Menjaja Nikmat Nasi Liwet Wongso Lemu

(Foto:resep cara masakan)
(Foto:resep cara masakan)

Solo, Jika anda mengunjungi Kota Solo, maka ada yang kurang jika tidak mencicipi gurih dan nikmatnya nasi liwet.   Nasi liwet adalah makanan khas kota Solo. Nasi liwet adalah nasi gurih, yang disajikan dengan sayur labu siam, suwiran ayam  dan areh (semacam bubur gurih dari kelapa).

Salah satu nasi liwet yang cukup masyhur dan ramai dikunjungi adalah Nasi liwet Wongso Lemu. Nasi liwet ini berdiri sejak tahun 1950 hingga saat ini dan terjaga kelezatannya.

Afif Mahfud (25), salah satu pengunjung, mengatakan rasa nasi liwet rasanya sangat enak.

“rasanya enak, pas dilidah,” tandas pria asal Makassar yang baru pertama kali mengunjungi dan mencoba nasi liwet ini.

Selain itu,selain dapat menikmati nasi liwet pengunjung bisa merasakan nikmatnya wedang ronde nan hangat untuk mendampingi saat makan nasi liwet.

Meski rami pengunjung dan ramai, banyak orang-orang rela mengantri cukup lama untuk merasakan gurihnya nasi liwet  Wogso Lemu yang terletak di Jalan Teuku Umar, Daerah Mangkunegaran, Solo.

Nasi Liwet dan Budaya Jawa

Penduduk kota Solo biasa memakan nasi liwet setiap waktu mulai dari untuk sarapan, sampai makan malam. Nasi liwet biasa dijajakan keliling dengan bakul bambu oleh ibu-ibu yang menggendongnya tiap pagi atau dijual di warung lesehan (tanpa kursi).

Secara historis, setiap bulan Mulud (Maulid), manusia Jawa rutin menggelar upacara Selametan (kenduri). Upacara Selametan itu ditujukan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad saw dengan harapan mendapatkan berkah. Dalam sumber tradisi lisan, konon utusan Gusti Pangeran itu gemar menyantap nasi samin. Lantaran orang Jawa tidak bisa memasak nasi samin, maka mereka membuat nasi yang menyerupai nasi samin, yakni nasi liwet

Selain itu,  dalam Serat Centhini (1814-1823), nasi liwet dihadirkan ketika Pulau Jawa diguncang gempa bumi. Nasi liwet dihadirkan dengan sebaris doa yang dilantunkan untuk keselamatan. Dalam naskah kono itu juga memuat kalimat: liwet anget ulam kang nggajih/ wus lumajeng ngarsi/ sadaya kemebul.