Alfian Mujani, dari Balap Liar hingga Media Expert

SUMEH – Alfian Mujani dengan senyum renyah khasnya. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Kartasura, SURAKARTADAILY.COM ** Sosok berpengaruh di balik gegap gempitanya media Tanah Air. Menelan asam garam bisnis media, tak hanya hulu, tapi hingga hilirnya. Ia memilih media sebagai jalan hidup, untuk Indonesia yang lebih baik. Lebih spesifik, agar hidup dapat bermanfaat bagi orang lain. Siapa sangka, adrenalinnya untuk terus bergerak bersama zaman, justru bermula dari hobi semasa muda, balap liar.

Namanya, Alfian Mujani. Lebih setengah abad lalu, lahir di Pandeglang Banten dari sebuah keluarga yang sangat religius, ia tumbuh besar di lingkungan pesantren. Ayahnya, salah satu pemuka agama Islam dan mengasuh Pondok Pesantren Darul Huda. Sementara Sang Ibunda, seorang guru agama di Madrasah Ibtidaiyah.

“Kalau malam, Ibu ngajar ngaji untuk putri di rumahnya. Saya sendiri, sekolah SD, SMP, SMA di sekolah yang berbasis agama. Karena sekolahnya jauh dari rumah orangtua, saya tinggal di pesantren,” tutur Alfian, Sabtu (2/12/2017), di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Ia memang tengah menempuh studi di Magister Manajemen UMS per tahun ini. Sebelumnya, berturut-turut, Alfian menjalani pendididak forman di SDN Nembol Pandeglang pada 1973, MTsN  Serang pada 1976, dan MAN Pandeglang pada 1979. Alfian lantas menempuh kuliah di dua kampus sekaligus, yakni Bimbingan Konseling UMS dan Filsafat Pendidikan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) pada 1981.

“Dulu, waktu kali pertama saya datang ke Solo tahun 1981, kuliah di jurusan Bimbingan Konseling FKIP, UMS, tak pernah kepikiran menjadi penulis, apalagi menekuni bidang media,” kenangnya.

Ketika itu, Alfian lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain-main dan melakukan apa saja, untuk membayar sewa kamar kos dan uang kuliah.

“Kegiatan saya waktu itu hanya main-main saja. Kalau malam Minggu, saya ikut balapan liar dari Purwosari sampai Gladak. Ya iseng-iseng cari uang Rp100 ribu dari hasil balapan. Kalau menang, uangnya untuk bayar sewa kamar kos dan bayar uang kuliah. Ini cara saya mengatasi kesulitan keuangan, akibat kiriman telat, atau orangtua pas lupa kirim uang,” kisahnya blak-blakan.

Kalau tidak turut dalam balapan liar, Alfian bertaruh tebak ekor plat nomor mobil bus yang datang dari arah Surabaya; genap atau ganjil. Atau bila waktunya sedikit longgar, ia berjualan kaos dan celana jeans, kiriman teman dari Bandung.

Sampailah pada suatu hari, ia hadir dalam sebuah seminar bertajuk ‘Perdebatan Pemikiran Barat dan Timur’ di UMS, meski akunya, sekadar iseng.

SANG SUHU – Alfian Mujani (paling kiri), bersama Agus Sumiyanto (berpeci). Sosok yang menginspirasi Alfian untuk masuk ke dunia media. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

“Pada saat moderator memberi kesempatan floor bicara, saya ikut bicara. Selesai seminar, salah satu pembicaranya minta agar apa yang saya sampaikan di seminar, ditulis. Karena saya enggak ngerti ya enggak saya tulis. Tapi si pembicara itu, nagih tulisan saya beberapa kali. Karena saya enggak enak, ya saya tulis aja dengan gaya lisan gitu,” ungkap Alfian renyah.

Siapa sangka, tulisan itu dimuat di Koran Kampus Mentari. Nama pembicara seminar yang memintanya menulis itu adalah Agus Sumiyanto, pendiri Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pabelan.

“Mas Agus inilah yang membuka jalan saya masuk ke dunia media,” katanya.

Jejak Karya

Menggelinding bak bola salju, Alfian kemudian seperti baru saja meretas jatidirinya. Pada 1982-1984, ia diamanahi sebagai Pemimpin Redaksi majalah mahasiswa Pabelan UMS. Dalam waktu yang kurang lebih sama, ia juga menjabat Pemimpin Redaksi majalah Inovasi LPM FKIP UNS pada 1983-1985.

Mentas dari pers mahasiswa, Alfian menjajal profesi pewarta untuk harian sore Wawasan Semarang  (1986-1987), harian Masa Kini Yogyakarta (1987-1988), dan harian Jawa Pos (1989-1991).

AKRAB – Alfian Mujani bersama Walikota Batu, Eddy Rumpoko. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Dalam rentang 1992-1996, ia adalah Kepala Biro Jawa Pos Jakarta merangkap Redaktur Pelaksana. Ia Manager Marketing dan Advertising Jawa Pos per Januari 1997 hingga Oktober 1998.

Pada 2 November 1998 hingga 2001, Alfian mendirikan koran harian Radar Bogor dan menjabati Direktur PT Bogor Express Media. Radar Bogor merupakan koran radar pertama di Grup Jawa Pos. Setelah Radar Bogor mencatat sukses secara spektakuler dalam usia setahun, Grup Jawa Pos lantas mendirikan tujuh radar di Jawa Timur, diikuti radar-radar lain di seluruh Indonesia.

Hengkang dari Grup Jawa Pos, ia lalu menjadi Komisaris PT Bogor Express Media pada 2002 hingga 18 Agustus 2003. Masih pada 2003 hingga 2004, Alfian mendirikan koran harian Metro Bogor.

Setahun jeda berkarier di industri media, tepatnya 2005-2006, ia memilih sebagai Wakil Direktur Business Development PT Agis Eectronic. Proyek-proyek yang pernah ditangani, yakni Agis Electronic Supermarket MM Mall Bekasi, Agis Electronic Store BSD City, Agis Electronic Superstore Mall Taman Anggrek, Agis Electronic Superstore Sun Plaza Medan, Agis Electronic Strore Cibubur, Agis Electronic Bandung Super Mall, Agis Electronic Store Tanjungkarang, dan rekonsep Agis Electronic Superstore Pondok Indah Mall.

Memasuki 2006, Alfian bergabung dengan Jurnal Nasional di bawah bendera PT Media Nusa Pradana. Ia bertanggung jawab pada pengembangan usaha serta ekspansi, berupa pendirian media-media baru, antara lain Jurnal Bogor dan Jurnal Depok. Setelah mengenyam jabatan Direktur Operasional, pada Oktober 2011, ia resmi berhenti.

Rentang waktu 2011 hingga 2015 menjadi tahun-tahun supersibuk bagi Alfian lantaran membidani beberapa perusahaan dalam satu waktu.

Ketika itu, ia Staf Ahli Khusus PT Sritex Grup Solo pada 2011 hingga 2014, untuk urusan media dan public relation. Ia pulalah yang mendesain format baru Go Sport, koran olahraga milik Bakrie Group, tepatnya pada November 2011 hingga April 2012. Ia Komisaris PT Karsa Ide & Karya, sebuah perusahaan marketing service, pada Oktober 2012 hingga 2015. Ia juga Komisaris PT Rajawali Tanjung Sari RNI, Group BUMN, pada 2012-2015. Terakhir, ia Direktur dan Pemimpin Umum Inilah, Koran Bandung pada 2013-2015.

Dan perjalanan Alfian pun bersandar sudah. Ia mendirikan surat kabar harian BogorToday  di bawah label PT Bogor Raya Media Sejahtera, sejak 2015 hingga sekarang.

Media Pelayanan 

Rekam jejak sedemikian banyak tersebut membentuk Alfian menjadi sosok tangguh, bernas, tapi tetap bersahaja. Ia memberikan pandangan-pandangannya tentang positioning media di zaman yang semakin kompleks informasinya seperti sekarang.

“Paradigma media harus berubah dari lembaga kontrol ke lembaga pelayanan. Fungsi kontrol dan kritik tak perlu lagi ditonjolkan, toh sudah semua orang sudah melakukan kontrol lewat media sosial. Kontrolnya lebih cepat dan lebih berani lagi. Karena itu, media professional harus lebih banyak memainkan peranannya sebagai lembaga pelayanan,” ujarnya.

Menurutnya, media telah saatnya melayani masyarakat dengan informasi dan kegiatan nyata. Informasi yang disajikan media pun harus anti-mainstream. Bagi Alfian, media harus bernilai dan memberi inspirasi bagi khalayak untuk berbuat kebajikan dan berprestasi.

“Media mainstream saat ini sedang sekarat, kalah bersaing dengan media baru yang lebih praktis, cepat, dan murah,” tandas wartawan yang pernah meliput pengambilan pabrik Land Rover Inggris oleh BMW Jerman pada 1997 tersebut.

Alfian berpendapat, media harus tetap berperan aktif dan berkonstribusi positif dalam bentuk karya nyata yang bisa dirasakan manfaatnya oleh orang banyak. Paling tidak, media harus mampu memberikan inspirasi pada anak bangsa untuk lebih berprestasi dan berdaya saing dalam pergaulan global.

Pesan Nasionalisme

Selama ini, dukungan kuat untuk tetap eksis di jalur ini, datang dari diri Alfian sendiri dan teman-teman bervisi sama, terutama profesional di bidang advertising. Ia berharap, akan lahir banyak sumberdaya manusia muda yang memiliki gairah penegakan kebenaran di atas uang, jabatan, dan materi lainnya.

“Sekarang, orang mengukur kesuksesan dan kebahagiaan itu hanya dengan materi. Ini bahaya buat masa depan bangsa. Gara-gara parameter kesuksesan dan kebahagiaannya materi maka orang akan dengan mudah diperalat, asal dibayar mahal, termasuk disuruh merusak bangsanya sendiri. Sekarang ini, banyak orang yang mati-matian membela kekuatan kapital yang nyata-nyata membahayakan kedaulatan bangsa dan negara,” pesannya sangat serius.

Sekian waktu, Alfian berusaha istiqamah pada keyakinannya terhadap falsafah bangsa, konstitusi negara, dan nilai-nilai agama yang ia yakini. Dalam mengembangkan usaha media, sebenarnya banyak peluang yang ia dapatkan untuk bekerja sama dengan pemodal besar.

“Tetapi, saya tidak akan pernah ambil peluang itu jika bertentangan dengan keyakinan dan nurani saya sebagai anak bangsa Indonesia yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat,” ucapnya.

Alfian mengaku, ia tak pernah tertarik dengan politik partisan. Jadi, ia tidak begitu peduli, apakah yang ia kerjakan, berdampak politis atau tidak. Tetapi, dalam konteks politik kebangsaan, ia yakin, apa yang diperbuatnya, pasti berdampak.

“Paling tidak, apa yang saya lakukan ini memberikan pengaruh terhadap lahirnya kesadaran baru bahwa media itu harus menjadi panggung kebajikan bagi siapa pun yang masih percaya terhadap nilai kebenaran universal,” simpulnya bijak.

Ada lagi. Ketika ditanya, apakah ada niatan tampil sebagai tokoh nasional, ia hanya tertawa.

“Saya enggak pernah punya rencana untuk diri saya sendiri. Semua dijalani mengalir saja. Bagi saya, yang penting, di mana pun kita berada, bisa memberi manfaat bagi orang lain. Pada saat saya berada di kampung, misalnya, minimal saya harus bisa menginspirasi para petani untuk lebih produktif dan berani memerdekakan diri dari penjajahan pengijon dan tengkulak,” pungkas Alfian beriring mimiknya yang terus optimis.