Promosikan Produk Lokal, Pemkab Siapkan Motif Batik Khas Klaten

Bupati Klaten Sri Hartini Mengunjungi sentra produksi batik di Kecamatan Bayat. (Foto: Humas Pemkab Klaten)
Bupati Klaten Sri Hartini Mengunjungi sentra produksi batik di Kecamatan Bayat. (Foto: Humas Pemkab Klaten)

Klaten, SURAKARTADAILY ** Beragam cara ditempuh untuk mendongkrak popularitas klaten sebagai daerah penghasil batik tulis berkelas. Pemkab Klaten melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) kini tengah menggagas motif batik sebagai ikon kota bersinar ini.

Perlu diketahui, klaten sebagai pemantik dua kota besar yakni Solo dan Jogja ternyata memiliki kualitas batik yang tidak kalah dengan dua kota tersebut.

“Karena selama ini belum ada motif batik yang benar – benar menunjukkan ini lho klaten, maka dengan motif yang sedang disiapkan ini nantinya begitu masyarakat melihat langsung tahu motif ini ya klaten,” Papar Kepala Bidang (Kabid) Perencanaan Ekonomi Bappeda Klaten Wahyu Haryadi, Rabu (23/3).

Ide motif batik khas Klaten ini sudah mulai digagas Pemkab sejak awal tahun lalu. Baru pada saat acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrenbangda) pekan lalu, peluncuran motif batik baru terlaksana.

“Sambutanya cukup positif, namun nanti masih kami diskusikan dengan Bupati untuk pengembangan motif dan promosinya,” Jelas Wahyu.

Bappeda memberikan kepercayaan penuh kepada pengrajin batik di kecamatan Bayat. Banyak pertimbangan untuk memutuskan hal tersebut, salah satunya karena Kecamatan Bayat dikenal dengan kerajinan batik, batik bayat juga terkenal dengan kualitas warna yang menggunakan bahan pewarna alami.

Sementara itu, Wakil Bupati Klaten Sri Mulyani menyambut baik ide pembuatan motif batik khas klaten ini. Klaten merupakan penghasil batik yang produknya sudah beredar diberbagai wilayah Indonesia, namun hingga saat ini belum memiliki motif khas sebagai ikon.

Motif batik yang akan diusung memadukan beberapa unsur produk unggulan Klaten seperti padi, bunga melati, gerabah, gunungan wayang dan corak garis – garis.

“Motif garis – garis mewakili kerajinan lurik, gunungan ciri khas budaya pedalangan, gerabah juga potensi unggulan yang sudah dikenal masyarakat luas, itu semua mewakili produk unggulan Klaten.” Jelasnya.

Seragam Batik PNS

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo secara tegas menolak aturan pemakaian seragam dinas pegawai negeri sipil di lingkungan Pemprov Jawa Tengah. Bahkan pihaknya memerintahkan jajaranya untuk mengenakan batik.

Penggunaan batik untuk jajaran PNS Pemprov Jateng merupakan salah satu langkah Gubernur dalam mendorong ekonomi masyarakat, khususnya usaha mukro kecil menengah (UMKM).

“Dipanggil menghadap Biro Hukum ya tidak apa – apa. Dan saya siap “disekolahkan”, saya akan mendaftar. Akan saya sampaikan, bahwa alasan Pemprov Jateng cukup Kuat.” Tegas Ganjar.

Kondisi perekonomian dan perindustrian Jawa Tengah sedang mengalami kelesuan sehingga perlu didorong dengan berbagai tindakan dan kebijakan, salah satunya dengan mengenakan batik lurik bagi PNS Jawa Tengah.

“Selama ini, PNS di Pemprov Jateng mengenakan lurik setiap selasa dan batik setiap rabu hingga jum’at. Aturan itu membuat perekonomian para pengrajin batik dan lurik meningkat, akan saya pertahankan itu.” Tukas Ganjar.