Tragedi Bulukerto, Albicia Hamzah: Keprihatinan Kemanusiaan yang Tak Boleh Terulang

SHALAT IED - Arif Murdika (kiri) bersama kakaknya, hendak berangkat Shalat Idul Fitri 1436 H. (Foto: Marlina)
SHALAT IED – Arif Murdika (kiri) bersama kakaknya, hendak berangkat Shalat Idul Fitri 1436 H. (Foto: Marlina Giyanto)

Bulukerto, SURAKARTA DAILY ** Meninggalnya Arif Murdika (9), putra dari Istanto (45), warga Soko RT 01 RW 10 Desa Bulurejo Kecamatan Bulukerto Kabupaten Wonogiri, pada Rabu (30/9/2015), merupakan keprihatinan kemanusiaan. Perilaku tidak berperikemanusiaan tersebut diharapkan tidak terulang.

“Saya menyebut peristiwa meninggalnya Arif Murdika dengan cara keji tersebut sebagai Tragedi Bulukerto. Kejadian ini mengirim pesan kepada seluruh umat manusia tentang perilaku berlebihan yang dapat menghancurkan kemanusiaan,” ujar praktisi promosi daerah kelahiran Tirtomoyo Wonogiri, Albicia Hamzah, kepada Surakarta Daily, Jumat (2/10/2015).

Ia menegaskan, empati publik menjadi hal penting, karena kasih sayang sebagai sifat dasar manusia harus terus dimenangkan. Kejadian menggemparkan kemarin, semoga semakin memperkuat kesadaran, tentang pentingnya menjaga keharmonisan keluarga dan mengedepankan perhatian kepada anak.

“Sejak dahulu, Wonogiri sarat dengan nilai-nilai luhur, seperti handarbeni (saling memiliki) dan hanyengkuyung (saling mendukung) antar-warga. Tentu saja Tragedi Bulukerto mengejutkan banyak pihak. Saya kira, bukan manusia yang melakukan perbuatan itu,” ucap Albi.

Albi menegaskan, pengusutan atas Tragedi Bulukerto harus dilakukan dengan tuntas. Bukan hanya aparat hukum, tapi masyarakat juga berperan mengawal kasus tersebut hingga selesai. Momentum ini dapat menyatukan semua warga Wonogiri untuk membangun benteng sosial, budaya, dan hukum, agar di masa depan tak terulang kembali.

“Mari bahu-membahu turut berkontribusi agar kejadian serupa tidak ada lagi. Wonogiri harus bersih dari perilaku tidak berkemanusiaan seperti itu. Bukan hanya Bulukerto, semua daerah di Wonogiri dan seluruh Indonesia, waktunya concern pada perlindungan terhadap keselamatan anak,” tuturnya.

Pernyataan Tokoh

Lebih lanjut, Albi berharap, tokoh-tokoh Wonogiri untuk turut memberikan statement-nya, sebagai wujud keprihatinan atas Tragedi Bulukerto. Pernyataan tersebut dapat disebarluaskan melalui media massa, media sosial, atau sosialisasi terhadap warga.

“Kejadian ini menjadi pembelajaran serius bagi kita semua, terutama para orangtua. Oleh karena itu, para tokoh sebaiknya memberikan statement untuk mengawal proses hukum Tragedi Bulukerto. Setelahnya, penting dibangun konsensus bersama agar tercipta sekuritas berbasis masyarakat, untuk menghindarkan anak-anak kita dari pelaku kejahatan,” terangnya.

Seluruh warga Wonogiri, sambung Albi, diharapkan mengetahui kejadian ini. Sebab, norma-norma kewonogirian harus dijunjung tinggi, untuk terus memperbaiki kampung halaman, baik lahir maupun batin.

“Jangan menyerah untuk membina keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Keluarga yang solid didukung warga yang peduli pada sesama, akan melahirkan sistem sosial yang beradab,” pungkasnya.

Seperti ramai diberitakan sebelumnya, Arif Murdika atau biasa dipanggil Dika, ditemukan meninggal dalam kondisi mengenaskan di bawah jembatan tak jauh dari tempat tinggalnya. Polisi telah menetapkan seorang tersangka.