Solopolah, Creative Movement Wujudkan Solo Kota Kreatif

KREATIF - Gerakan Kreatif Solopolah saat Car Free Day Kota Solo. (Foto: Solopolah)
KREATIF – Gerakan Kreatif Solopolah saat Car Free Day Kota Solo. (Foto: Solopolah)

Purwosari, SURAKARTA DAILY ** Sebuah gerakan kreatif digagas sekelompok kreatif Kota Solo untuk menjadikan Solo sebagai Kota Kreatif. Gerakan tersebut bertajuk Solopolah. Diinisiasi praktisi dan pakar branding, Irfan Sutikno, Solopolah memberi semangat baru tumbuh pesatnya ekonomi kreatif di Kota Solo.

“Solopolah itu bukan nama, tapi tindakan. Bukan milik siapa, tapi untuk semua. Kebebasan berekspresi, keberanian unjuk kreasi, jauh lebih berarti untuk kota ini. Tak ada yang lebih baik selain mulai menggali ide. Tak ada yang lebih buruk, kecuali berdiam diri. Mari unjuk diri bersama dalam kegembiraan dan tawa. Elek ora popo, apik yo ben,” ujar Irfan kepada Surakarta Daily, Senin (6/7/2015).

Menurutnya, konon, reputasi kreatif adalah ketika apa yang digagas memiliki relevansi antara isi, bentuk, fungsi, dan cara mewujudkannya, hingga hasil akhirnya tidak berbelok dari tujuan semula.

Praktisi dan pakar branding, Irfan Sutikno. (Foto: Surakarta Daily)
Praktisi dan pakar branding, Irfan Sutikno. (Foto: Surakarta Daily)

“Konon, kreatif itu ketika kita selalu berpikir untuk meningkatkan nilai atau manfaat suatu hal atau benda dan tak selamanya harus yang bersifat seni. Solopolah; Ekonomi Obah, Rakyat Bungah,” tegas Irfan mantap.

Ia menambahkan, kreatif itu milik semua. Kreatif itu tentang ide meningkatkan nilai atau pun fungsi apa pun. Kreatif itu dimulai ketika seseorang membuka diri tentang peluang perubahan. Kreatif itu bukan sekadar bentuk, tapi pikiran. Kreatif itu bukan asal berbeda, tetapi memiliki argumen dan relevansi.

Solopolah Geliatkan Promosi Kota Solo

Sementara itu, praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah, mengapresiasi gerakan Solopolah sebagai spirit baru terus membangun Kota Solo.

“Saya sangat mengapresiasi positif gerakan kreatif Solopolah dan berharap, masyarakat Kota Solo dapat memberi dukungan berarti agar terus membesar dan berdampak signifikan bagi perekonomian Kota Solo,” tuturnya.

Praktisi Promosi Daerah, Albicia Hamzah. (Foto: Surakarta Daily)
Praktisi Promosi Daerah, Albicia Hamzah. (Foto: Surakarta Daily)

Albi berpendapat, semua elemen masyarakat bertanggung jawab pada desain pencitraan kreatif Kota Solo. Momentum gerakan Solopolah layak dijadikan perhatian khusus bagi masyarakat Solo. Setidaknya, pengorganisasian citra yang lebih rapi terhadap kelompok-kelompok kreatif akan semakin dapat meningkatkan konsolidasi efektif dalam berbagai bidang, sehingga tidak melahirkan gesekan-gesekan kepentingan temporal dan sektoral.

“Saya yakin, hadirnya gerakan Solopolah bukan tiba-tiba atau mungkin, pesanan beberapa kelompok semata. Solopolah hadir sebagai komitmen kota terhadap label kota kreatif di Indonesia. Di sisi lain, gerakan kreatif dari kelompok masyarakat dan semua kalangan di Kota Solo merupakan kebutuhan mendesak,” tutur Albi.

Apalagi, lanjutnya, diberlakukannya kewenangan lokal atas aset daerah semakin meninggikan friksi pemerintah nasional dan lokal yang harus segera dimediasikan dengan sebuah gerakan atau aksi nyata.

Meski demikian, ada catatan penting dari Albi. Baginya, Solopolah tidak akan pernah membumi jika hanya dimonopoli oleh kalangan tertentu atau elitis.

“Gerakan ini tidak akan pernah langgeng jika ditunggangi motif-motif politis. Selain itu, Solopolah tidak akan menemui titik puncak kreatifnya jika dibarengi dengan kepentingan-kepentingan pencitraan pribadi, bukan pencitraan kota secara kolektif,” pungkasnya.