Aan Shopuanudin, Bergerak Maju Menjaga Lawu

SUPEL – Aan Shopuanudin, saat Tirakatan Hari Kemerdekaan RI ke-72, bersama Bupati Karanganyar, Juliyatmono, dan mantan Bupati Wonogiri, Cuk Susilo. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Karanganyar, SURAKARTADAILY.COM ** Lekat dengan kepemudaan sejak kuliah. Ketika itu, aktivitis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tersebut berhasil duduk sebagai Presiden Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga—kini bernama UIN Sunan Kalijaga.

Pasang badan untuk kelestarian lingkungan Gunung Lawu, gerakannya dinilai berpandangan jauh ke depan. Tokoh optimis ini juga peduli pada pendidikan Karanganyar. Namanya, Aan Shopuanudin.

Aan, begitu ia biasa dipanggil, selesai menempuh pendidikan di Yogyakarta pada 2005. Ia kemudian melanjutkan kiprah organisasinya di bawah naungan Muhammadiyah dengan aktif di Pemuda Muhammadiyah Karanganyar, hingga masuk jajaran Pimpinan.

Selama aktif menjadi bagian warga Muhammadiyah, kepekaan sosialnya terus terasah. Ia mendirikan yayasan dan pondok pesantren. Yayasan Anak Negeri adalah yayasan yang didirikannya. Madrasah Diniyah Ahlus Shufah di Pijenan, Jumapolo, Karanganyar, merupakan madrasah yang didirikannya.

Sekarang, Aan menjabat Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Karanganyar. Di tengah kesibukannya sebagai Ketua KNPI dan berbagai kegiatan sosial lainnya, Aan masih terus memantau berbagai kebijakan, berkaitan dengan kelestarian lingkungan, khususnya Gunung Lawu.

Ia pencetus berdirinya Forum Rakyat Peduli Gunung Lawu dengan terus mengupayakan sosialisasi penolakan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB). Salah satunya, melalui media sosial. Nama gerakannya di Facebook diberi nama, #jagalawu.

Seperti diketahui, rencana pendirikan proyek PLTPB di Bumi Intan Pari, yaitu Kabupaten Karanganyar, masih menuai banyak permasalahan. Salah satu dampak buruknya, dianggap mengganggu kualitas dan kuantitas air, pun air permukaan.

“Hal ini karena proyek tersebut terkonsentrasi pada artesis di daerah tempatnya berdiri. Belum lagi gangguan pada ekosistem endemik di daerah tersebut,” ujar Aan, di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Aan tergerak untuk ikut melindungi kawasan alami Gunung Lawu, karena kepeduliannya pada ekosistem di wilayah itu. Sebagai putra asli Karanganyar, ia merasa ikut bertanggung jawab untuk mempertahankan kelestarian alam di Karanganyar. Pembangunan yang sudah padat di area Gunung Lawu mengakibatkan beberapa ekosistem harus mendapatkan perhatian serius.

Edukasi dan Advokasi

Perhatian Aan yang besar pada lingkungan sosial tidak terlepas dari keikutsertaannya pada tiap-tiap kegiatan kemasyarakatan dan juga keaktifannya dalam organisasi kemasyarakatan.

Tiada henti, ia memaparkan beberapa program kerja Jaga Lawu, di antaranya edukasi dan advokasi. Edukasi yang dimaksud yakni memberikan pengertian kepada masyarakat lereng Lawu akan dampak positif dan negatif proyek PLTPB di Gunung Lawu. Ia memberikan pendampingan hukum kepada masyarakat dalam usaha penolakan PLTPB.

Program lainnya berupa program kajian, meliputi kajian budaya dan kajian ilmiah. Kajian budaya mempelajari kesesuaian kemanfaatan teknologi baru ini terhadap sosiokultur masyarakat lereng Lawu. Kajian itu menggandeng para ahli untuk meneliti lebih detail potensi panas bumi dan pemanfaatannya dari segi geologi, sosiologi, arkeologi, ekonomi, dan teknik fisika, akan adanya PLTPB di Gunung Lawu.

Lelaki kelahiran 22 Januari 1981 ini berharap, masyarakat memiliki pengetahuan menyeluruh tentang kelestarian alam, khususnya pembangunan PLTPB.

Gerakan Jaga Lawu merupakan manifestasi salah satu visinya untuk menjadikan potensi Gunung Lawu bukan untuk kepentingan sesaat dan kepentingan segelintir orang. Gerakan ini, menurutnya, bisa menjadi embrio gerakan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Berkaitan dengan proyek PLTPB di Gunung Lawu, dengan tegas ia menyatakan menolak dan terus berjuang agar proyek itu dibatalkan.

“Jelas, kami menolak. Banyak alternatif yang bisa kita manfaatkan, semisal sel surya, tenaga air, dan angin,” tandasnya.

Aan, yang kini tengah menempuh program doktoralnya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sangat mengharapkan para pemuda agar memiliki wawasan luas serta ilmu pengetahuan, berhadapan dengan situasi seperti sekarang.

“Oleh karena itu, pendidikan sangat penting untuk memiliki wawasan yang visioner,” pungkas Aan tanpa ragu.