangnya, dalam pelaksanaannya di tingkat birokrasi dan pelaksanaan di level bawah, masih banyak slintutan (sembunyi-sembunyi—red). (Mari) menolak lupa ihwal asuransi pertanian yang pernah disosialisasikan. Bagaimana kabarnya kini, juga wallohu a’lam,” ujar Kiai Sus, kemarin.

Ia meragukan kinerja pemangku kepentingan seputar ketahanan pangan. Selain itu, dampak kepentingan politik sesaat dan skandal mafia pangan.

“Satgas Ketahanan Pangan masih dipandang diragukan kemurniannya, atau ada kepentingan politik praktis. (Hal) yang paling berbahaya adalah skandal mafia pangan dengan kartel-kartel korporasi, baik dalam produk maupun marketingnya,” tuturnya.

Beberapa kasus ia tambahkan, untuk memperkuat argumentasinya tentang ketahanan pangan yang jauh panggang dari api.

“Kita jangan lupa, bagaimana soal beras Mak Nyus, yang diakui apa tidak, sangat kuat aroma persaingan bisnis antar-kartel, yang ini menjadi bias. Di sisi lain, ulah Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani—red) nakal di level bawah, dengan ekploitasi nama buruh tani, mengucurkan bantuan-bantuan alsintan (alat mesin pertanian—red). Ada yang jujur, tapi juga ada yang barang-barang alsintan-nya telah kabur,” ungkap Pimpinan Pondok Pesantren Agrotani Sunan Kalijaga, Wedi, Klaten, itu.

Formalitas, pencitraan, dan seremonial dalam pertanian, sambungnya, sarat pemain ‘bertopeng’ dengan berbagai tipikalnya. Lebih spesifik, Susilo memberi usulan agar beberapa menteri terkait, sebaiknya diganti.

Kiai Susilo Eko Pramono berpromosi beras organik, produksi Ponpes Sunan Kalijaga, Wedi, Klaten. (Ponpes Sunan Kalijaga)

Meski demikian, ia mengapresiasi semangat dan kerja keras para petani Indonesia, apa pun situasi yang dihadapi.

“Hebatnya buruh tani di Indonesia, meski rugi, tetap semangat bertani. Buruh tani dan petani seakan tetap istiqamah walau badai kepentingan lalu lalang. Bekerja berkaryalah, wahai buruh tani. Jangan lupakan semangat Marhain. Aksi nyata itulah kuncinya. Tetap bergerak, meski apa dan bagaimana pun proses maupun hasilnya. Bertani tanpa beli pupuk. Bertani tanpa menjual ke tengkulak,” tandasnya.

Konsisten Jihad Pertanian

Pada 2017, Pondok Pesantren Sunan Kalijaga pimpinan Kiai Sus meluncurkan gerakan ‘Jihad Pertanian Berbasis Organik’, yakni gerakan berbudidaya pertanian dengan pola full murni organik. Para santri dan jamaah menawarkan produk pertanian berupa harga Gabah Kering Giling (GKG) organik.

Ada Ciherang dan Ir 64 serta menthik susu. Ciherang dan 64-nya termasuk varietas biasa, sedangkan menthik susu-nya termasuk kelas premium. Ponpes Sunan Kalijaga bertekun melawan keserakahan, tanpa pertumpahan darah, dengan kembali kepada alam.

Ponpes Sunan Kalijaga beralamat di Dukuh Karangasem, Desa Dengkeng, Kecamatan Wedi Kabupaten Klaten. Kiai Sus merangkul berbagai elemen, bukan sebatas ketahanan pangan, tapi juga kedaulatan pangan, dengan semangat ngrukti bumi.

Srawung, ngemong, momong, dan among (merupakan) bagian strategi menuju suksesnya ngrukti bumi, karena proses penyadarannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu kebersamaan dan strategi tepat guna melihat realitas problem kader usaha tani, lahan, sarana prasarana pertanian,” pungkasnya.