Napak Budaya Samanhoedi 2015 Kuatkan Pasar Rakyat dan Kampung Wisata

PRO-RAKYAT - Sarasehan Napak Budaya Samanhoedi 2015 di Kampoeng Wisata Sondakan, Laweyan, Kota Solo. (Foto: Iswan Heriadjie)
PRO-RAKYAT – Sarasehan Napak Budaya Samanhoedi 2015 di Kampoeng Wisata Sondakan, Laweyan, Kota Solo. (Foto: Iswan Heriadjie)

Laweyan, SURAKARTA DAILY ** Apakah Anda pernah mendengar nama Sudarno Nadi? Kalau belum, bagaimana dengan Samanhoedi? Samanhoedi atau yang bernama kecil Sudarno Nadi adalah salah satu figur penting dalam perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Tokoh yang lahir di Laweyan Solo pada 1868 ini membidani lahirnya Serikat Dagang Islam (SDI) pada 16 Oktober 1905.

SDI merupakan gerakan nasional pertama yang berani melawan pemerintah Belanda secara terang-terangan pada saat itu. SDI didirikan dengan tujuan membela kepentingan pedagang pribumi dari monopoli penguasa Hindia belanda dan pedagang Tionghoa.

SDI kemudian bermetamorfosis menjadi Sarekat Islam (SI). Kongres SI 23 Maret 1913 mengukuhkan KH Samanhoedi sebagai Ketua. Dalam perkembangannya, SI selalu memperjuangkan kenaikan upah pekerja, membela petani tertindas, hingga melawan kesewenangan pejabat.

Dalam rangka mengenang jasa Samanhoedi, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kelurahan Sondakan menggelar Napak Budaya Samanhoedi (NBS). Event NBS 2015 yang pelaksanaannya memasuki tahun kelima ini mengambil tema ‘Inspirasi Samanhoedi dalam pengembangan Eksistensi Pasar Rakyat dan Penguatan Identitas Kampung wisata’.

NBS 2015 diselenggarakan Jumat-Minggu, (21-23/8/2015) dengan rangkaian agenda kegiatan Ziarah Makam Samanhoedi, Sarasehan Samanhoedi, serta Kirab Budaya Samanhoedi.

Hadir sebagai pembicara dalam Sarasehan Samanhoedi Sejarahwan UNS, Heri Priyatmoko; dan Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Kota Surakarta, Subagyo; dipandu Kepala Bidang (Kabid) Pelestarian Kawasan dan Benda Cagar Budaya (BCB) Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Pemerintah Kota Surakarta, Mufti Rahardjo.

“Tujuan NBS 2015 adalah memperkuat identitas pasar rakyat guna kepentingan kepariwisataan daerah; mendorong iklim yang kondusif bagi dunia usaha, industri keci menengah; serta memperkuat citra kampung wisata yg berorientasi pada kearifan lokal,” ujar Ketua Pokdarwis Kelurahan Sondakan, Albicia Hamzah kepada Surakarta Daily, Minggu (23/8/2015).

Sesuai tema, NBS 2015 mencoba membangun mindset masyarakat bahwa potensi pasar rakyat yang berada di Kelurahan Sondakan, meliputi Pasar Oleh-oleh Jongke, Pasar Kaleng Kabangan, Pasar Buah, Pasar Sayuran, dan Pasar Senggol merupakan destinasi wisata potensial guna mendukung eksistensi Kampoeng Wisata Sondakan.

“Aspek Sapta Pesona harus menjadikan ruh pasar-pasar rakyat tersebut, karena kita sadar bahwa proses pembangunan pariwisata harus berjalan seiring dengan peningkatan kesadaran Masyarakat. Sapta Pesona adalah tujuh unsur pengembangan dan pengelolaan daya tarik wisata, yakni aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, kenangan,” terang praktisi promosi daerah tersebut.

Masyarakat Berbudaya

NBS 2015 adalah sarana mengukuhkan komitmen stakeholders Kelurahan Sondakan, khususnya para pedagang pasar rakyat, akan pentingnya masyarakat yang berbudaya. Tanpa mental budaya yang cukup maka keteraturan, kenyamanan, dan loyalitas terhadap Kelurahan Sondakan tidak akan pernah ada. Masyarakat berbudaya akan menciptakan iklim persaudaraan yang penuh identitas dan kepribadian universal.

“Kegiatan Sarasehan Samanhoedi sangat bagus, karena bisa menggali keteladanan KH. Samanhoedi sekaligus menginspirasi semangat perjuangan bangsa. Beliau adalah sosok entrepreneur yang pejuang,” terang Kabid Pelestarian Kawasan dan BCB DTRK Pemkot Surakarta, Mufti Rahardjo.

Dari rangkaian kegiatan Napak Budaya Samanhoedi 2015, diharapkan membangkitkan semangat kebersamaan, semangat kebudayaan, dan semangat kepariwisataan, sehingga eksistensi kampung wisata dan mental berkebudayaan akan terpatri kuat dalam masyarakat sekitar Laweyan dan Sondakan, lantas dapat membentuk kepribadian dan identitas lokal yang bermartabat dan berguna.