Dirut Bumiputera Wisata: Surakarta Butuh Kawasan Wisata Terpadu Berkelas Internasional

Direktur Utama PT Bumiputera Wisata, Suroto. (Foto: Agung Bramanto)
Direktur Utama PT Bumiputera Wisata, Suroto. (Foto: Agung Bramanto)

Kota Solo, SURAKARTA DAILY ** Direktur Utama PT Bumiputera Wisata, Suroto, berpandangan bahwa eks-Karesidenan Surakarta membutuhkan pengembangan kawasan wisata yang berkarakter dan berkelas internasional. Akses transportasi menuju Surakarta yang terus mengalami perkembangan menjadi faktor penting.

“Adanya akses bandara internasional, stasiun, dan ke depan, akan selesainya proyek Tol Semarang hingga Surabaya semakin menambah nilai potensi di Surakarta,” ujarnya beberapa waktu lalu, saat ditemui di Hotel Agas.

Menurutnya, pariwisata salah satu sektor ekonomi penting di Indonesia. Pada 2011, pariwisata menempati urutan ketiga dalam hal penerimaan devisa, setelah komoditas minyak dan gas bumi, serta minyak kelapa sawit.

Setiap tahun, sambungnya, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia pun mengalami peningkatan.

“Selama ini, faktor penunjang untuk membentuk kawasan wisata yang modern dan berkarakter budaya di wilayah Surakarta sudah memadai. Banyaknya perkembangan hotel dan penginapan, masih tersedianya lahan yang luas, dan juga strategis,” paparnya.

Ia menjelaskan, Kementerian Pariwisata telah menetapkan target kunjungan wisatawan ke Indonesia pada 2016 sebesar 272 juta wisatawan. Jumlah tersebut terbagi atas 12 juta wisatawan mancanegara dan 260 juta wisatawan nusantara.

“Dari target yang dicanangkan pemerintah pusat melalui kementerian pariwisata, diharapkan pemerintah kabupaten dan kota di Surakarta bisa serius menggarap event dan pembangunan kawasan wisata internasional yang berkarakter,” kata Suroto.

Surakarta, tambahnya, bisa mencontoh Kabupaten Batu, bagaimana mengembangkan kawasan khusus wisata. Jarak antar-wahana rekreasi yang dekat dan akses untuk menuju ke wahana rekreasi juga ditopang oleh kota lain, yakni Malang.

“Dengan adanya kerja sama antar-pemerintah daerah dan komunikasi yang bagus, diharapkan kawasan wisata terpadu berkelas internasional bisa segera terwujud,” pungkasnya.

Solo Kota Kreatif

Praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah, mengatakan, kawasan wisata terpadu berkelas internasional akan mewujud bila dibarengi dengan olah potensi ekonomi kreatif. Ia mengapresiasi gerakan ekonomi kreatif Solopolah, misalnya, sebagai spirit baru terus membangun Kota Solo.

“Saya sangat mengapresiasi positif gerakan kreatif Solopolah dan berharap, masyarakat Kota Solo dapat memberi dukungan berarti agar terus membesar dan berdampak signifikan bagi perekonomian Kota Solo,” tuturnya.

Albi berpendapat, semua elemen masyarakat bertanggung jawab pada desain pencitraan kreatif Kota Solo. Momentum gerakan Solopolah layak dijadikan perhatian khusus bagi masyarakat Solo. Setidaknya, pengorganisasian citra yang lebih rapi terhadap kelompok-kelompok kreatif akan semakin dapat meningkatkan konsolidasi efektif dalam berbagai bidang, sehingga tidak melahirkan gesekan-gesekan kepentingan temporal dan sektoral.

“Saya yakin, hadirnya gerakan Solopolah bukan tiba-tiba atau mungkin, pesanan beberapa kelompok semata. Solopolah hadir sebagai komitmen kota terhadap label kota kreatif di Indonesia. Di sisi lain, gerakan kreatif dari kelompok masyarakat dan semua kalangan di Kota Solo merupakan kebutuhan mendesak,” tutur Albi.

Apalagi, lanjutnya, diberlakukannya kewenangan lokal atas aset daerah semakin meninggikan friksi pemerintah nasional dan lokal yang harus segera dimediasikan dengan sebuah gerakan atau aksi nyata.

Meski demikian, ada catatan penting dari Albi. Baginya, Solopolah tidak akan pernah membumi jika hanya dimonopoli oleh kalangan tertentu atau elitis.

“Gerakan ini tidak akan pernah langgeng jika ditunggangi motif-motif politis. Selain itu, Solopolah tidak akan menemui titik puncak kreatifnya jika dibarengi dengan kepentingan-kepentingan pencitraan pribadi, bukan pencitraan kota secara kolektif,” ucapnya.