2016, Perubahan Iklim Tak Menentu Pengaruhi Pemakaian Pupuk Bersubsidi di Wonogiri

Lahan pertanian di Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri. (Foto: sekolahdesa.or.id)

Selogiri, SURAKARTADAILY.COM ** Dibandingkan 2015, terjadi penurunan 100 ton pemakaian pupuk SP36 dan 2550 ton untuk NPK di Kabupaten Wonogiri. Meski demikian, dalam waktu bersamaan, terdapat kenaikan pemakaian ZA serta petroganik.

“Terjadi pergeseran pola tanam akibat perubahan iklim yang tidak menentu, peningkatan luas tanam sebesar 3722 Ha, serta pergeseran penggunaan pupuk tunggal urea ke pupuk majemuk NPK,” ujar Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Wonogiri, Safuan, saat Rakor Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida Kabupaten Wonogiri Tahun 2016 di Ruang Girimanik Setda, Jumat (2/12/2016).

Pada 2016, ungkapnya, Pemerintah Kabupaten Wonogiri telah mengalokasikan pupuk bersubsidi, di antaranya Urea sebanyak 33400 ton, SP36 sebanyak 6700 ton, ZA sebanyak 6550 ton, NPK sebanyak 20700 ton, serta petroganik sebanyak 14000 ton.

Rakor dipimpin langsung oleh Bupati Wonogiri Joko sutopo serta dihadiri Asisten Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat, Kepala SKPD terkait, Produsen, Distributor, pengecer pupuk, para penyuluh pertanian serta gapoktan.

Dirilis Humas Pemkab Wonogiri, acara ini bertujuan untuk meningkatkan koordinasi dan komitmen para pemangku kepentingan dalam menjamin keberadaan pupuk bersubsidi di Kabupaten Wonogiri.

Dalam kesempatan itu, Bupati menyatakan apresiasinya kepada semua pihak, baik aparat pemerintah dan masyarakat, atas partisipasi aktifnya dalam menjalin kemitraan.

“Sebagai bagian implementasi Undang-Undang No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah yang menjalankan tugas pembantuan dan pendelegasian wewenang dari Pemerintah Pusat, Pemkab Wonogiri menjalankan fungsi kontrol serta monitoring terhadap perangkat kegiatan ekonomi, khususnya yang didalamnya terdapat harga bersubsidi,” terang Bupati Joko.

Menurutnya, jika ada subsidi negara, berarti ada keterkaitan bagi Pemkab untuk mengontrol pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Bupati menegaskan, selama 10 bulan terakhir, distribusi pupuk bersubsidi di Wonogiri berjalan lancar. Terlebih, dengan adanya diskusi dan koordinasi bersama pemangku kepentingan dalam menyelesaikan masalah kelangkaan pupuk, beberapa waktu lalu.

Kelangkaan Pupuk

Pada Rakor tersebut, Bupati menanggapai pandangan semua Fraksi di DPRD Pada Rapat Paripurna 30 November 2016 lalu yang menyatakan Wonogiri saat ini dalam kondisi kelangkaan pupuk.

“Jikalau terjadi kondisi kelangkaan tersebut bukanlah unsur kesengajaan, tetapi karena faktor penggunaan di lapangan yang meningkat akibat siklus atau musim yang tidak menentu. Untuk itu, perlu kiranya para wakil rakyat untuk melakukan pengecekan dan monitoring langsung ke lapangan, agar mengetahui apakah sungguh-sungguh terjadi kelangkaan ataukah hanya informasi yang belum terverifikasi kebenarannya,” papar Joko.

Ia mengajak semua pihak yang berkepentingan, untuk melakukan koordinasi, monitoring, dan evaluasi secara rutin, serta mengadakan pertemuan lanjutan setiap tiga bulan sekali agar dapat menilai kinerja dan mengurai permasalahan terkait pupuk bersubsidi.