Tragedi Bulukerto, Ketua Umum HMI Sukoharjo: Hukum Mati Pelakunya

TEGAS - Ketua Umum HMI Cabang Sukoharjo, Adhi Nurseto. (Foto: Arif Giyanto)
TEGAS – Ketua Umum HMI Cabang Sukoharjo, Adhi Nurseto. (Foto: Arif Giyanto)

Kartasura, SURAKARTA DAILY ** Ketua Umum HMI Cabang Sukoharjo, Adhi Nurseto, meminta aparat penegak hukum untuk menjatuhkan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku Tragedi Bulukerto. Menurutnya, tidak ada hukuman lain bagi pelaku kejahatan kemanusiaan pada anak, selain hukuman mati.

“Kasus pembunuhan yang disertai pelecehan seksual pada anak adalah bentuk kejahatan kemanusiaan yang tak bisa diampuni,” ujar Seto kepada Surakarta Daily, beberapa waktu lalu.

Ia menegaskan, apabila negara tidak memberikan perhatian khusus pada kasus kejahatan kemanusiaan terhadap anak maka Indonesia dipastikan akan menjadi negara yang tidak layak huni bagi anak.

Seto prihatin atas kerapnya aksi pembunuhan disertai kekerasan seksual pada anak. Korban Putri Nur Fauzia, warga Kalideres Jakarta, dan Arif Murdika, warga Bulukerto Wonogiri, tidak boleh terulang kembali.

“Jangan ada lagi Putri-Putri dan Arif-Arif lain yang akan menjadi korban kejahatan kemanusiaan di Indonesia,” ucapnya.

Menghancurkan Kemanusiaan

Sebelumnya, praktisi promosi daerah kelahiran Tirtomoyo Wonogiri, Albicia Hamzah, berkomentar, meninggalnya Arif Murdika (9), putra dari Istanto (45), warga Soko RT 01 RW 10 Desa Bulurejo Kecamatan Bulukerto Kabupaten Wonogiri, pada Rabu (30/9/2015), merupakan keprihatinan kemanusiaan.

“Saya menyebut peristiwa meninggalnya Arif Murdika dengan cara keji tersebut sebagai Tragedi Bulukerto. Kejadian ini mengirim pesan kepada seluruh umat manusia tentang perilaku berlebihan yang dapat menghancurkan kemanusiaan,” katanya.

Ia menegaskan, empati publik menjadi hal penting, karena kasih sayang sebagai sifat dasar manusia harus terus dimenangkan. Kejadian menggemparkan kemarin, semoga semakin memperkuat kesadaran, tentang pentingnya menjaga keharmonisan keluarga dan mengedepankan perhatian kepada anak.

“Sejak dahulu, Wonogiri sarat dengan nilai-nilai luhur, seperti handarbeni (saling memiliki) dan hanyengkuyung (saling mendukung) antar-warga. Tentu saja Tragedi Bulukerto mengejutkan banyak pihak. Saya kira, bukan manusia yang melakukan perbuatan itu,” ucap Albi.

Albi menegaskan, pengusutan atas Tragedi Bulukerto harus dilakukan dengan tuntas. Bukan hanya aparat hukum, tapi masyarakat juga berperan mengawal kasus tersebut hingga selesai. Momentum ini dapat menyatukan semua warga Wonogiri untuk membangun benteng sosial, budaya, dan hukum, agar di masa depan tak terulang kembali.

“Mari bahu-membahu turut berkontribusi agar kejadian serupa tidak ada lagi. Wonogiri harus bersih dari perilaku tidak berkemanusiaan seperti itu. Bukan hanya Bulukerto, semua daerah di Wonogiri dan seluruh Indonesia, waktunya concern pada perlindungan terhadap keselamatan anak,” tuturnya.