Wardoyo Wijaya, dari Anak Petani hingga Bupati

Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya aksi Minum Jamu Bersama Ribuan Pelajar
KABUPATEN JAMU – Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya (dua dari kanan) bersama sejumlah pejabat dalam aksi Minum Jamu Bersama Ribuan Pelajar, di Alun-Alun Satya Negara Sukoharjo, Rabu (1/4/2015). (Foto: Humas Kemenko PMK)

Sukoharjo, SURAKARTADAILY.COM ** Pilihan seorang Wardoyo Wijaya menjadi Bupati Sukoharjo merupakan panggilan hidup yang tidak bisa ia hindari. Sederhana dan tampil apa adanya menjadi salah satu ciri yang melekat pada pria kelahiran Wonogiri ini. Lahir sebagai anak seorang petani, nyalinya tak ciut sedikit pun untuk mengukir prestasi.

Meski namanya tak se-populer Ridwan Kamil atau Rismaharini, sosok Wardoyo sebagai Kepala Pemerintah Daerah begitu familier di tengah warga Sukoharjo. Terbukti, pria berusia 56 tahun tersebut mendapat kepercayaan rakyat untuk kembali menjadi orang nomor satu di Kabupaten Jamu.

Wardoyo, sapaan akrabnya, mengawali kiprah sebagai Kepala Daerah pada 2010-2015. Lima tahun ia curahkan tenaga dan pikiran, mengabdi pada rakyat Sukoharjo. Inilah awal kebangkitan Sukoharjo menjadi salah satu kabupaten yang maju dan banjir prestasi.

Puas dengan kinerja dan totalitas Wardoyo sebagai Bupati membuat rakyat memberikan kepercayaan untuk kembali memimpin Sukoharjo pada periode lebih lama, 2015-2020. Kemenangan beruntun Wardoyo lantas tidak menjadikannya jumawa. Ia menganggap kemenangan sebagai amanah rakyat yang harus ia tuntaskan dan ia pertanggungjawabkan dunia akhirat.

Keberhasilan Wardoyo memimpin Kabupaten Sukoharjo memang tidak banyak terekam media massa, namun tidak mengurangi sedikit pun antusiasme masyarakat Sukoharjo. Bukan tanpa bukti, pada Pilkada 2015 silam, Wardoyo mampu memetik kemenagan dengan mengantongi suara hingga 85,2 persen.

Bukan rahasia lagi, pria jebolan Magister Hukum Universitas Slamet Riyadi itu memang memiliki kedekataan dengan warganya. Tak jarang ia dijuluki sebagai Bupati berdedikasi kerakyatan. Sederhana dan tampil apa adanya membuat warga Sukoharjo tidak rikuh untuk berinteraksi langsung dengannya.

Bagi Wardoyo, jabatan Bupati bukanlah kesenjangan yang kemudian menjauhkannya dengan warga. Justru jabatan menuntutnya untuk menyatu dengan warga. Bupati adalah pelayan rakyat, begitulah sekiranya prinsip yang terus ia pegang. Tidak ada yang berubah pada sosok wardoyo meski dirinya menjadi orang nomor satu di Sukoharjo.

Bahkan dalam banyak kesempatan, ia tidak ragu untuk mengatakan bahwa ia hanyalah anak seorang petani biasa. Terlatih berdikari dan hidup penuh dengan kerja keras sedari kecil, menjadikanya sosok yang matang dalam urusan pekerjaan. Merakyat, tegas, dan disiplin menjadi senjata ampuh Wardoyo untuk menjadikan Sukoharjo lebih baik, sesuai visi yang ia angkat.

Melalui tangan dinginnya, Sukoharjo perlahan ia sulap menjadi Kabupaten yang semakin maju dan mulai dilirik banyak pengusaha. Segudang program berbasis kerakyatan berhasil ia gulirkan dengan capaian memuaskan, mulai dari pengentasan kemiskinan, pendidikan gratis, hingga penyediaan fasilitas bagi penyandang disabilitas. Semua kalangan tidak luput dari sasaran programnya.

Tidak butuh waktu lama bagi Wardoyo untuk menuntaskan persoalan yang sekian lama melilit kota yang maju akan industri tekstil seperti Sukoharjo. Pada 2011, ia sempat menggulirkan program pendidikan gratis untuk siswa SD hingga SLTA. Selain itu, ia luncurkan program santunan kematian khusus bagi warga kurang mampu. Total ada Rp40 miliar ia gelontorkan untuk program kerakyatan ini.

Wardoyo dicintai warganya karena kepiawaiannya dalam meracik segudang kebijakan populis. Prinsipnya, program pemerintah harus sampai pada semua lapisan masyarakat, tanpa terkecuali. Terbukti, ia memberikan perhatian penuh pada para penyandang disabilitas dengan menyediakan modal kerja sejumlah Rp30 juta bagi tiap kelompok.

Selain dikenal merakyat, penggemar Presiden Soekarno tersebut dikenal dekat dengan para ulama. Ia memiliki jadwal kajian bersama para ulama di kediamannya dua kali dalam sebulan. Ia mengaku nyaman dan membutuhkan sosok ulama untuk terus menasihati dan mendampinginya memimpin Sukoharjo. Ia menilai, seorang pemimpin harus memiliki landasan spiritual yang kokoh.

Sederet Penghargaan

Moncer di kalangan semua lapisan masyarakat membuat Wardoyo bersemangat untuk terus bekerja demi Sukoharjo yang lebih baik. Alhasil, berkat kegigihanya, dalam enam tahun terakhir, ia berhasil memboyong sederet penghargaan.

Ia dianugerahi Indonesia Open Source Award (IOSA) oleh Kementerian Komunikasi, Piagam Penghargaan Ketahanan Pangan oleh Kementerian Pertanian, Penghargaan Penilaian Kinerja Pemerintah Kabupaten (PKPD) Tingkat Nasional oleh Kementerian Pekerjaan Umum.

Bukan hanya itu, ia berhasil memboyong Penghargaan Anugerah Parahita Eka Praya dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan menyabet Piagam ICT Pura sebagai kabupaten atau kota digital berpredikat utama dari Kemenkominfo. Pada 2014, ia berhasil mempersembahkan penghargaan Satyalencana dari Kementerian Dalam Negeri.

Tak berhenti sampai di sana, pada 2015, Wardoyo mempersembahkan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terkait Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran 2015. Bahkan Wardoyo berhasil meraih tanda jasa kehormatan Satyalancana Pembangunan dari Presiden Joko Widodo pada Oktober 2016 silam.

Penghargaan ini diberikan kepada Wardoyo karena keberhasilannya membangun Kabupaten Sukoharjo melalui alokasi APBD berdampingan dengan DAK, sekaligus wujud apresiasi negara atas keberhasilannya membangun sarana dan prasarana, seperti gedung, pasar, perkantoran, infrastruktur jalan, kemandirian ekonomi, hingga peningkatan kualitas layanan publik.

Kesuksesan program lainnya adalah bidang pendidikan, untuk meningkatkan kualitas SDM di Sukoharjo, sejak tahun 2012 Bupati Wardoyo Wijaya membuat pendidikan gratis baik negeri maupun swasta SD/SMP/SMA/SMK.

Jadi, berbuat baiklah. Karena, perbuatan baik akan menumbuhkan perbuatan baik lainnya. Selanjutnya akan menjadi kebiasaan baik, dari kebiasaan baik akan menjadi peradaban mulia. Wardoyo tengah mengusahakannya, dahulu, kini, dan sampai kapan pun.