Buku Baru: Ketika Lelaku Membuat Hidup Lebih Gampang Dijalani

Yang Terucap Yang Tertulis karya Mas Wantik. (Foto: Arif Giyanto)
Yang Terucap Yang Tertulis karya Mas Wantik. (Foto: Arif Giyanto)

Bukan hanya tulisan Mas Wantik yang saya baca, tapi saya pernah dua hari bersama beliau. Dengan tulus beliau mengajarkan arti kehidupan sesungguhnya. Satu kata dari saya, tulisan dan kepribadian beliau, KEREN!

Ardi Gunawan, Penulis 7 Metode Terlarang dan Founder Nutrisi Otak Omar Smart Brain

BATAS antara sulit dan gampang terkadang tampak tegas, tapi terkadang mengabur, pun malahan tidak terasa ada meski pada kenyataannya ada. Karena dunia berisi dua hal berpasangan, sulit dan gampang saling melengkapi sebagai bagian kehidupan.

Adalah Suwantik, seorang autodidak yang tak berhenti belajar. Akrab dipanggil dengan sebutan Mas Wantik, ia berbagi kepada khalayak dengan menulis buku berjudul Yang Terucap Yang Tertulis: Cara Gampang Jadi Orang Baik.

Buku terbitan Pandiva Buku tersebut bertutur tentang pentingnya keistiqamahan dalam belajar. Tidak ada kata berhenti dalam belajar. Pesan itu terpancar kuat dari performa penulis. Pesan yang ia kisahkan, juga pesan yang ia teladankan.

Bagi kalangan berpikir, selain atas kehendak Allah SWT, kemudahan hidup sebenarnya selalu lahir atas kerja keras seseorang atau sekelompok orang. Tampaknya mudah, tapi ia tak serta merta ada, tanpa sebab.

Misalnya, Anda dapat mudah bertransaksi secara online, karena ada perangkat teknologi informasi yang didesain canggih oleh para programmer dengan segala pernak-pernik hambatan. Anda dapat membaca mushaf lengkap dengan cara mudah membacanya, karena sekian lama dan sekian banyak manusia brilian bekerja keras melahirkannya. Begitu seterusnya.

Ketekunan dan keikhlasan yang berbuah ‘ilmu hidup’ tersebut lantas menjadi kekuatan khusus saat memberi dan berbagi pada sesama. Pengucapan kata ‘mudah’ atau ‘gampang’ tentu saja bukan tanpa alasan. Apalagi kata itu lahir dari seseorang yang lebih banyak berbuat, daripada berbicara.

Kira-kira, tak kurang dan tak lebih, begitulah cara gampang menilai dedikasi penulis buku ini dalam menebarkan optimisme hidup. Bahwa hidup tidak melulu tentang untung-rugi, atau hitung-hitungan kasat mata. Penulis berkisah tentang hidupnya yang seringnya, susah dikalkulasikan, tapi kemudian menjadi mudah dan berguna saat dijalani dengan kesungguhan.

Katakanlah penulis hendak memberi teladan dalam menuai hikmah hidup, tulisan-tulisan bertutur sarat makna dalam buku ini dapat membawa Anda pada kenyataan hidup yang sebenarnya, juga Anda rasakan dan jalani. Buku ini seperti berkisah tentang perjalanan banyak orang, meski mungkin, dalam sudut pandang ‘lelaku’ yang dominan, ketimbang berangan atau berkonsep.

Disajikan seorang praktisi, pengamat, pendidik, dan filsuf, karya yang akan Anda baca kali ini mengabarkan hal penting yang bisa jadi selama ini tidak dinilai penting, karena belum dilakoni. Sebuah manuskrip utuh tentang apa ‘yang terucap’ dan apa ‘yang tertulis’. Pada konteks sederhana, penulis hendak berujar, bila ingin berbuat baik, lakukanlah. Tak perlu menunggu atau berpikir terlalu lama.

Penulis menggarisbawahi pentingnya belajar dalam keadaan apa pun, sampai kapan pun, dan kepada siapa pun. Bukan perkara mudah perihal belajar terejawantah dalam hidup seseorang. Tapi bagi seorang pembelajar, ia justru menilai bahwa hidup memang belajar. Tidak perlu malu, tidak perlu berkeluh, tidak perlu bermalas.

Orang bijak mengatakan, istiqamah lebih baik daripada karamah. Artinya, sekecil apa pun perbuatan baik, bila dilakukan terus-menerus, akan berdampak besar bagi manusia dan kemanusiaan.

Penggila Sedekah

Mas Wantik lahir di Sukoharjo, 26 April 1972, sebagai putra ketiga pasangan (Alm) Yoso Sumarto dan Hj. Manis. Ia pebisnis furniture, lighting, dan craft kelas ekspor. Kecakapannya dalam berbisnis membawanya terbang ke berbagai negara dan memberi kesempatan baginya untuk berburu hikmah dari berbagai penjuru dunia.

Dalam menjalankan bisnis, pria penggila dan pegiat sedekah ini mengaku banyak belajar dari dua tokoh yang dikaguminya, Dahlan Iskan dan Ustad Yusuf Mansur.

Mas Wantik. (Foto: Pandiva Buku)
Mas Wantik. (Foto: Pandiva Buku)

Bisnis yang identik dengan uang, ia kemas dengan balutan religi yang harmonis. Tak heran bila di kantornya, tadarus Al-Quran dan Sholat Dhuha menjadi menu pembuka sebelum memulai aktivitas kerja, setiap harinya.

Di luar kerja, pria murah senyum yang menyukai olahraga dan membaca tersebut banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan sosial di kampungnya. Bersama istrinya, Hj. Ninik, Mas Wantik tengah merintis sebuah pesantren dan PAUD, tak jauh dari rumah.

Mas Wantik tengah berikhtiar keras untuk menjadi anak yang saleh dan memiliki anak-anak yang salihah; Bapak yang dibanggakan ketiga putrinya, yakni Wening Nur Faizi, Fathimah Azzahra, dan Duratu Annasiha.

Selamat membaca karya monumental ini. Tak perlu terburu-buru. Mari mengunyahnya dengan cara paling sederhana dan dalam sudut pandang milik Anda sendiri. Kekuatan tulisan akan terasa hingga ke kalbu, bila Anda seorang perindu laku hidup atau berbuat baik.

Judul Buku: Yang Terucap Yang Tertulis, Cara Gampang Menjadi Orang Baik | Penulis: Mas Wantik | Penerbit: Pandiva Buku | Tahun Terbit: Januari 2016 | Halaman: xviii + 360 hal |Ukuran: 15 x 21 cm| ISBN: 978-602-73748-0-5