Wujudkan Kota Layak Anak, Pemkot Solo Sosialisasikan “Masyarakat Sensor Mandiri”

Sosialisasi “Masyarakat Sensor Mandiri, Wujud Kepribadian Bangsa” Pada Kamis 31 Maret 2016. (Foto: Humas Pemkot Surakarta)
Sosialisasi “Masyarakat Sensor Mandiri, Wujud Kepribadian Bangsa” Pada Kamis 31 Maret 2016. (Foto: Humas Pemkot Surakarta)

Solo, SURAKARTADAILY** Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta bekerjasama dengan Lembaga Sensor Film Republik Indonesia menggelar Forum Sosialisasi Kebijakan Lembaga Sensor Film.

Dengan mengusung tema “Masyarakat Sensor Mandiri, Wujud Kepribadian Bangsa”. Acara ini diharapkan mampu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya sensor untuk perkembangan anak – anak.

Asisten Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Surakarta Rohanah mengatakan “Pemerintah Kota Surakarta memberikan apresisasi sosialisasi yang memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang arti pentingnya Lembaga Sensor Film dalam mempertahankan kepribadian bangsa.” Dirilis Pemkot Surakarta.

Sensor mandiri mendorong masyarakat untuk aktif mengklarifikasi media informasi dan hiburan terutama perfilman berdasarkan UU Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman. Film yang menjadi tontonan harus diperhatikan masyarakat sehingga batasan usia penonton yang ditetapkan oleh produsen film dan sudah melalui Lembaga Sensor Film dapat dipatuhi bersama.

Acara ini melibatkan sejumlah pihak terkait, seperti Lembaga Sensor Film yaitu Arturo Gunapriatna dan Noor Saadah serta dari ISI Surakarta Citra Ratna Amelia. Peserta sosialisasi antara lain Parfi Cabang Surakarta, Pemerhati Film, Perwakilan Guru dan Murid SMA/SMK serta Perguruan Tinggi, Pengurus PKK, dan SKPD terkait.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Anak Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (Bapermas PP PA dan KB) Kota Surakarta Supraptiningsih berharap orang tua berperan aktif dalam memperhatikan tayangan – tayangan televisi untuk anak.

Pihaknya mengaku sedang menyoroti tentang tayangan-tayangan film televisi, dimana film anak-anak disisipi dengan adegan kekerasan, pornografi, pembunuhan yang tak sepantasnya di lihat anak-anak. Melihat hal yang demikian ia berharap kepada orang tua maupun keluarga untuk bisa menjadi sensor bagi anak. Salah satunya dengan melakukan pendampingan pada saat anak melihat tayangan film.

“Orangtua, keluarga dan masyarakat hendaknya bisa menjadi pelindung anak-anak. Ia mengingatkan peran tauladan orangtua untuk menjadi contoh yang baik dalam keluarga.” Katanya. Dirilis Pemkot Surakarta.

Kota Layak Anak

Pemkot melalui Bapermas PP PA dan KB terus melakukan sejumlah upaya untuk mewujudkan Solo Kota layak anak.

“Perlahan namun pasti segala hak anak bisa terpenuhi, salah satu usaha Pemkot untuk menuju kesana adalah dengan membentuk kelompok kerja (Pokja) di masing-masing kelurahan supaya menjadi Kelurahan Layak Anak setelah itu baru akan menjadi Keluarga Ramah Anak.” Jelas Supraptiningsih.

Sebelumnya Bapermas telah mengadakan pembinaan Program Kerja (Pokja) Kota Layak Anak (KLA) dengan tema “Peran Pokja KLA dalam mewujudkan Surakarta sebagai Kota Layak Anak 2016”, Pada Jumat (1/4).

Acara ini diikuti 204 peserta yang terdiri dari Pokja KLA Kelurahan dan Tim Penggerak PKK di Kota Surakarta.